nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pria Menangis Setelah Berhubungan Seks, Ini Sebabnya!

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Senin 30 Juli 2018 02:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 07 29 481 1928939 pria-menangis-setelah-berhubungan-seks-ini-sebabnya-lmKJVEU9JX.jpg Ilustrasi (Foto: Dailystar)

BANYAK orang menganggap pria sangat senang berhubungan seks. Menantang asumsi umum bahwa pria selalu menginginkan dan merasa bahwa seks sebagai hal yang menyenangkan, sebuah penelitian baru menyatakan ada pengecualian.

Sama seperti wanita, pria juga bisa dan menderita suatu kondisi yang disebut Postcoital Dysphoria (PCD). Kondisi tersebut membuat pria sedih bahkan menangis setelah berhubungan seks, kata studi yang diterbitkan dalam Journal of Sex and Marital Therapy.

Biasanya kondisi ini lebih sering dialami oleh para wanita. Tidak ada penelitian sebelumnya yang mengidentifikasi fenomena PCD pada pria, kata para peneliti dari Queensland University of Technology (QUT) di Australia.

"Studi ini memecah hasil survei online anonim internasional terhadap 1.208 pria dari Australia, Amerika, Inggris, Rusia, Selandia Baru, Jerman, dan tempat lain," kata salah satu peneliti Joel Maczkowiack yang dikutip Thehealthsite, Senin (30/7/2018).

Temuan menunjukkan bahwa lebih dari 40% peserta melaporkan mengalami PCD dalam hidup mereka. Sekira 20% melaporkan bahwa mereka mengalaminya dalam 4 minggu sebelumnya. Hingga 4% menderita PCD secara teratur, menurut penelitian.

Maczkowiack menambahkan, beberapa komentar dari pria yang berpartisipasi dan pernah mengalami kesedihan setelah berhubungan seks. Mereka bilang: "Saya tidak ingin disentuh dan ingin dibiarkan sendiri" hingga "Saya merasa tidak puas, jengkel dan sangat gelisah, yang saya inginkan adalah mengalihkan perhatian dari semua."

"Perasaan lain yang dijelaskan tanpa emosi dan kosong berbeda dengan pria yang mengalami pengalaman PCD," katanya.

Hasilnya menunjukkan bahwa pengalaman seks pria dapat jauh lebih bervariasi dan kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya, menurut Professor Robert Schweitzer dari School of Psychology and Counselling.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini