nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jangan Salah Paham Lagi, Anak Stunting Beda dengan Pendek Lho

Annisa Aprilia, Jurnalis · Kamis 26 Juli 2018 17:39 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 07 26 481 1927709 jangan-salah-paham-lagi-anak-stunting-beda-dengan-pendek-lho-AS5I9uf5lF.jpg Ilustrasi stunting (Foto: Stunting)

BEBERAPA waktu lalu istilah stunting kerap disamakan dengan tubuh pendek. Padahal, keduanya berbeda, meskipun sekilas nampak sama.

Stunting memang menunjukkan tinggi badan anak tidak seperti sewajarnya, karena nampak lebih pendek daripada tinggi badan anak-anak sebayanya. Namun, tubuh anak yang pendek tidak melulu karena stunting, karena bisa disebabkan oleh Growth Hormone Deficiency (GHD).

Menurut DR. Dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), FAAP, Ketua Umum IDAI Growth Hormone Deficiency (GHD) adalah suatu kondisi tubuh tidak dapat memproduksi hormon pertumbuhan dengan maksimal, sehingga mengakibatkan pertumbuhan anak menjadi tidak optimal. Anak-anak penderita defisiensi hormon pertumbuhan memiliki kondisi yang normal saat lahir, namun keterlambatan pertumbuhan baru terlihat beberapa tahun kemudian.

 BACA JUGA:

Jangan Buang Sisa Air Cucian Beras, Ini 9 Khasiatnya untuk Kecantikan

Saat ini, permasalahan GHD sebagai salah satu penyebab anak tumbuh pendek belum mendapat kesadaran yang cukup, angka kejadian defisiensi hormon pertumbuhan diestimasikan terjadi pada 1:4000 sampai 1:10.000 anak. Ada pemahaman orangtua, anak yang tumbuh tidak optimal hanya disebabkan oleh gizi yang tidak sempurna, padahal terapi yang terlambat dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan psikologis pada anak di masa mendatang sehingga diperlukan deteksi dini untuk menentukan terapi yang tepat.

 

"Kelainan hormon yang ada pada bapak dan ibu pendek itu tidak stunting, kelainan tulang pun tidak stunting. Hal ini jadi diributkan karena indikator pertumbuhan, indikator status kesehatan dan nutrisi, pertumbuhan anak dapat diprediksi milestone motorik, proyeksi sekolah, dan capaian dewasa," imbuh dokter Aman dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2018, Jakarta, Kamis (26/7/2018).

Lebih dalam bahasan dokter Aman, dia pun memberi contoh agar anak berbadab pendek, sehat, dan cerdas tidak disamakan dengan anak yang stunting, karena keduanya jelas berbeda. Contoh yang dokter Aman berikan adalah postur tubuh atlet, yang beraneka ragam, ada yang pendek dan tinggi, dan hal tersebut tidak memengaruhi prestasi yang dicapai.

"Pada atlet, badan paling tinggi bukan berarti yang paling hebat. Tinggi badan bukan segalanya," lanjutnya.

Masih dalam pemaparannya, dokter Aman menjelaskan pertumbuhan anak sebenarnya memiliki tempo masing-masing. Setiap anak berbeda walaupun satu keluarga, hal ini lah yang harus dimonitoring menurut dokter Aman.

 BACA JUGA:

Menteri Yohana Ungkap Bahaya Gunakan Gawai untuk Anak-Anak, Apa Saja Sih?

"Gangguan karena defisiensi hormon pertumbuhan juga bisa sebabkan masalah psikologi anak, tidak disadari oleh orangtua, sehingga anak-anak tidak mendapatkan terapi yang benar dan tepat waktu. Melalui media briefing ini semoga jadi sarana untuk tingkatkan kesadaran orangtua mengikuti tumbuh kembang anak, sebab kalau terlambat pengobatan tidak optimal dan berdampak dikemudian hari," tambah dr. Risa Anwar, Medical Director PT Merck Tbk.

(dno)

Berita Terkait

Stunting

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini