nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kerja Bagai Kuda Tapi Gaji Tak Kunjung Naik, Hal Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 30 Juli 2018 18:42 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 30 196 1929434 kerja-bagai-kuda-tapi-gaji-tak-kunjung-naik-hal-ini-bisa-jadi-penyebabnya-G3ig5Bt458.jpg Ilustrasi bekerja (Foto: Student Brands)

PENDAPATAN tak mampu menyeimbangkan biaya hidup yang meroket. Apakah keuntungan yang ditawarkan perusahaan untuk memikat karyawan baru dapat menjadi pengganti sepadan?

Pada awal kariernya, Lucy Kirkness merasa mendapatkan bayaran yang rendah dan tak menerima penghargaan atas kinerjanya yang menawan. Situasi itu menyisakan perasaan bahwa ia tidak dihargai.

Didorong untuk melakukan hal yang berbeda, pakar strategi digital sekaligus pemanfaat mesin telusur yang berbasis di London itu kini menjalankan usahanya sendiri.

Kirkness berupaya keras memastikan para pegawainya merasa dihargai. "Gaji terendah kami sebesar 30 ribu euro (Rp504 juta)," ujarnya.

Kirkness menambahkan, ia memberi komisi untuk setiap bisnis yang dimenangkan pegawainya, termasuk pembagian keuntungan.

 

Kirkness berkata, ia berusaha menciptakan lingkungan kerja berisi pegawai berpotensi yang belum terasah agar dapat memberi gaji tinggi dan di atas rata-rata upah minimal.

 BACA JUGA:

Tak Perlu Bertele-tele saat Konsultasi dengan Dokter, Keluhan Cuma Didengar 11 Detik Saja

Meski perekonomian banyak negara meningkat dan sejumlah perusahaan meraih laba yang tinggi satu dekade setelah krisis finansial global pada 2018, hanya orang-orang tertentu yang sebenarnya merasakan keuntungan itu.

Biaya hidup melonjak, namun banyak pekerja tak mendapatkan kenaikan upah yang setara, bahkan lebih buruk dibandingkan yang mereka terima beberapa tahun silam.

"Hubungan tradisional antara pertumbuhan ekonomi dan kenaikan upah telah berakhir di negara-negara maju," kata Duncan Brown, kepala konsultasi personalia di Institute for Employment Studies di Brighton, Inggris.

"Ada bukti empiris bahwa rata-rata kenaikan upah melambat bahkan di perekonomian yang telah kembali stabil. Dalam beberapa kasus, artinya, pendapatan faktual stagnan. Itu tak kita rasakan mungkin sejak dekade 1860 atau 1870.

Apa yang memicu fenomena ini?

Dalam 30 hingga 40 tahun terakhir, pemerintah sejumlah negara, seperti Inggris dan Australia, melonggarkan regulasi perburuhan dan melemahkan serikat pekerja, dan menghapus keseimbangan pengaruh di pasar tenaga kerja.

Secara stimultan, semakin banyak orang bekerja dalam jangka pendek atau kontrak lepas sehingga mereka tak punya cukup hak untuk menggugat upah yang lebih layak.

Bukannya meningkatkan nominal upah, banyak perusahaan justru mengalihkan perhatian mereka untuk menyediakan banyak keuntungan dan fasilitas lain agar karyawan bahagia.

 

Data terakhir dari Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat mengungkap fakta, saat ini upah hanya sebesar 68,2% dari total pendapatan keryawan, padahal 18 tahun lalu, persentase itu mencapai 72,5%.

Di hampir seluruh negara-negara G20, porsi pendapatan perburuhan jatuh, yang menandakan korporasi cenderung menyimpan profit daripada membaginya kepada para karyawan.

"Perusahaan akan mengambil yang dapat mereka raih, itu adalah hukum paling dasar di pasar bebas," kata John Buchanan dari Sekolah Bisnis Sydney yang merupakan bagian dari Universitas Australia.

"Lembaga dan struktur upah minimum diciptakan untuk mendisplinkan pekerja. Jadi jika anda melemahkan keduanya, anda mencabut kedisiplinan tersebut," kata Buchanan.

Terdapat sejumlah hal positif, bahwa keuntungan, seperti jam kerja yang fleksibel serta komitmen soal keseimbangan pekerjaan-kehidupan pribadi, dapat diraih oleh perusahaan dan pekerja. Alasannya, menurut sejumlah kajian, kondisi ini memicu produktivitas.

Hal lainnya, antara lain jaminan pensiun dan asuransi kesehatan, menopang finansial pekerja dan kebutuhan medis mereka.

Bagaimanapun, sejumlah pekerja menginginkan hal-hal sepele. Minuman keras gratis, diskon berbelanja di toko dan kafe milik perusahaan sepertinya hal yang keren saat anda baru saja memulai pekerjaan atau menanggung tanggung jawab finansial.

Namun fasilitas tersebut tidak cocok untuk seluruh pekerja. Dan saat harga properti, baik jual maupun sewa, melangit di hampir seluruh kota besar dunia, fasilitas tak berpengaruh pada kemampuan anda memenuhi kebutuhan papan.

"Sangat bagus jika perusahaan fokus membuat lingkungan pekerjaan menyenangkan sekaligus tempat bersosialisasi. Itu positif untuk produktivitas," kata Frances O'Grady, sekretaris jenderal Kongres Serikat Perdagangan di Inggris dan Wales.

"Namun fasilitas seharusnya tidak pernah menggantikan upah layak dan situasi kerja. Para atasan tidak boleh berpikir mereka dapat mengelabui karyawan dengan tipu muslihat."

"Mereka butuh bayaran yang layak, perkembangan yang bagus, dan skema pensiun yang patut," kata O'Grady.

Ide praktis

Sejumlah firma telah mengambil langkah menyikapi situasi ini. Perusahaan kartu kredit di Seattle, AS, Gravity Payments, mengumumkan upah minimum sebesar US$70 ribu (Rp1 miliar) untuk seluruh pegawainya yang berjumlah 120 orang pada tahun 2015.

Perusahaan itu menyebut kebijakan itu untuk "meningkatkan taraf hidup serta meringankan kekhawatiran dan gangguan finansial." Sebelum pengumuman, rata-rata upah di korporasi itu sebesar US$48 ribu atau Rp690 juta.

Pendiri sekaligus direktur eksekutif Gravity Payments, Dan Price, menurunkan gajinya pada waktu yang bersamaan.

Gravity menyebut upah yang lebih tinggi membantu karyawan mereka membeli tempat tinggal yang lebih baik harga properti di Seattle melonjak satu dekade lalu.

Gaji yang lebih tinggi itu juga dapat menanggulangi tingkat kelahiran yang tinggi, sementara banyak karyawan lainnya juga memilih menambah kontribusi untuk uang pensiun mereka.

Perubahan itu mendorong pekerja bertahan di perusahaan yang sama dan memicu keuntungan lainnya. Setahun setelah kebijakan itu dibuat, jumlah karyawan yang mengundurkan diri tercatat sebagai yang paling rendah. Ketika itu semakin banyak pencari kerja yang mendaftar. Di sisi lain, jumlah klien yang berpindah ke perusahaan pesaing juga menurun.

"Orang muda zaman ini, ketika mereka lulus, mereka membutuhkan uang," kata CY Chan, kepala bagian hubungan personalia dan investasi sosial korporat di HK Broadband, perusahaan yang menyediakan jaringan internet cepat ke berbagai rumah susun di Hong Kong.

Chan berkata, standar gaji perusahaannya bahkan dapat dikatakan lebih kompetitif dibandingkan minimum upah di pasar tenaga kerja.

Meskipun HK Broadband menawarkan sejumlah keuntungan—menyokong pegawai, termasuk staf pemasaran dan tenaga pemasangan, untuk meraih pendidikan tinggi—Chan tidak menganggap penting layanan personalia seperti makan gratis.

"Kami tidak mengarah ke sana. Kami berupaya fokus pada hal yang benar-benar dapat memotivasi karyawan," ujar Chan.

HK Broadband meluncurkan program kepemilikan pada 2012 sebagai solusi untuk perusahaan pembiayaan swasta yang baru saja mengakuisisi mereka. Program itu memungkinkan para pegawai mengalihkan tabungan menjadi investasi atas saham perusahaan. Korporasi telekomunikasi itu juga menawarkan bonus saham.

Saat ini lebih dari 1/10 dari total 3000 pekerja HK Broadband berstatus sebagai pemilik perusahaan tempat mereka mencari nafkah, termasuk Chan yang telah berkarier di korporasi itu selama tujuh tahun.

Terdapat pula sejarah panjang perusahaan yang mendasari munculnya pendekatan progresif. Sistem kepemilkan berbagi keuntungan dijalankan John Lewis Partnership, di mana setiap pegawai, dari atasan hingga pegawai penumpuk barang di rak toko serba ada mendapatkan bonus tahunan yang sama.

 BACA JUGA:

Kolonel Sanders, Pendiri Restoran Ternama yang Pernah Jadi Buruh Tani hingga Dokter

Usaha yang terinspirasi dari prinsip kesetaraan dan keadilan Kaum Quaker atau Perkumpulan Agama Sahabat di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, memastikan seluruh pegawai menerima upah sehingga dapat membiayai hidup, mendapatkan hari libur, dan terlibat dalam bisnis perusahaan melalui dewan pekerja.

 

Beberapa perusahaan itu, seperti produsen coklat Cadbury, bahkan membangun seluruh komunitas di sekeliling pabrik mereka.

"Mereka tahu itu adalah cara untuk menciptakan loyalitas pekerja. Saya kira kita kehilangan fokus di sana," kata Brown.

"Anda tidak akan sukses jika anda tidak dapat sanggup membayar para pemasok barang, jadi mengapa anda menjalankan usaha jika tak membayar pekerja agar mereka dapat hidup layak?"

"Sebenarnya ini adalah permasalahan yang sederhana," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini