nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Anak Mulai Suka Memukul? Moms, Ini Cara Menghadapinya

Agregasi Sindonews.com, Jurnalis · Selasa 24 Juli 2018 09:44 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 24 196 1926435 anak-mulai-suka-memukul-moms-ini-cara-menghadapinya-RFy3oxvweR.jpg Cara menghadapi anak yang suka memukul (Foto:Ist)

RASA egosentris yang tinggi wajar dimilik anak usia balita. Kerap dalam perkembangannya, sifat ini dibarengi dengan perilakunya yang suka memukul, menendang, dan berteriak. Namun tetap harus ada batasan kapan sifat ini bisa ditoleransi.

Menurut psikolog anak Bonnie Monte, hal ini hanya dapat ditoleransi sampai ia berusia lima tahun.

“Pada masa tersebut anak masih memiliki rasa egosentris yang tinggi,” kata Monte. Meskipun wajar bagi balita, sebagai orang tua, Anda juga perlu waspada. Sebaiknya jangan membiarkan perilaku ini tanpa pengarahan dan pengawasan. Apabila anak tidak segera diberi pengertian, jangan salahkan dia jika akhirnya berkembang dengan perilaku yang tidak berubah. Untuk pendekatan yang dilakukan, baiknya bersifat praktis dan mudah dimengerti. Menurut Monte, jangan terlalu sering menggunakan kata “tidak” untuk menghentikan perilakunya.

BACA JUGA:

 Penuhi Asupan Otak dan Mental dengan 5 Makanan Ini, Jangan Sampai Jadi Lemot!

Semakin sering Anda melarang, maka ia akan semakin tertantang untuk melanggar peraturan itu. Sebaliknya buat ia berpikir untuk enggan berbuat onar dengan mengatakan, jika memukul teman, jangan marah jika ia memukul balik. Anda juga bisa menerapkan sistem penghargaan dan hukuman.

Jika ia tidak berbuat nakal, maka beri ia pujian misalnya. Dan beri hukuman bila ia melakukan kenakalan. Hukuman yang paling baik untuk membuatnya “kapok” adalah melarangnya melakukan semua yang menjadi favoritnya. Misalnya, bila ia memukul teman atau tidak menurut perintah, laranglah kesukaannya menonton kartun atau membeli jajanan favorit.

 

Kendati anak suka memukul, belum tentu hal itu merupakan gejala hiperaktif. Sebab semua anak balita terlebih laki-laki, selalu aktif karena masih dalam taraf perkembangan. Nah yang dapat Anda lakukan untuk menghentikan kebiasaan ini di antaranya dengan mengamati apakah anak terpapar perilaku kekerasan, misalnya pengaruh televisi, game, CD, atau orang di sekelilingnya yang menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.

BACA JUGA:

7 Selebriti Cantik Ini Tak Ragu Pamerkan Bekas Luka di Tubuhnya

Jika ada, hindari paparan tersebut karena anak sangat mudah meniru. Apabila anak masih memiliki hambatan berbicara, sebaiknya segera konsultasi ke dokter anak. Karena problem interaksi atau komunikasi akan menyebabkan problem tingkah laku.

Sebaliknya jika anak sudah mengerti diajak bicara, Anda bisa membantu anak untuk mengungkapkan emosinya karena kemampuan bicara anak 15 bulan belum optimal sehingga tidak dapat mengungkapkan emosi dengan kata-kata. Beri contoh dan latih anak untuk mengungkapkan emosi dengan ekspresi yang sesuai, seperti memeluk atau bertepuk tangan untuk rasa senang, atau menangis untuk rasa sedih. Tunjukkan ekspresi wajah seseorang jika sedang marah.

Bila anak sedang marah, coba tanyakan kenapa dia marah, lalu bantu mencari penyelesaiannya. Beri tahu anak bahwa memukul karena iseng itu tidak baik dan tidak boleh dia lakukan. Kalau dia masih juga melakukannya, Anda dapat memberinya hukuman seperti tidak boleh menonton acara televisi kesenangannya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini