Pantau Zat Besi pada Anak, Jangan Sampai Terkena Anemia!

Tiara Putri, Jurnalis · Minggu 22 Juli 2018 22:12 WIB
https: img.okezone.com content 2018 07 22 481 1925794 pantau-zat-besi-pada-anak-jangan-sampai-terkena-anemia-AV3VEGoIvK.jpg Merck Pedriatic Forum 2018 (Tiara Putri/Okezone)

ANEMIA merupakan penyakit yang cukup umum di dunia. Tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anemia juga bisa menyerang anak-anak. Anemia adalah suatu kondisi yang membuat jumlah sel darah merah atau konsentrasi pengangkut oksigen dalam darah (Hb) tidak mencukupi kebutuhan fisiologis tubuh.

Berdasarkan laporan Anemia Convention 2017, prevalensi anemia di Asia Tenggara dan Afrika mencapai 85% dimana lebih sering menyerang perempuan dan anak-anak. Paling tidak sebanyak 202 juta perempuan di Asia dengan rentang usia 15-49 tahun terjangkit anemia. Sementara secara global sebanyak 41,8% ibu hamil serta hampir 600 juta anak usia prasekolah dan usia sekolah menderita anemia.

 Baca juga: Terciduk Anak saat Berhubungan Seks, Segera Lakukan 5 Trik Ini

Cek darah (Shutterstock)

Penyebab utama anemia adalah kurangnya zat besi di dalam tubuh. Padahal zat besi memiliki peran penting untuk menjalankan fungsi tubuh. Zat besi membantu mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh melalui aliran darah, memengaruhi sistem kekebalan, syaraf, serta membantu pembentukan selaput mirin pada sistem syaraf.

Anemia sering ditandai dengan kehilangan selera makan, sulit fokus, penurunan sistem kekebalan tubuh, gangguan perilaku seperti 5L (lesu, lemah, letih, lelah, lunglai), wajah pucat, dan kunang-kunang. Pada anak-anak, hal ini dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Mulai dari kemampuan motorik, bicara, memori, problem solving, dan kreativitas. Sayangnya orangtua seringkali tidak menyadari gejala anemia pada anak sehingga terlambat menyadarinya.

 Baca juga: Viral Aksi Pedangdut di Acara Nikahan, Beringas Banget!

"Anemia Defisiensi Besi (ADB) merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi pada anak-anak. Komplikasi jangka panjang ADB dapat meliputi gangguan sistem kardiovaskular, sistem imun, gangguan perkembangan, psikomotor, serta kognitif. Anemia sendiri dapat disembuhkan, namun komplikasi yang timbul dapat bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki," papar dr Murti Andriastuti, Sp.A(K) selaku Ketua Satuan Tugas Anemia Defisiensi Besi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) saat menghadiri Merck Pediatric Forum 2018, Jakarta, Minggu (22/7/2018).

 anak (Shutterstock)

Lebih lanjut dirinya menjelaskan bila ada 3 tahapan seorang anak mengalami defisiensi atau kekurangan zat besi. Tahap pertama secara klinis anak masih terlihat sehat dan jumlah Hb masih normal, tapi kadar deposit besi sudah mulai turun. Tahap kedua mulai terjadi kekurangan zat besi walaupun jumlah Hb masih normal. Tapi kadar zat besi yang beredar di dalam tubuh sudah berangsur turun. Kondisi inilah yang kemudian memengaruhi tumbuh kembang anak.

 Baca juga: Turunkan Berat Badan Tanpa Olahraga, Ini 10 Caranya

Pada tahap ketiga, bila kadar zat besi yang beredar terus menerus turun, lama kelamaan bisa terjadi penurunan jumlah Hb karena tidak ada lagi zat besi yang digunakan untuk produksi sel darah merah. Di tahap inilah gejala seperti wajah pucat mulai terlihat. "Kalau (wajah) pucat sebenarnya sudah terlambat. Sayangnya ketika masih di tahap awal defisiensi besi tidak ada tanda-tanda," terang dr Astuti.

Untuk menyiasati hal ini, Dr Astuti memberikan saran yaitu pemberian suplementasi zat besi yang sebaiknya dilakukan sejak dini. Hal itu guna mencegah kekurangan zat besi menjadi anemia. Pemberian suplementasi dapat diperoleh dari makanan seperti daging merah atau tablet penambah darah. Pada remaja putri, sebaiknya rutin konsumsi penambah darah saat mengalami menstruasi.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini