nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Orangtua Bisa Jadi Menjadi Pemutus Rantai Pernikahan Usia Dini

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 06 Agustus 2018 19:22 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 06 196 1932663 orangtua-bisa-jadi-menjadi-pemutus-rantai-pernikahan-usia-dini-fysDeIWDq5.jpg Ilustrasi (Foto: Readers Digest)

PERNIKAHAN usia dini hingga saat ini masih menjadi fenomena yang memprihatinkan di Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak terus berupaya untuk mengatasi hal tersebut. Caranya adalah melakukan pencegahan dengan edukasi dan kerja sama dengan kementerian serta lembaga terkait.

Tak bisa dipungkiri bila masih banyak wilayah di Tanah Air yang memegang tradisi bila anak perempuan sudah menstruasi maka sudah layak untuk dinikahkan. Hal ini terjadi karena pemahaman yang diterima oleh orangtua secara turun temurun. Akibatnya banyak anak yang sudah memiliki anak. Malah ada yang bisa mengalami traumatis karena belum siap baik secara fisiologis maupun psikologis

Dari segi fisiologis, organ reproduksi anak mungkin belum terbentuk sempurna. Dari segi psikologis, mereka belum siap untuk mengasuh anak dan tidak mendapatkan pemahaman yang baik tentang rumah tangga. Hal ini menyebabkan masalah lain yaitu perceraian. Dengan begitu, anak perempuan sudah memiliki anak dan menjadi janda di usia yang seharusnya mereka masih memiliki kesempatan untuk mengenal dunia.

BACA JUGA:

6 Adat Pernikahan Muslim dari Berbagai Penjuru Dunia

 

"Pernikahan anak erat sekali kaitannya dengan kemiskinan. Perjalanan anak menjadi eskalator penerus bangsa untuk memperbaiki kehidupan ekonomi dan sosial akan berhenti," ungkap psikolog Novita Tandry, M. Psych saat ditemui Okezone dalam Diskusi Media Memperingai Hari Anak Nasional 2018 'Perkawinan Usia Anak', Senin (6/8/2018) di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Lebih lanjut Novita menjelaskan bila pernikahan usia anak dapat menyebabkan anak perempuan mengalami trauma dan membuatnya merasa 'dibuang' oleh orangtua. Selain itu, rasa percaya dirinya akan hilang yang menyebabkan ketakutan luar biasa untuk memulai hubungan kembali.

"Mengobati seorang perempuan yang sudah trauma dengan pernikahan anak sulit sekali, butuh waktu bertahun-tahun. Tapi kalau tidak trauma, dia akan meneruskan kepada anaknya karena mengganggap sebagai tradisi maka menjadi lingkaran setan," tambah Novita.

Maka dari itu, dirinya menegaskan bila memberikan pemahaman kepada orangtua tentang bahaya pernikahan usia anak sangat berperan penting. "Pola asuh yang lebih penting karena suka tidak suka anak digerakkan oleh orangtuanya. Orangtua berubah maka anak berubah. Sebab pola asuh yang diterima anak sejak kecil secara tidak langsung akan masuk ke dirinya dan kemudian menjadi pemahaman yang benar untuk diteruskan pada anaknya kelak," jelas Novita.

 BACA JUGA:

Sekali Tampil, Inul Daratista Habiskan Rp50 Juta untuk Dandan

Bila orangtua sudah mendapatkan pemahaman yang benar bila pernikahan usia anak tidak baik, maka ia akan menerapkannya pada anaknya. Anak yang diasuh juga mendapatkan pemahaman yang sama mengenai hal tersebut. Sehingga dirinya akan meneruskan pada anaknya dan begitu seterusnya. Lama kelamaan hal ini dapat mengatasi masalah pernikahan usia anak.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini