nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tingkat Kebahagiaan Pengaruhi Perkembangan Anak hingga Dewasa

Annisa Aprilia, Jurnalis · Jum'at 27 Juli 2018 17:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 27 196 1928219 tingkat-kebahagiaan-pengaruhi-perkembangan-anak-hingga-dewasa-nlUwBUKw0m.jpg Ilustrasi (Foto: Marianpulse)

ZAMAN sekarang pemandangan anak-anak sibuk bermain dengan gawai sudah biasa terlihat. Taman-taman bermain sepi, sementara anak-anak lebih nyaman bermain dengan gawai, menonton video di Youtube atau game online.

Tidak sepenuhnya salah memang, namun pemberian gawai pada anak-anak bisa membuat interaksi antara anak dengan orangtua berkurang. Padahal, interaksi ini dibutuhkan agar tumbuh kembang anak optimal dan orangtua mampu menjalin hubungan yang lebih hangat pada anak dan membuat anak bahagia.

Kebahagiaan anak tidak sekadar dari pemenuhan kebutuhan materi, sandang, dan pangan saja, tapi tingkat kebahagiaan anak pun penting. Sebab, kebahagiaan masa kanak-kanak punya pengaruh positif terhadap tumbuh kembang kognitif atau proses belajar, nilai diri, dan social skill serta karakter anak saat dewasa.

"Begitupun dengan tumbuh kembang aspek sosial emosional, anak yang bahagia sejak kecil memiliki peluang lebih besar untuk menjadi individu yang memiliki emosi positif dan memiliki kepuasaan hidup yang tinggi di masa dewasa kelak," jelas Elizabeth Santosa, M. Psi, Psi, SFP, ACC, dalam kesempatan Lactogrow Grow Happy, di Green House, Multivision Tower, Jakarta, Jumat, (27/7/2018).

Hal yang perlu diketahui lagi bagi orangtua menurut Elizabeth adalah tingkat kebahagiaan masa kanak-kanak yang harus dirasakan oleh anak, ternyata menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kebahagiaannya saat dewasa jika dibandingkan dengan sumber kebahagiaan lain, seperti keberhasilan akademik, jabatan pekerjaan, ataupun kekayaan.

"Pada awal 2018 lalu, kami melakukan sebuah studi untuk mencari tahu arti kebahagiaan keluarga. Hasilnya, kami menemukan anak merasa bahagia saat bermain bersama orangtua, bahkan lebih bahagia ketika bermain bersama adik atau kakaknya," tambah Gusti Kattani Maulani, Brand Manager Nestle Lactogrow.

keluarga bahagia

Studi tersebut juga mengungkap, saat menilai karakteristik kebahagiaan anak, kebanyakan orangtua hanya memperhatikan ciri fisik. Misalnya, saat anak menunjukkan ekspresi ceria dan aktif bergerak. Sedangkan, Menurut Myers & Diener (1995), kebahagiaan anak bukanlah kegembiraan sesaat saja, namun lebih kepada rasa nyaman, aman, dan diterima di lingkungan sosialnya.

Di sisi lain, untuk menjadi anak yang bahagia, anak-anak mesti mendapatkan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Kekurangan asupan nutrisi seimbang, dapat memengaruhi tumbuh kembang dan kebahagiaan anak.

"Anak yang mengonsumsi makanan bergizi lengkap dan seimbang akan memiliki saluran pencernaan yang sehat, sehingga dapat menyerap nutrisi dengan baik. Pada akhirnya, anak akan memiliki selera makan dan pola tidur yang baik, dapat menunjang untuk tumbuh dan berkembang secara lebih bahagia dan optimal," papar DR. Dr. Saptawato Bardosono, MSc, ahli gizi medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini