nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Eksis di Dunia Maya, Anak-Anak Bakal Alami Hal Buruk Seperti Ini

Agregasi Antara, Jurnalis · Senin 23 Juli 2018 11:04 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 23 196 1925948 eksis-di-dunia-maya-anak-anak-bakal-alami-hal-buruk-seperti-ini-shcYhtTVbG.jpg

JAKARTA - Sudah jamak terlihat, anak-anak berbagai usia terlihat menggenggam gawai. Sebagian besar bahkan eksis di dunia maya (dumay) dan walhasil harus mengalami hal-hal tak menyenangkan.

Cyber bullying atau perundungan di dunia maya, menjadi salah satu dampak negatif dari perkembangan teknologi digital. Belum lagi eksploitasi anak dengan berbagai modus di dunia digital, seperti pornografi, perdagangan anak hingga kekerasan dan pelecehan seksual.

Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N Rosalin mengatakan, dampak buruk penggunaan gawai di kalangan anak-anak harus dicegah, meskipun di sisi lain gawai juga memberikan dampak yang baik.

“Kami sedang membahas kemungkinan regulasi bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama dan Kementerian Komunikasi dan Informatika tentang penggunaan gawai di satuan pendidikan,” kata Lenny.

Mengapa penggunaan gawai di sekolah harus dibatasi? Menurut Lenny, delapan jam atau sepertiga hidup anak berada di sekolah. Karena itu, perlu ada regulasi untuk menyelamatkan sepertiga hidup anak di sekolah dari dampak buruk gawai.

Namun, Lenny mengatakan sepertiga hidup anak juga berada di keluarga. Karena itu, keluarga juga harus berperan mengawasi dan mendampingi anak dalam menggunakan gawai untuk mencegah dampak negatifnya.

Seringkali, keluarga atau orang tua membiarkan anak menggunakan gawai tanpa pengawasan. Bahkan kadang sengaja memberikan gawai tanpa memikirkan dampak buruk bila anak sudah ketagihan.

Lenny mengatakan penggunaan gawai tanpa pengawasan dan pendampingan keluarga bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak. Akses terhadap gawai yang tanpa batas bisa mengabaikan waktu belajar dan komunikasi dengan lingkungan sekitarnya.

”Kalau sudah ketagihan, anak bisa asyik sendiri dengan gawainya. Karena itu, orang tua juga harus berperan mengawasi anak-anak dalam menggunakan gawai,” katanya.

(Baca Juga: 6 Orang Ini Punya Bagian Tubuh Tambahan, dari 2 Muka hingga 16 Jari Kaki)

Media Sosial

Terkait penggunaan media sosial, peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Muhammad Alie Humaedi mengatakan usia anak belum saatnya menunjukkan keberadaan atau eksistensinya di media sosial atau aplikasi digital karena mentalnya belum stabil.

“Seseorang perlu stabilitas mental saat menunjukkan eksistensinya di media sosial. Anak yang belum stabil, mentalnya bisa jatuh saat menerima perundungan di media sosial,” kata Alie.

Alie mengatakan perundungan secara virtual di media sosial atau aplikasi digital sangat berbahaya bagi anak dan akan terasa lebih menyeramkan karena tidak terlihat bentuknya secara nyata.

Perundungan secara virtual akan selalu terekam di ingatan anak. Padahal dari segi umur, dia belum siap menerima tekanan dari perundungan seperti itu.

Menurut Alie, perundungan yang dilakukan di dunia nyata dampaknya tidak sekuat perundingan virtual. Di dunia nyata anak masih mungkin bisa melihat sisi baik dari seseorang yang merundungnya, satu hal yang tidak akan terjadi di dunia digital.

Karena itu, orang tua seharusnya tidak membiarkan anak di bawah umur mengakses media sosial atau aplikasi digital lain yang memiliki kemungkinan dampak buruk terhadap anak.

(Baca Juga: Jangan Sepelekan Kesepian, Dampaknya Mematikan) 


Bila orang tua mengizinkan anaknya beraktivitas secara virtual di media sosial, maka mereka harus mengawasi anak-anaknya secara ketat. “Memata-matai atau stalking menjadi hal penting bagi orang tua dalam mengendalikan anak-anaknya bermedia sosial. Merupakan kewajiban orang tua untuk Merupakan kewajiban orang tua untuk mengasuh, membina dan mengawasi anak-anaknya,” katanya.

Di sisi lain, Alie juga menyarankan orangtua tidak memaksakan anak untuk menunjukkan keberadaan atau eksistensi di media sosial. “Ada waktunya anak akan menunjukkan eksistensinya, baik di dunia nyata maupun secara virtual. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik,” tuturnya.

Karena itu, menanggapi fenomena beberapa orang yang membuatkan anak-anaknya akun media sosial, Alie justru mempertanyakan apa tujuannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini