nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tenang, Ini Cara Menanggapi Suami yang Lakukan Body Shaming!

Annisa Aprilia, Jurnalis · Senin 06 Agustus 2018 16:31 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 08 06 196 1932405 tenang-ini-cara-menanggapi-suami-yang-lakukan-body-shaming-th95lskliH.jpg Body shaming (Adobe stock)

DALAM sebuah hubungan asmara biasanya setiap insan akan berusaha tampil sempurna untuk pasangannya, atau meminta pasangan untuk berubah menjadi versi terbaik baginya. Namun, cara yang digunakan oleh pasangan yang meminta teman hidupnya untuk berubah itu, kadangkala tidak tepat, alih-alih memotivasi malah menyakitkan hati, karena terkesan body shaming atau mencela fisik.

Ya, body shaming ternyata tidak hanya dilakukan oleh saudara jauh atau haters saja, tapi tanpa disadari juga dilakukan oleh orang-orang terdekat, seperti suami, istri, orangtua, anak, saudara kandung, hingga kekasih. Tapi, bagi orang yang sensitif, pernyataan perkara fisik bisa jadi dianggap mencela dan membuatnya hilang percaya diri karena berpikir berlebihan dan merasa lemah tidak sempurna.

Baca juga: Pura-Pura Gagal Lahiran, Kamu Bakal Terkejut Liat Isi dari Peti Mati Bayinya!

Bertengkar (bustle)

Lantas, bagaimana cara menanggapi body shaming yang dilakukan oleh pasangan? Menurut psikolog kondang Roslina Verauli, Psi., M.Psi, terlebih dahulu harus menyadari tidak bisa mengubah sikap orang lain seperti apa yang kita inginkan, apalagi memaksanya. Tapi, bukan berarti kita tidak bisa membuatnya memahami tentang cara mencintai diri sendiri dan orang lain.

“Kita tidak bisa mengubah orang lain, seperti Tuhan yang juga tidak bisa mengubah semua orang meskipun telah ada alkitab atau kitab suci yang dimiliki setiap manusia,” ucapnya.

body shaming (crosswalk)

Menurut psikolog yang kerap disapa Vera ini pun, orang yang melakukan body shaming atau mengatakan pernyataan yang menyakitkan bisa jadi karena masa lalu yang dia miliki tidak indah dan pahit. Lingkungan pertumbuhan pun memiliki peran yang dapat memengaruhinya jadi orang yang suka menghakimi orang lain (judging), sehingga secara tidak langsung dia telah gagal mencintai dirinya sendiri.

Baca juga: Beredar Foto Perempuan Indonesia Menikah dengan Pria Korea, Oppa-nya Pakai Peci Bikin Gemas!

“Kita bukan hanya perlu belajar mencintai diri kita, tapi juga mencintai orang lain. Bantu orang lain menyadari Anda mencintainya tanpa syarat. Jadi, dia paham kalau cinta itu tidak berkorelasi pada pernyataan yang nyelekit,” imbuhnya.

Peran keluarga tempat pertamanya mengalami pertumbuhan pun menurut Vera punya peran sangat penting. Jika pasangan tinggal dalam keluarga yang sering berkata kasar, maka ia akan menduga kalau rasa sayang itu diungkapkannya dengan kata-kata kasar. Pasangan mesti membantu pasangannya untuk mencintai diri sendiri, sehingga dia bisa berproses untuk mampu mencintai dirinya sendiri.

Baca juga: Viral Video Tetap Salat saat Gempa Lombok, Netizen: Insya Allah Mati Syahid

“Ketika orang cinta sama dirinya, saat itulah terlihat dari penampilannya, jadi bukan kalau kita cinta pada diri kita lakukan vermak, bukan, tapi layak dan tepat untuk memberikan apa yang dibutuhkan dirinya sendiri dalam porsi yang wajar menjadi versi yang terbaik dirinya. Im perfect,” ujarnya.

Vera pun memberikan saran yang bisa dilakukan jika seorang istri menerima body shaming dari suaminya. Istri tidak perlu sakit hati, tapi lebih dulu mencerna dan sebaiknya memberi pemahaman pada suaminya untuk memahami kata-kata buruk yang dikatakannya.

“Contohnya dalam kehidupan sehari-hari, karena tadi kata-kata suka nyelekit, misal dia mengatakan, ‘Ini lengannya menggelambir," coba tanyakan, "Memang kalau lengannya seperti ini udah nggak cinta lagi apa masih sayaangg" sambil bercanda. Jadi, bantu dia memahami kata-kata buruk, dia layak dicintai karena telah mencintai diri sendiri,” tandasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini