nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Burberry Bakar Produknya yang Tak Laku, Nilainya Capai Miliaran Rupiah!

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 20 Juli 2018 21:44 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 20 194 1925243 burberry-bakar-produknya-yang-tak-laku-nilainya-capai-miliaran-rupiah-9bf7UN0cbR.jpg Burberry. (Foto: Reuters)

PERUSAHAAN mode dituntun untuk selalu mengupdate model-model busana yang mereka keluarkan. Sayangnya, tidak semua produk yang dikeluarkan laku di pasaran.

Lantas bagaimana dengan produk yang tidak bisa diterima pasar dengan baik? Jika memang tidak diterima pasar, biasanya para produsen busana tersebut rela menghancurkan produk mereka, demi menjaga nama baik.

Contoh saja, Burberry yang membakar pakaian, perhiasaan serta parfum yang tidak terjual. label fesyen kelas atas Inggris ini diperkirakan menghancurkan produk mereka senilai 28,6 juta poundsterling atau Rp539 miliar tahu lalu, demi melindungi mereknya. Tercatat, dalam lima tahun terakhir label ini telah menghancurkan produknya mencapai 90 juta poundsterling atau Rp1,6 triliun.

Perusahaan fesyen, termasuk Burberry, selalu menghancurkan produk yang tidak diinginkan untuk mencegah barang tersebut dicuri atau dijual murah. Burberry menyatakan energi pembakaran produk itu disimpan agar tindakan tersebut ramah lingkungan.

"Burberry memiliki proses berhati-hati untuk mengurangi jumlah kelebihan simpanan barang yang diproduksi. Ketika pembuangan produk harus dilakukan, kami melakukannya secara bertanggung jawab dan terus mencari cara untuk mengurangi dan menilai ulang limbah kami," kata juru bicara perusahan.

Baca Juga: Ganti Model Rambut, Nagita Slavina Mirip Cewek Korea!

Image result for Burberry, reuters

Selain itu, mereka juga membakar banyak parfum setelah menandatangni kontrak baru dengan perusahaan AS, Coty. Ketika Coty membuat persediaan baru, Burberry harus membuang produk baru, sebagian besar parfum, senilai 10 juta poundstering atau Rp188 miliar.

Dalam beberapa tahun terakhir, Burberry berusaha keras membuat mereknya kembali menjadi eksklusif, setelah melewati tahap dimana para pemalsu "menaruh nama Burberry di barang apapun", kata Maria Malone, pengajar bisnis fesyen di Manchester Metropolitan University.

"Alasan mereka melakukan hal ini agar pasar tidak dibanjiri barang diskon. Mereka tidak menginginkan produk Burberry jatuh ke tangan orang-orang yang menjual dengan potongan harga sehingga merusak merek," kata Malone.

Tim Jackson, pimpinan British School of Fashion, Glasgow Caledonian University, London mengatakan perusahaan fesyen mewah seperti Burberry menghadapi "masalah".

Mereka harus tumbuh tetapi dengan risiko "melemahkan jati diri dan menciptakan stok berlebih. Mereka tidak akan bisa mengatasi masalah ini," jelas dia.

Baca Juga: 6 Perempuan Ini Punya Pantat Super Semok, Kepo Ingin Lihat?

  Image result for Burberry, reuters

Burberry bukanlah satu-satunya perusahaan yang harus mengatasi surplus barang mewah. Richemont, pemilik merek Cartier dan Montblanc, harus membeli kembali jam senilai 430 juta poundsterling atau Rp8,1 triliun dalam dua tahun terakhir.

Sekadar informasi, pada tahun lalu Burberry mencatat kenaikan keuntungan sebesar 5 persen menjadi 413 juta poundstering atau Rp7,7 triliun, dengan angka penjualan yang tidak terlalu berubah pada 2,7 miliar poundsterling atau Rp50,9 triliun.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini