nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tradisi Kirekat, Simbol Orang Mentawai yang Tidak Pernah 'Mati'

Rus Akbar, Jurnalis · Rabu 18 Juli 2018 06:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 17 406 1923531 tradisi-kirekat-simbol-orang-mentawai-yang-tidak-pernah-mati-3B3b28QyTM.jpg Tradisi Kirekat di Mentawai (Foto:Rusakbar)

Setelah ukiran itu selesai, maka anggota suku akan beramai-ramai mendatangi pohon durian yang telah dipilih, lalu mengukirnya menggunakan pahat atau parang.

Bagi orang Mentawai, Kirekat merupakan barang yang sangat berharga. Pantangan bagi mereka merusak, apalagi menebang kirekat tersebut. Jika ada yang merusak atau menebangnya, maka orang tersebut akan ditulou (didenda).

Tak hanya pohon durian saja dijadikan kirekat, tetapi pohon kelapa juga bisa dibuat kirekat, tentu pohon kelapa yang bagus, berbuah lebat. Meski dijadikan kirekat namun kalaupun berbuah pohon-pohon yang dijadikan kirekat itu bisa juga diambil buahnya untuk kebutuhan.

Selain ada simbol tangan dan kaki di kirekat tersebut, penanda pohon durian atau kelapa itu sebagai kirekat, maka disekeliling pohon tersebut ditanaman tanaman surak (puring).

BACA JUGA:

Video Bocah Joget Ini Bikin Netizen Bingung, Antara Nangis atau Seneng Sih?

Sesudah ritual dilakukan, Toggilat menghela napas panjang, kemudian menuturkan penebangan kirekat milik suku Sabulukungan oleh Dinas Pekerjaan Umum untuk membuka jalan trans Mentawai, , mereka (anggota suku-red) tidak diberitahu. “Kami tidak tahu, ketika saya datang kesini, pohon itu sudah tumbang. Saya laporkan ke pemerintah desa dan kecamatan, mereka juga tidak tau katanya,” tuturnya.

 

Meskipun kirekat milik suku Sabulukungan tumbang karena pembukaan jalan, dinas terkait akan tetap dikenakan denda. “Iya, akan kami denda, ada sepuluh macam dendanya, itu harus mereka bayar,” jelas Toggilat.

Seharusnya orang Mentawai dan mereka yang bekerja di pemerintahan tahu dengan hal ini. Ini adat dan budaya kita, jangan dilupakan. “Kalau membuat jalan itu, atau lainnya, cari tahu dulu, tanya dulu, jangan asal saja,” katanya.

Denda itu sudah dibayarkan oleh dinas PU sekira Rp2 juta satu batang pohon durian tersebut. “Menebang atau merobohkan kirekat ini sama saja membunuh kerabat kami, dan meninggal yang kedua kali. Kirekat ini sebagai tanda bahwa mereka tidak meninggalkan kami, mereka ada bersama kami dan kami terus mengenangnya. Biarkan pohon durian itu mati sendirinya tidak boleh diapa-apakan," tutur Toggilat.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini