nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Istri Ernest Prakasa Bagikan Pengalamannya Alami Body Shaming

Annisa Aprilia, Jurnalis · Jum'at 03 Agustus 2018 08:04 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 02 196 1931047 istri-ernest-prakasa-bagikan-pengalamannya-alami-body-shaming-PPoS0qaNma.jpg Meira Anastasia (Foto: @meiraanastasia/Instagram)

BODY shaming merupakan isu yang beberapa waktu belakangan ini cukup menyita perhatian tapi hanya sedikit orang yang sadar telah melakukannya. Padahal kita semua tahu mencela seseorang adalah perbuatan tidak menyenangkan dan bisa menyakitkan hati, tapi pada kasus body shaming ini cukup unik.

Mengapa? Sebab pelaku body shaming kerap tidak menyadari dirinya telah mencela kondisi fisik seseorang. Tujuan orang yang tidak sadar telah melakukan body shaming mungkin karena peduli, tapi bagi orang yang sensitif, body shaming bisa jadi alasan untuk merasa kecil hati.

Body shaming yang paling banyak menimpa perempuan, ternyata tidak hanya dialami oleh orang-orang yang sering muncul di layar kaca atau yang berkutat di dunia hiburan saja, tapi juga dialami oleh istri seorang publik figur Ernest Prakasa, Meira Anastasia. Ibu dari dua anak ini kemudian membagikan pengalaman dan kisahnya yang sering diolok oleh netizen, lalu membukukannya.

"Dulu merasakan banget waktu masih insecure belum tahu diri sendiri, sekarang sudah merasa lebih mengenal diri sendiri, lebih tahu harus apa, dulu merasa banyak tekanan, stressfull sekarang mungkin masih ada tapi aku lebih santai menghadapinya," ungkap Meira dalam kesempatan launching buku Imperfect A Journey To Self Acceptance, Kinokuniya, Jakarta, Kamis 2 Agustus 2018.

Meira Anastasia

Meira juga mengungkapkan semenjak buku Imperfect terbit, mulai banyak netizen yang mengirim pesan via dm Instagram, mengaku mengalami hal yang sama. Tidak bisa dipungkiri menurut Meira body shaming itu sangat terjadi apalagi di dunia yang serba media sosial seperti zaman sekarang ini, terlebih bagi perempuan, isu tersebut sangat meresahkan.

"Refleksi diri sendiri perlu dilakukan daripada pusing mikirin orang lain, capek. pertama cara kita lihat nody shamming, cara kita menilai diri sendiri. Kalau ngomong jelek soal orang lain apakah akan buat masalah selesai? Lebih baik jaga hati daripada menyakitkan orang lain," imbuh Meira.

Masih dalam pemaparannya, Meira mengatakan akan selalu ada pembicaraan basa-basi, tidak perlu masukkan dalam hati.

"Anggap seperti bener-bener lagi membicarakan cuaca, kalau dianggap gemukan anggap aja kayak lagi ngomongin mataharinya panas banget ya," ujarnya.

Meira berpesan pada setiap orang yang sempat mengalami body shaming agar mengonsultasikan diri ke psikolog jika memang merasa sangat rapuh. Tidak perlu merasa tabu atau aneh. Ketika terpuruk punya dua pilihan mau terus atau bangkit.

"Jika terus merasa terpuruk akhirnya yang jadi korban suami dan anak-anak. Diskusi juga, akhirnya ke psikolog. Dapat referensi ke Mbak Vera. Setelah itu yang selama ini terasa berat banget pas dijabarin hanya butuh orang yang bisa kasih kita perspektif. Dengan berkonsultasi dan ngobrol akhirnya ketemu titiknya," beber Meira.

Sebagai support system, suami dan keluarga harus tahu masalah yang sedang dihadapi. Meira mengatakan suami harus mengerti apa yang terjadi karena kalau tidak bagaimana bisa mendukung istrinya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini