nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kampanye Pengurangan Sedotan Plastik Dikritik Keras oleh Kaum Disabilitas

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 20 Juli 2018 15:43 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 20 481 1925077 kampanye-pengurangan-sedotan-plastik-dikritik-keras-oleh-kaum-disabilitas-GoYUcY77YD.jpg Ilustrasi (Foto: Videoblocks)

ISU lingkungan kini tengah menjadi perhatian dunia. Setelah McDonald's, belum lama ini Starbucks mengumumkan bahwa mereka telah mengurangi penggunaan sedotan plastik pada setiap produk minumannya.

Secara sederhana, para barista tidak akan memberikan sedotan kepada pengunjung, kecuali jika mereka memintanya langsung. Pasalnya, samplah plastik seperti sedotan dianggap berbahaya bagi lingkungan, terutama laut, mengingat benda tersebut tidak dapat terurai.

Keputusan ini pun mendapatkan sambutan positif dari berbagai pihak di seluruh dunia. Mereka menilai bahwa langkah yang diambil Starbucks dan McDonald's secara tidak langsung berkontribusi dalam mengurangi produksi sampah plastik yang kian tak terbendung.

 (Baca Juga:6 Potret Cantiknya Paula Verhoeven, Model yang Siap Dinikahi Baim Wong)

Namun sayangnya, kampanye positif ini dianggap tidak adil bagi para penyandang disabilitas. Selain itu, tak sedikit pula orang yang mempertanyakan efisiensi dari kampanye pengurangan sedotan plastik tersebut.

 

Sebagai gambaran, dalam skema besar, sedotan menyumbang sekitar 2.000 ton dari total 9 juta ton sampah plastik, atau sekitar 0,02% dari total keseluruhan. Akankah larangan penggunaan sedotan plastik ini setimpal daripada memenuhi kebutuhan para penyandang disabilitas?

Imani Barbarin, seorang penulis sekaligus penyandang disabilitas mengatakan kepada Metro, Jumat (20/7/2018), ia menganggap bahwa keputusan tersebut merupakan langkah yang sangat diskriminatif bagi kaum disabilitas.

"Sedotan itu awalnya digunakan oleh rumah sakit dan merupakan fasilitas perawatan untuk menjaga pasien agar tetap terhidrasi. Alat ini kemudian dipopulerkan oleh toko-toko makanan dan restoran cepat saji," tutur Imani.

Ia menambahkan, pada dasarnya orang-orang 'normal' hanya menggunakan sedotan untuk alasan komersial, dan sekarang mereka mencoba membatasi akses tersebut karena alasan lingkungan.

 (Baca Juga:Ini Dia Dukagjin Lipa, Ayah Dua Lipa yang Tampannya Bikin Salah Fokus)

"Secara realistis, melarang penggunaan sedotan tidak akan membawa perubahan yang signifikan. Namun justru membuat orang-orang penyandang disabiltas terisolasi dan terlupakan. Larangan tersebut membuktikan bahwa selama ini para pembuat kebijakan tidak pernah memikirkan para penyandang disabilitas sama sekali," tegasnya.

 

Imani mengatakan, orang-orang normal tentu tidak akan keberatan jika sedotan plastik tidak lagi digunakan, karena itu tidak banyak berpengaruh pada kehidupan sehari-hari mereka. Sebaliknya, kebijakan ini bisa sangat berarti bagi mereka yang tidak bisa menggunakan tangan dan harus bergantung pada seseorang atau pengasuh.

"Semua alternatif ini sangat problematik dan menciptakan situasi di mana nasib para penyandang disabilitas berada di tangan orang lain," jelasnya.

Sementara itu, kertas sedotan yang dijadikan alternatif dianggap tidak berfungsi secara maksimal karena mudah robek, dan sangat berbahaya karena bisa membuat seseorang tersedak.

"Beberapa orang juga alergi ketika menggunakan sedotan kertas. Bentuknya juga tidak proporsional dan tidak dapat menjaga suhu minuman dengan baik. Sementara itu, sedotan berbahan logam, bambu, dan silikon juga memiliki risiko yang cukup tinggi, dan tidak dapat menahan susu tertentu," tukas Imani.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini