nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menjelajahi Gunung Sinai, Tempat Tuhan Menampakkan Dzat-Nya ke Nabi Musa

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 27 Juli 2018 23:28 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 27 406 1928473 menjelajahi-gunung-sinai-tempat-tuhan-menampakkan-dzat-nya-ke-nabi-musa-Ps1EspSrkr.jpg Biara Santa Katerina, diyakini sebagai tempat Semak Berapi, tempat Tuhan menampakkan dirinya pada Nabi Musa

MENJELAJAHI keindahan Gunung Sinai di Mesir, tempat di mana Tuhan menampakkan dzat-Nya ke Nabi Musa, bukanlah perkara mudah.

Jalur Pendakian Sinai disebut sebagai salah satu jalur pendakian terbaik di dunia oleh majalah Wanderlust dan mendapat penghargaan inisiatif turisme terbaik, 'Wider World' dari Asosiasi Penulis Perjalanan Inggris pada 2016.

Meski ada jalur pendakian lain yang lebih sulit dan lebih mencengangkan, tapi tak ada yang bisa menandingi kekayaan sejarahnya atau jalur yang dibangun di atas persahabatan yang unik.

Tak ada penanda yang bisa dilihat di gurun pasir, tapi Faraj Mahmoud tahu jalannya. Mahmoud adalah seorang pemandu kawakan dari suku Jebeleva yang tinggal di pegunungan. Dia memandu saya, di jalan yang berguncang-guncang menggunakan mobil 4x4, menuju Gurun Biru di Sinai Selatan, Mesir.

Kami bergerak menuju dataran yang dinamai dari batu-batu warna biru yang kini sudah pudar, yang dicat pada 1980 oleh seniman Belgia, Jean Verame, untuk menandai Perjanjian Perdamaian Mesir-Israel setahun sebelumnya.

Saya bergabung dengan sekelompok pendaki yang sudah mulai sejak delapan hari sebelumnya dari daerah pantai Nuweiba, melintasi dataran dua suku Bedouin, Tarabin dan Muzeina, di balik Jalur Sinai, jalur pendakian jarak jauh pertama di Mesir.

Saya siap menjalani jalur sepanjang 50 km menuju puncak 'Atap Mesir' yang dipandu oleh suku Jebeleva dan membentang antara puncak-puncak paling ikonik di Semenanjung Peninsula dan Biara Santa Katarina yang masuk dalam daftar UNESCO.

Setelah menanti sebentar di bawah matahari terik jelang siang, para pendaki pun muncul seperti fatamorgana dari batas cakrawala.

Suku Bedouin memang sudah sejak lama memandu para peziarah dari seluruh penjuru Sinai — orang-orang Islam yang akan menuju Makkah, dan orang-orang Kristen yang akan menuju Santa Katarina atau Yerusalem — dan setiap suku akan mengantarkan para peziarah ke suku lain di perbatasan.

"Lalu datanglah mobil dan pesawat, dan orang kemudian melupakan jalur ini," kata Mahmoud. Karena tak ada pekerjaan memandu, maka orang-orang Bedouin pun mencari pekerjaan di kota.

Jalur Sinai, yang merupakan perpaduan antara jalur ziarah, perdagangan dan penyelundupan, membalikkannya.

Puncak granit Gunung Sinai, penanda paling ikonik dari jalur itu, adalah tempat di mana Nabi Musa menerima 10 Perintah Tuhan, menurut Kitab Keluaran.

Di tempat itu jugalah di mana Ben Hoffler bertemu dengan Mahmoud. Hoffler adalah seorang pemuda Inggris lulusan geografi yang bersemangat untuk menjelajahi kawasan itu, sementara Mahmoud adalah seorang pekerja kasar yang terbiasa di luar dan sering menjadi pemandu film dokumenter BBC selama berpuluh tahun, yang mengenal Sinai jauh lebih baik daripada siapapun. Tanpa mereka sadari, duo ini kemudian merintis Jalur Sinai. Saya sudah dua kali mendengar soal kisah pertemuan mereka pada 2008 itu.

"Suatu hari saya berada di puncak Gunung Musa menunggu matahari terbit," kata Mahmoud, menyebut nama lain Gunung Sinai. "Saya melihat seorang pria yang mengambil begitu banyak foto, dan saya merasa orang ini punya sesuatu, seperti sesuatu yang hilang, dan saya merasa dia bisa membantu."

Tapi sesuatu itu tidak hilang, melainkan ditemukan; setelah lulus dari Universitas Oxford, Hoffler bekerja selama setahun di Kairo dan kemudian melakukan pencarian, setelah tak merasa tertarik dengan jalur kehidupan yang tipikal, seperti rumah dan keluarga. Lalu datanglah pencerahan di Gunung Sinai.

"Begitu saya melihat matahari terbit, ada sesuatu yang tersadar," kata Hoffler. "Saya harus kembali ke Sinai dan naik ke gunung lain. Tapi setiap kali saya sampai di satu puncak gunung, saya melihat ada tiga puncak lain yang ingin saya daki."

Pemandu Hoffler pada hari itu tampaknya makan gaji buta, karena Mahmoud yang terus-menerus menyela untuk menjawab banyak pertanyaan Hoffler tentang kawasan di sekitarnya.

Mereka bertukar nomor kontak dan bertemu untuk saling berbincang dan berjalan-jalan setiap kali Hoffler datang dari Kairo. Saat Hoffler akhirnya pindah ke Santa Katarina, yang muncul di sekitar biara bersejarah itu, ikatan mereka pun semakin kuat.

Ketertarikan Hoffler pada pegunungan itu kemudian menjadi semakin mendalam dengan cara hidup suku Bedouin. Dia kemudian menghabiskan satu dekade melakukan pendakian sepanjang 10.000 km sepanjang semenanjung tersebut (dan hasilnya adalah sebuah buku berjudul "Sinai — The Trekking Guide"). Dan sepanjang perjalanan itu, Mahmoud berada di sisinya atau mencari jalur yang bisa memuluskan perjalanan.

"Saya tidak yakin kenapa Faraj membantu saya," kata Hoffler yang terlalu malu untuk bertanya. "Mungkin dia melihat ada kemiripan pada diri kami."

Setelah Arab Spring pada 2011, turisme di Sinai pun jatuh, dan ini menjadi kekhawatiran besar bagi Hoffler dan Mahmoud. Mahmoud merasa para pemandu Bedouin harus bersatu agar bisa bertahan, dan tidak mengadakan tur pendakian yang terpencar dan terpisah di kawasan itu.

Hoffler pun mencontohkan kesuksesan rute pendakian jarak jauh seperti Jalur Yordania — dan mereka memutuskan bahwa kesempatan terbaik mereka adalah agar berfokus pada satu jalur saja, dan menyatukan komunitas pada satu jalur tersebut.

Mahmoud adalah pemimpin suku Jebeleva yang dihormati di semenanjung tersebut. Dia yang mendekati pemimpin dua suku lainnya dan memilih perwakilan yang punya cukup pengaruh agar bisa mencapai tujuannya.

"Dialah pahlawan tanpa tanda jasa untuk Jalur Sinai," kata Hoffler yang juga menjadi pendiri tapi namanya tak disebut di situs Jalur Sinai. Mahmoud, yang namanya disebut, malah malu dengan perannya itu.

Saya harus menggali cerita akan jalur pendakian ini dari mereka berdua; karena kisah ini tak muncul di tempat lain.

Jalur ini mulai dibuka pada 2015, beberapa minggu sebelum teroris menembak jatuh pesawat Rusia di Sinai, dan semakin menambah kesulitan pada pariwisata di jalur ini (banyak negara masih menyebut kawasan ini sebagai zona merah).

Namun beberapa penghargaan yang diterima pun memunculkan harapan — dan orang-orang Kairo yang suka mengambil risiko, dengan foto-foto virtual perjalanan mereka, kemudian mendorong minat akan perjalanan di jalur ini.

Bergabung dengan 16 pendaki, saya menjadi dekat dengan mereka karena lecet dan luka yang sama. Rasanya sama membingungkannya seperti lanskap berbatu yang tanpa henti menghantam sepatu saya.

Malam pertama, di ketinggian 1.670 meter, kami berkumpul di sekitar api unggun di lembah yang tersapu angin di bawah bintang pada malam hari.

Selama tiga hari ke depan, rutinitas kami sudah tertata, bangun saat matahari terbit, berjalan selama empat atau lima jam, kembali ke area teduh yang minim untuk makan siang — feta dan salad, dengan minyak dan sari yang jatuh ke batu yang panas — dan tidur siang.

Beberapa jam yang sulit kemudian, kami bertemu lagi dengan unta yang membawa perlengkapan kemah kami, dan kami menikmati makan malam serta kisah-kisah di api unggun dari pemandu utama kami dari suku Jebeleya, Nasser Mansour. Kami menutup tenda kami pada jam 20.00.

Selama 20 tahun, Mansour telah memandu para tamu di halaman belakang suku Jebeleya ini (nenek moyangnya pertama datang ke kawasan ini pada abad 6 untuk melindungi biara). Dengan melepaskan urusan logistik, jalur ini telah membuat pendakian ini menjadi lebih mudah baginya. "Seharusnya ini terjadi 10 tahun lalu," katanya.

Dengan semakin lunturnya budaya Bedouin, kisah-kisah Mansour, yang diceritakan secara turun-temurun, terasa seperti sebuah kesaksian. "Orang harus tahu sejarah kami," katanya. "Meihat saja tidak cukup; Anda juga harus mendengar." Meski dia bisa mengenali suku lain dari kejauhan, sebelum adanya jalur pendakian, mereka tak saling berhubungan. Kini mereka bekerja seperti tim estafet. "Ketika kami bekerja bersama, kami jadi lebih kuat," katanya.

"Yalla bina," Mansour berteriak pada satu pagi, mendorong untuk bergegas. "Ayo berangkat."

Saat makan siang, kami sampai di perkemahan dekat Cekungan Elijah, dan membersihkan diri di sebuah sumur menggunakan kaleng minyak zaitun Cretan.

Malam itu, jauh di atas tenda-tenda kami, senter di kepala saya menerangi sepasang mata. Saya pun ketakutan, namun unta yang saya terangi hanya merasa bosan melihat bulu mata yang panjang; dia sudah pernah mengalami ini sebelumnya.

Tapi beberapa jam lalu, tak ada yang tak terkesan ketika tiga ibex atau kambing gunung muncul di tengah-tengah pendakian 750 anak tangga di Tangga Pengampunan yang menyiksa, yang pertama dilakukan pada abad 6 oleh seorang biarawan yang penuh dosa.

Kami mulai berjinjit dan berjalan lebih pelan, sedih ketika mereka kemudian pergi, tapi kemudian kami terhibur oleh puncak gunung, bayangannya yang menyerupai coklat Toblerone muncul di jalur panjang yang tadinya kami lewati.

Saat menuju Gunung Katerina, kami mengambil jalur kuno yang dilalui oleh orang-orang Byzantium, para peziarah awal di 'Biara Suci di Gunung Sinai yang Dilalui Tuhan', untuk menghormati Santa Katerina (biara itu disebut-sebut sebagai tempat Semak Duri Berapi, di mana Tuhan memperlihatkan dirinya pada Nabi Musa).

(Baca Juga: 4 Fenomena Alam Lain yang Juga Terjadi saat Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018)

"Orang-orang bilang tidak ada tempat seperti ini di dunia," kata Mansour. Dan saat kami kembali berada di belakang unta-unta untuk berjalan melintasi lembah, kemudian naik dan berdempetan di puncak yang sempit, di tempat tertinggi di Mesir, memang terasa tak ada tempat seperti ini di dunia.

Makan malam terakhir kami bertempat di sebuah bangunan bata yang ditinggalkan, dengan atap besi yang setengah terbuka dan membuat kami bisa melihat bintang-bintang. Kami menikmati sup lentil yang hangat dan pasta sayuran dengan keju kuning.

Setelah mendengarkan sebuah kisah tentang orang suci di gunung tempat kami berada (para biarawan menemukan Santa Katerina setelah mimpi), salah satu anggota tur kami bertanya pada Mansour apakah dia punya mimpi. "Ya," katanya singkat. Tapi kemudian dia melanjutkan, "Untuk terus hidup di pegunungan, seperti sekarang ini." Dan tampaknya mimpinya itu akan jadi kenyataan.

Tiga minggu kemudian, pada awal Mei 2018, Jalur Pendakian Sinai diperluas dari 220 km menjadi 550 km, dengan lima suku Bedouin lain ikut bergabung dalam kerjasama pariwisata tersebut setelah para pendirinya melihat adanya peluang dalam memperluas jalur pendakian dan keuntungan yang bisa mereka terima, serta untuk memberikan cerita yang lebih lengkap akan pemandangan-pemandangan indah di Sinai.

Dengan menghidupkan kembali Persekutuan Towarah yang dulunya menyatukan suku-suku Sinai Selatan (dan menambahkan suku Tarabin, yang dulunya tidak tergabung dalam aliansi ini), maka rute perjalanan dan pendakian yang, menurut Hoffler, tidak dilalui selama satu abad — maka ada penguatan terhadap warisan suku Bedouin dan perubahan perspektif pengunjung akan kawasan tersebut. Dan perubahan pandangan itu sangatlah dibutuhkan.

Jalur pendakian kami menjadi yang terakhir dalam jalur asal Sinai; kini orang bisa menyeberangi seluruh semenanjung Sinai, dari Teluk Aqaba sampai Suez hanya dalam 42 hari.

Tur pendakian pertama dari rute baru tersebut, yang merupakan opsi paling memungkinkan untuk mereka yang melakukan perjalanan sendirian, rencananya akan dimulai pada 26 Oktober 2018.

Perjalanan itu akan membutuhkan waktu 24 hari (perjalanan lintas semenanjung pertama akan dilakukan pada 2019), dengan kemungkinan orang-orang bergabung di paruh perjalanan.

"Orang-orang terlihat berbeda saat mereka kembali dari gurun," kata Hoffler pada saya, dan gambaran romantis itu pun tertanam di kepala saya.

Sekarang, saya mendengar gema suara Mahmoud, "Untuk sebagian orang, Sinai itu seperti obat yang bisa mengatasi masalah Anda," katanya.

"Empat puluh dua hari di gurun bukan hal yang mudah," dan itu lebih lama daripada waktu yang dihabiskan Nabi Musa di gunung, "tapi saya kira sebagian orang membutuhkannya."

Buat saya, empat hari belum cukup. Lain kali, saya akan kembali untuk menjalani seluruh rutenya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini