nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Catat! Lakukan Body Shaming Bisa Berakibat Fatal, Stres Salah Satunya

Annisa Aprilia, Jurnalis · Jum'at 03 Agustus 2018 08:37 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 08 03 196 1931138 catat-lakukan-body-shaming-bisa-berakibat-fatal-stres-salah-satunya-47Xfwzj57m.jpg Body Shaming (Foto: Mashable)

ISU body shaming belakangan ini marak dilakukan tanpa sadar oleh seseorang pada teman, saudara, atau rekan sejawatnya sendiri. Body shaming lebih banyak dan biasanya dialami oleh perempuan, yang sayangnya dilakukan juga oleh sama-sama perempuan.

Meskipun tanpa sadar melakukan body shaming, tetap saja orang tersebut telah mencela tubuh atau fisik seseorang, yang akibatnya bisa fatal, karena berpotensi stres yang tidak berkesudahan. Di era dunia yang serba media sosial ini, body shaming turut hadir bahkan bisa dibilang memojokkan perempuan dengan isu ketubuhannya.

"Body shaming di media sosial menimpa terutama perempuan, sehingga merasa terbebani dengan standar tubuh yang dari dulu kontra dengan gerakan mencintai tubuh. Setiap perempuan sudah saatnya tidak lihat lagi tubuh mesti langsing tinggi, curvy, dan tuntutan lainnya untuk perempuan yang masih banyak. Body shaming memojokkan perempuan dengan isu ketubuhannya yang biaa bikin malu tentang dirinya sendiri," papar Roslina Verauli, M. Psi., Psi, kemarin saat Launching Buku Imperfect karya Meira Anastasia, Jakarta.

Menurut psikolog yang kerap disapa Vera ini, tiap perempuan tidak perlu merasa kecil hati jika mengalami body shaming. Misal diolok karena hidungnya datar karena orang Asia atau perut besar karena habis melahirkan, hal itu semua wajar. Namun, isu body shaming yang akhirnya menyita perhatian karena tidak hanya terjadi di dunia nyata saja, akhirnya Vera pun mengungkap penyebabnya, yang ternyata berkaitan dengan budaya masyarakat Indonesia.

Baca juga :

"Yang sebabkan perempuan Indonesia dikomentari oleh perempuan juga karena kebutulan kita tinggal di budaya in grup yang kuat, menjadikan orang yang bukan kakak adik terasa seperti saudara. Sehingga pada saat ketemu tidak ada obrolan lain selain tanya gemukan sekarang, kapan kawin, kok anaknya cuma dua, ini dirasa lebih dekat," ungkapnya. 

Tidak hanya itu saja, Vera pun mengungkap faktor kedua yang menyebabkan orang melakukan body shaming, yang mencengangkan karena ternyata terkait dengan masa lalu pahit yang dialami oleh orang tersebut.

"Kedua karena kita korban penjajahan self exteem kita bitter meski senyumnya sweet. Kadangkala hidup mereka yang pahit ingin release kepahitannya melampiaskan kekesalannya dengan cara seperti itu. Bagian keakraban nggak usah dibawa ke dalam, namanya basa-basi gak usah," ujar Vera.

Vera menyarankan ketika ketemu saudara atau follower, yang bisa kita lakukan pahami komunikasinya yang bukan pada level mendalam, hanya basa-basi saja. Bisa mengatakan cuaca seperti matahari lebih cerah.

"Jangan emosional dan masuk ke ranah pribadi. Jika ada obrolan yang berada pada level body shamming nggak boleh diambil hati. Proses jd manusia terbaik seumur hidup, tidak ada yg instan. Kita butuh proses, seperti ketika ingin mengubah berat badan mesti perhatikan makanan yang harus dikonsumsi dan latihan harian, saat sudah berupaya berubah, maka itulah versi terbaiknya," ujarnya.

Dalam dua dekade terakhir menurut Vera setiap orang butuh insight, dan butuh bantuan untuk diri sendiri. Lebih baik lagi kalau punya support system dari keluarga, yang ternyata memudahkan kita untuk berada di fase "yes, i'm imperfect".

Untuk menjadi versi terbaik Vera menambahkan ada proses yang tidak sama setiap orang, tapi dengan adanya support system memudahkan kita untuk tahu apa yang butuh dikembangkan. Tiap perempuan membuat diri sendiri jadi versi dirinya yang terbaik, sehingga orang lain mau bilang apa pun tidak akan terpengaruh.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini