Mengapa Banyak Perempuan Mempertahankan Hubungan Meski Kekerasan Selalu Ada?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 13 Juli 2018 19:22 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 13 196 1922067 mengapa-banyak-perempuan-mempertahankan-hubungan-meski-kekerasan-selalu-ada-A44RlKnIES.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

BERTAHAN demi cinta, meski raga tak lagi berdaya. Pernyataan ini bukan isapan jempol belaka. Masih banyak perempuan di negeri ini yang terkungkung dalam hubungan percintaan berbumbu kekerasan. Tak jarang juga dari mereka yang akhirnya rela bungkam hanya demi alasan cinta.

Seperti yang terjadi pada Ninin Damayanti. Perempuan ini merupakan penyintas (survivor) kekerasan dalam rumah tangga. Dalam wawancaranya dengan BBC News Indonesia, Ninin mengungkapkan bagaimana dirinya harus rela tersakiti secara jiwa raga dan itu terjadi tak hanya hitungan hari.

"Saya dipukuli, kepala dibenturkan ke kusen jendela depan rumah sampai babak belur, lalu dijongkrokin ke taman sampai jempol kiri patah," kenang Ninin.

Kejadian ini dia terima dari suaminya beberapa tahun lampau. Bahkan, sebelum kejadian tersebut, masih banyak deretan kekerasan yang dilakukan sang suami kepada Ninin.

"Tapi, ada pemaafan, saya berpikir dia bisa berubah, kok. Dia akan menjadi orang baru," ungkap Ninin berharap.

 (Baca Juga:Benarkah Suami Rentan Selingkuh saat Istri Hamil?)

Namun, selama empat tahun hidup dalam perasaan was-was, harapan itu hanya angan. Dia memilih bertahan dengan alasan keluarga. "Saya tahu, KDRT itu siklus, saya khawatir itu akan terulang lagi tapi (saya berpikir) jalani saja, jalani saja karena faktor keluarga, anak," katanya.

 

Mimpi buruk itu pun hadir. Kekhawatiran Ninin terwujud dalam bentuk penyiksaan yang bisa dikatakan lebih sadis.

"Badan dilempar-lempar tidak karuan, ditarik, dijambak, dijedotin lagi sampai kena pot. Kira-kira itu yang saya ingat, sampai di rumah adik, baru saya melihat kok badan lebam-lebam biru, kepala berdarah, kaki benjut nggak bisa jalan," papar Ninin.

Saat kejadian itu terjadi, Ninin bisa berlari dan mengunci diri di kamar sambil menelepon adiknya untuk datang menjemput. Tak hanya itu, tetangga memanggil satpam untuk menghentikan suaminya (kala itu) yang berusaha mendobrak pintu.

Sejak saat itu, Ninin bulat dalam keputusannya; Pergi dari hubungan dengan kekerasan. "Saya memutuskan kalau dulu sudah pernah kejadian, dan ini kejadian lagi, maka besok akan terulang lagi, karena orang nggak akan berubah. Akhirnya aku memutuskan, cukup, ya, tidak mau lagi," katanya.

 (Baca Juga:Orang Harus Menguasai Seni Bela Diri, Ini Kata Iko Uwais soal Manfaatnya)

Di lain sisi, Direktur Rifka Annisa Women's Crisis Suharti menjelaskan bawa ada banyak perempuan tetap bertahan dalam hubungan yang penuh dengan kekerasan dengan berbagai alasan.

"Korban kekerasan mengalami dinamika psikologis yang luar biasa sehingga orang kadang heran, kenapa sih dia bisa berulang kali mengalami kekerasan tapi tetap memilih untuk berada dalam hubungan itu?" kata Suharti dihubungi BBC News Indonesia.

Mengenai kasus kekerasan dalam hubungan, Rifka Annisa mencatat bahwa ada sekitar 350 laporan kekerasan per tahun. Tapi, tentunya jumlah itu bukan gambaran secara konkrit kasus ini. Ya, salah satunya karena tidak mau melapor.

Padahal, pelaporan itu bisa dilakukan ke lembaga layanan seperti polisi, pemuka agama, mau pun lembaga bantuan hukum dan psikologis.

Fakta di lapangan mengungkapkan bahwa hanya sedikit sekali perempuan yang berani angkat bicara. Kasus di Papua bisa menjadi contohnya. Di sana, hanya 7 persen perempuan korban KDRT yang mau melaporkan pasangannya ke polisi. Sementara itu, di Sleman, Yogyakarta, yang berani bicara dan mencari bantuan hanya 2 persen. Sisanya bagaimana? "Sisanya diam," tegas Suharti.

Kembali ke kasus Ninin. Dia pun awalnya memilih diam. Padahal, jika kasus ini dibawa ke ranah hukum, bukti kuat dari hasil visum dokter sudah di tangan Ninin.

"Akhirnya tidak ke polisi karena masih kasihan, keluarganya gimana, ya. Kedua, saya tahu polisi Indonesia seperti apa, yang ada saya malah jadi korban kedua kalinya karena akan dihakimi," terang Ninin.

Ninin menjelaskan bahwa ketika Anda memutuskan untuk lapor polisi, yang terjadi malah waktu Anda tersita banyak dan tenaga terkuras habis. Sebab, proses panjang harus Anda lalui. "Siapa yang bisa bantu saya?" sambungnya.

Akhirnya, keputusan mengakhiri hubungan bulat dia kantongi. Perceraian itu dia pilih sebagai jalan keluar terbaik dan tentunya dengan perwalian anak ada di tangannya.

Kembali bicara mengenai "memilih diam", Suharti memaparkan, berbagai riset menemukan bahwa lembaga layanan seperti polisi dan pemuka agama justru mendorong perempuan untuk kembali dengan pasangannya. Itu berarti, perempuan harus membuka kembali pintu kesengsaraan dan siap menerima hantaman kapan saja.

Bicara mengenai alasan diam, menurut data yang ada, alasannya beragam. Suharti coba memaparkannya; Alasan pertama adalah ketergantungan ekonomi pada pasangan. Kedua, takut mendapat stigma dari masyarakat kalau keluarganya bukan keluarga baik, kalau dia tak mampu menjadi istri yang baik, bahwa dia tidak mampu menjaga keluarganya," papar Suharti.

Namun, alasan yang paling banyak diungkapkan adalah "demi anak". Banyak dari korban kekerasan yang akhirnya diam karena takut anaknya tidak memiliki sosok ayah lagi. Takut nantinya hal itu akan melukai hati sang anak. Serta, banyak hal lainnya yang terkait dengan anak.

Ingat! Anda tidak sendiri. Jika Anda membutuhkan bantuan, Ninin dan penyintas lainnya siap mendampingi Anda. Ninin bisa dihubungi melalui WhatsApp 081381029206. sedangkan Rifka Annisa (aktif 24 jam) dapat dihubungi di nomor telepon 085799057765 atau 085100431298.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini