nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menpar: LCCT Senjata Baik untuk Capai Target Wisman 2018!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 26 Juli 2018 17:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 07 26 406 1927730 menpar-lcct-senjata-baik-untuk-capai-target-wisman-2018-SPTH05azqa.jpg Target wisman di 2018 (Foto:Plesiran)

PROYEK Low Cost Carrier Terminal (LCCT) menjadi sorotan menarik di Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata II Tahun 2018. Proyek ini diharapkan bisa menaikan jumlah wisatawan mancanegara.

Memiliki target 17 juta wisman di 2018, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata mengharapkan terwujudnya LCCT di Indonesia. Alasannya cukup jelas, proyek ini berpotensi meningkatkan kunjungan wisata turis mancanegara.

Seperti yang dijelaskan Menteri Pariwisata Arief Yahya, proyek LCCT ini bisa mendatangkan 3 juta wisman. Sedangkan, sejauh ini Indonesia masih berkutat dengan FSC yang mana pertumbuhannya kurang dari 5 persen. Sedangkan, target wisman di tahun ini pertumbuhannya harus menyampai 21 persen.

"Kalau mau tumbuh hingga 21 persen, jangan menggunakan 'kendaraan' yang lambat. Nah, LCCT ini bisa tumbuh sampai dengan 20 persen. Proyek ini bisa menjadi salah satu senjata untuk menaikan jumlah wisman di 2018," tegas Menteri Arief saat ditemui di kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Kamis (26/7/2018).

Dengan adanya LCCT, operasional airlines pun bisa ditekan. Tapi, kekhawatiran kemudian muncul di mana kalau bandara LCCT nanti kualitasnya menurun?

Menteri Arief menjelaskan bahwa tidak harus menurunkan spesifikasi teknis. LCCT bisa murah karena pendapatan terminal tidak hanya dari aero-nautical revenue pun dari airport tax.

BACA JUGA:

Kenalin Nih Tukang Sunat Tercantik Sedunia, Mau Disunat Lagi?

"Di LCCT ada restoran dan ada mal. Harus ada revenue stream dari aero-nautical. Perlu disadari juga, keuntungan paling besar itu dari kuliner. 50 persen keuntungan itu dari kuliner dengan gambaran begini model 100 ribu, orang kuliner bisa jual 150 ribu," papar Menteri Arief.

Sadar atau tidak, ketika orang sudah ada di airport, maka dia akan memanfaatkan semua layanan yang ada. Ketika mereka mau makan, maka pengunjung akan mencari makan di bandara itu saja. "Tidak mungkin kan Anda ketika di bandara lapar, dan Anda pindah bandara untuk menemukan restoran kesukaan Anda," ceeltuk Menteri Arief.

Proyek ini dianggap Menteri Arief sangat menarik bagi investor. "Bisnis di airlines itu namanya red ocean. Ya, persaingannya hancur-hancuran. Jarang sekali airlines itu untung, even Singapore Airlines. Tapi, pengelolaan airport sebaliknya. Karena satunya red ocean, satunya blue ocean. Satunya naturaly monopoly. Jangan hanya bisnis di airlines. Diawalnya pasti rugi. Tapi, sambung Menteri Arief, pikirkan ini; Tidak ada pilihan, kalau mendarat di Bajo mendarat di Bandara Komodo. Kalau Bali, ya, di Ngurah Rai," tambahnya.

 "Sekarang saya beri signal, kemungkinan pengelola airport bersedia untuk kerjasama dengan pihak pengelola airport. Airport business lebih menguntungkan daripada airlines business," ucap Menteri Arief.

BACA JUGA:

Nampang di Cover Vogue dalam 4 Versi, Sehun 'EXO' Cetak Rekor Penjualan Terlaris

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini