nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tradisi Kirekat, Simbol Orang Mentawai yang Tidak Pernah 'Mati'

Rus Akbar, Jurnalis · Rabu 18 Juli 2018 06:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 17 406 1923531 tradisi-kirekat-simbol-orang-mentawai-yang-tidak-pernah-mati-3B3b28QyTM.jpg Tradisi Kirekat di Mentawai (Foto:Rusakbar)


SIANG itu cuaca tampak mendung di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Tampak belasan anak muda dan orang tua yang sudah lansia dilengkapi dengan pakaian adat ritual masyarakat Mentawai, berdiri di sebuah batang durian yang sudah dirobohkan oleh alat berat di dekat jalan yang baru dibuka.

Dirobohkannya salah satu batang durian yang memiliki kesakralan bagi orang Mentawai, lantaran pemerintah setempat sedang gencar-gencarnya membuka jalan Trans Mentawai, menghubungkan antar desa dan kecamatan di Pulau Siberut.

Daniel Sabulukkungan (71) atau lebih akrab disapa Toggilat (Nama khas Mentawai), merupakan salah satu kerumunan tersebut menatap pohon durian dengan diameter sekira 60 sentimeter dengan wajah lesuh. Tatapannya begitu dalam. Perlahan Daniel menghampiri pohon tersebut.

Tangan lelaki 71 tahun yang biasa disapa teteu (kakek) ini terlihat memegang secarik kain kecil berwarna kuning. Dia terus berucap sambil menghadap ke akar pohon yang terjungkit ke luar. Secarik kain dia taruh di ujung akar, dan mengambil daun tadi lalu diusapkan ke batang pohon sembari terus mengucapkan mantra.

 

“Ini ditumbangkan orang karena membangun jalan,” katanya. Kemudian, Daniel memegang pohon itu, ia berkata “Anak saya di sini dua orang. Satu lagi Abang saya,” jelasnya.

Tidak begitu lama, Stefanus atau yang dikenal Teu Sanang salah satu kerei (tabib) membawa beberapa dedauanan dan satu potong batang bambu berisi air, lalu dia mendekati Daniel.

Teu Sanang mulai memilih dedaunan yang ia bawa sambil mengucapkan mantra dalam bahasa Mentawai. Lalu, dedauanan yang telah dipilih Teu Sanang, tangkainya dimasukkan kedalam bambu. Ritual Pasineinei Mone (Permintaan maaf), dimulai.

Terakhir dia memercikkan air dalam bambu ke akar hingga batang pohon dan ke rombongan yang ikut ke lokasi itu. Dalam kepercayaan Mentawai (arat Sabulungan) setiap makhluk hidup punya jiwa atau roh, terlebih yang terpilih sebagai kirekat.

 BACA JUGA:

5 Wanita Ini Pegang Rekor Karena Penampilannya yang Unik

Kirekat merupakan ukiran telapak kaki, telapak tangan dan postur tubuh kerabat yang sudah meninggal di pohon durian. Pembuatan kirekat bertujuan untuk mengenang mereka yang sudah meninggal. Hingga saat ini, sebagian besar masyarakat Mentawai yang bermukim di Pulau Siberut, pembuatan kirekat masih dilakukan.

 

Kirekat tersebut, biasanya dibuat di pohon Durian yang bagus, subur dan berbuah lebat. Jika sudah dijadikan kirekat, maka pohon tersebut tidak boleh dijadikan Alat Toga (mas kawin), dijual apalagi ditebang. Karena, dalam adat Mentawai, salah satu mas kawin yang diberikan itu adalah pohon durian.

Pembuatan Kirekat dilaksanakan setelah upacara penguburan, ukuran telapak kaki, tangan dan postur tubuh diukir di kulit pohon sagu, yang digambar menggunakan pena atau spidol serta alat tulis yang dapat dijadikan untuk menggambarkannya.

Setelah ukiran itu selesai, maka anggota suku akan beramai-ramai mendatangi pohon durian yang telah dipilih, lalu mengukirnya menggunakan pahat atau parang.

Bagi orang Mentawai, Kirekat merupakan barang yang sangat berharga. Pantangan bagi mereka merusak, apalagi menebang kirekat tersebut. Jika ada yang merusak atau menebangnya, maka orang tersebut akan ditulou (didenda).

Tak hanya pohon durian saja dijadikan kirekat, tetapi pohon kelapa juga bisa dibuat kirekat, tentu pohon kelapa yang bagus, berbuah lebat. Meski dijadikan kirekat namun kalaupun berbuah pohon-pohon yang dijadikan kirekat itu bisa juga diambil buahnya untuk kebutuhan.

Selain ada simbol tangan dan kaki di kirekat tersebut, penanda pohon durian atau kelapa itu sebagai kirekat, maka disekeliling pohon tersebut ditanaman tanaman surak (puring).

BACA JUGA:

Video Bocah Joget Ini Bikin Netizen Bingung, Antara Nangis atau Seneng Sih?

Sesudah ritual dilakukan, Toggilat menghela napas panjang, kemudian menuturkan penebangan kirekat milik suku Sabulukungan oleh Dinas Pekerjaan Umum untuk membuka jalan trans Mentawai, , mereka (anggota suku-red) tidak diberitahu. “Kami tidak tahu, ketika saya datang kesini, pohon itu sudah tumbang. Saya laporkan ke pemerintah desa dan kecamatan, mereka juga tidak tau katanya,” tuturnya.

 

Meskipun kirekat milik suku Sabulukungan tumbang karena pembukaan jalan, dinas terkait akan tetap dikenakan denda. “Iya, akan kami denda, ada sepuluh macam dendanya, itu harus mereka bayar,” jelas Toggilat.

Seharusnya orang Mentawai dan mereka yang bekerja di pemerintahan tahu dengan hal ini. Ini adat dan budaya kita, jangan dilupakan. “Kalau membuat jalan itu, atau lainnya, cari tahu dulu, tanya dulu, jangan asal saja,” katanya.

Denda itu sudah dibayarkan oleh dinas PU sekira Rp2 juta satu batang pohon durian tersebut. “Menebang atau merobohkan kirekat ini sama saja membunuh kerabat kami, dan meninggal yang kedua kali. Kirekat ini sebagai tanda bahwa mereka tidak meninggalkan kami, mereka ada bersama kami dan kami terus mengenangnya. Biarkan pohon durian itu mati sendirinya tidak boleh diapa-apakan," tutur Toggilat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini