nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menyusuri Taman Nasional Betung Kerihun, Surga Tersembunyi di Batas Negeri

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 06 Agustus 2018 20:17 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 08 06 406 1932543 menyusuri-taman-nasional-betung-kerihun-surga-tersembunyi-di-batas-negeri-oJqlCxzxV0.jpg Taman Nasional Betung Kerihun (Foto: Ist)

SETENGAH berlari meniti 300 lebih anak tangga menuju puncak bukit di tengah Sentarum, rasa lelah yang tadinya menyiksa terbayar tunai dengan hamparan indah ben tangan alam memanjakan mata.

Semburat jingga sang “mata dewa”, gugusan pulaupulau kecil dan bukit yang memagari danau, tak akan disebut berlebihan bila ini ibarat “surga kecil” yang tersembunyi di Jantung Borneo julukan Kabupaten Kapuas Hulu. Sunset di Bukit Teke nang salah satu bukit yang menjulang di te ngah Danau Sentarum tadi, me mang wajib untuk dicumbu.

Tak hanya itu, alam Kapuas Hulu yang berada persis di batas negeri (berbatasan dengan Sera - wak, Malaysia) juga menyimpan banyak “surga kecil” lain. Bahkan, gelombang air me nam parnampar menakutkan kala speedboat melaju kencang di tengah danau pun sensasinya terasa bagai bermain di “surga kecil”.

Danau Sentarum termasuk area Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) yang pengawasan dan pengelolaannya di bawah Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNKBDS). Pengelolaan TNBKDS ini berdasar kan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.7/Menlhk/Setjen/ OTL.0/1/2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional. Keunikan Danau Sentarum ini, di dalamnya ada gugusan pulau dan kompleks-kompleks danau: 20 danau besar kecil, 89.000 ha hutan rawa tergenang, dan 43.000 ha daratan.

 BACA JUGA:

Papan Keju Seberat 2 Ton Pecahkan Rekor Dunia

Di danau ini ikan arwana merah merupakan ikan endemik dan tempat habibat anggrek hitam (black orchid), buaya sinyulong, bekantan, beruang madu, serta persinggahan burung migran. Danau ini sebentuk hamparan banjir yang dipengaruhi pasang surut volume air terluas di Asia Tenggara. Diperkirakan, tersimpan 16 triliun meter kubik air per tahun di kawasan ini.

“Kawasan hutan rawa tergenang yang terdapat di Danau Sen tarum serta sungai-sungai besar dan kecil ini merupakan salah satu kebanggaan Indonesia. Hutan semacam ini sangat langka di dunia,” kata Kabid Wilayah 3 TNBKDS Gunawan Budi kepada tim Teras Indonesia KORAN SINDO -BRI yang berkunjung ke Kapuas Hulu.

Seperti selimut mahaluas, Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) membentang di Ke - camatan Embaloh Hulu, Embaloh Hilir, hingga Putussibau (ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu). Luasnya mencapai 816.693,40 ha, meliputi hampir 28% luas daerah Kabupaten Kapuas Hulu. Betung Kerihun merupakan kawasan perbukitan dari bentangan Pegunungan Muller yang menghubungkan Gunung Betung dan Gunung Kerihun.

Punggung gunung ini menjadi pembatas alam antara wilayah Indonesia dan negara bagian Serawak, Malaysia. Keanekaragaman ekosistem di kawasan TNBK sangat tinggi dan vegetasi hutannya masih baik dan relatif utuh. TNBK memiliki 1.216 jenis keanekaragaman tumbuhan yang terdiri atas 418 genus dan 110 famili (75% endemik Kalimantan).

Tumbuhan baru yang ditemukan: Castanopsis inermis, Musa lawitiensis, Neouvaria acuminatissima, Lithocarpus philippinensis, Chisocheton cauliflorus, Syzygium spicata, dan Shorea peltata . Selain itu, TNBK juga me mi - liki 48 jenis mamalia, 301 jenis burung (151 genus dan 36 fa - mili), 170 jenis insekta, 112 jenis ikan, 52 jenis reptilia, 51 jenis amfibia, 24 jenis endemik Kalimantan, dan 15 jenis burung migran. Adapun satwa langka yang dilindungi di sini ada lah orangutan (Pongo satyrus), tangkasi (Tarsius bancanus borneanus), owa kalimantan (Hylobates muelleri), rusa sambar (Cervus unicolor brookei), be ruang madu (Helarctos mala ya - nus euryspilus), lutra (Lutra sumatrana), kancil (Tragulus napu borneanus), dan klasi (Presbytis rubicunda rubicunda).

“Menurut sejumlah ahli yang melakukan penelitian di kawasan TNBK, dalam satu hek tare hutan dalam kawasan TNBK ada 300 lebih spesies tum buhan maupun hewan. Ini ten tu sangat luar biasa dan mesti dilestarikan. Untuk itulah partisipasi masyarakat mutlak di perlukan dalam menjaga kawasan, agar terbangun harmonisasi antara pengelolaan kawasan (TNBKDS) dengan kearifan masyarakat yang berada sekitar kawasan,” kata Kabid 1 TNBKDS Junaidi yang me ngajak tim Teras Indonesia KORAN SINDO menyusuri Sungai Emba loh hingga kamp Derian.

Sensasi Susur Sungai

 

Menjelajah TNBK belumlah lengkap jika tidak menyusuri sungai-sungai dalam kawasan, salah satunya Sungai Embaloh. Di aliran sungai berarus deras ini bisa ditemukan ikan semah, yang jika dibakar dan disantap rasa dagingnya sangat empuk, manis, dan gurih. Di pasaran harga ikan semah sangat mahal, hampir Rp2 juta per kilogram. Wow... Di Sungai Tekelan (cabang Sungai Embaloh), yang bisa di - tempuh 3 jam perjalanan de - ngan longboat dari Sadap (kampung terakhir menuju gerbang TNBK), pengunjung bisa mengi nap (camping ground ) di kamp Nanga Tekelan atau kamp Langsat.

Jika perjalanan diteru kan ke hulu lagi, akan bertemu kamp Derian yang menjadi titik start pendakian ke Gunung Betung dan menuju Gua Pajau. Masuk lagi jauh ke dalam menjumpai air terjun Dajo dan Laboh. Hal yang tak kalah menarik, di salah satu puncak bukit dekat DAS Tekelan tadi, ada bekas helipad pasukan Parako (Para Ko mando/sekarang Ko pas - sus), yang dulunya dikerahkan Presiden Sukarno saat berkonfron tasi dengan Malaysia. Makanya, tak mengherankan jika sampai saat ini banyak masyarakat di kawasan ini kerap menemukan senjata, bahkan mortir, yang tertimbun tanah, menjadi “ranjau” di dalam hutan hingga di dasar sungai. Sungai lain yang juga wajib disusuri adalah Kapuas, Sibau, Mendalam, dan Bungan.

Seluruh aliran sungai menjadi jalur masuk menuju TNBK, karena perjalanan memang harus me nyusuri sungai-sungai tersebut. Salah satunya untuk menca pai daerah Tanjung Lokang. Jika dari Nanga Bungan, penyusuran melewati riam Bakang, riam Homatop, riam Lapan dan riam Matahari yang memiliki grade (tingkat kesulitan arung jeram) sampai 6. Masuk lagi jauh ke dalam kawasan, penyusuran akan menemukan gua dan sarang burung walet serta makam leluhur masyarakat Dayak yang disebut Tembawang.

Berbasis Kearifan Lokal

Sejauh ini terdapat 200 ha kawasan hutan konservasi di zona tradisional yang dikelola melalui kemitraan dengan masyarakat dan penguatan kelembagaan adat di koridor TNBK. Meski awalnya tidak tertulis, kearifan lokal selalu terdapat dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, dari aturan seharihari, pergaulan sosial, adat istiadat sampai pengelolaan sumber daya alam. Sampai saat ini pemenuhan kebutuhan kayu untuk rumah tangga dan keperluan lain kerap menjadi salah satu alasan masyarakat Kapuas Hulu menebang pohon dari kawasan. Itu sulit terhindar karena keberadaan warga jauh lebih dulu dari penetapan status taman na sio nal.

TNBKDS, bersama Pemkab Kapuas Hulu, membina sejumlah desa di daerah penyangga kawasan konservasi untuk menghindari konflik serta memenuhi hak kelola warga setempat. Namun, tetap mengedepankan konservasi.

Sejumlah program partisipasi masyarakat yang sudah dilakukan, di antaranya, pendirian kampung wisata, organisasi pemuda dan masyarakat sadar wisata, komunitas petani lebah madu hutan, hingga pembuatan instalasi biogas dari limbah ternak untuk bahan bakar memasak kue ataupun kuliner khas Kapuas Hulu, seperti dodol, kerupuk basah, kerupuk rebung dan lain-lain. Program lainnya ada lah mengorganisir masyarakat adat yang berada di seki tar kawasan dalam mengelola dan melestarikan 20 danau adat, termasuk Danau Sentarum.

“Saya paling se nang ikut masyarakat adat panen ikan di danau. Seru sekali. Sekali panen bisa ratusan ton. Hasil dari panen ikan itulah yang kemudian digunakan untuk keperluan masyarakat adat. Apabila me reka butuh ba han bakar penggerak mesin diesel untuk listrik di kampung nya, bisa pa kai uang dari hasil panen ikan ta di,” ujar Bupati Kapuas Hulu AM Nasir saat dibincangi tim Teras Indonesia KORAN SINDO di kediaman nya di Pontianak.

 

Membumikan NKRI

Isu pengelolaan kawasan perbatasan membuat TNBKDS menjadi target kebijakan Pemerintah Indonesia untuk pem ba - ngunan sarana dan prasarana. Ada 12 desa dalam kawasan TNDSdan2desadidalamTNBK, yang keseluruhan pen du duknya selama ini hidup harmonis dan secara arif menjaga kawasan. Di 12 desa itu be bera pa subetnis Dayak mendiami Danau Sen tarum: Dayak Iban dan Dayak Tamambaloh di ba gian barat kawasan; Dayak Taman, Da yak Kantuí, Da yak Kayan, Da yak Bukat di ba gian tengah; dan Da - yak Punan Hovongan di ba gi an timur ka wasan.

Kelompok masyarakat adat (Dayak) ini rata-rata masih menghuni rumah Betang (panjang), yang panjangnya lebih dari seratus meter. Terbuat dari kayu padat ber kualitas tinggi, rumah-ru mah panjang itu dihuni pu luh an keluarga dan menjadi pusat kehidupan serta aktivitas ma sya rakat Dayak. Di waktu-waktu tertentu pengunjung bisa men jumpai upacara Gawai Da yak, sebuah ungkapan syukur kepada Jubata (Tuhan) karena masyarakat mendapatkan panen berlimpah, sekaligus meminta agar panen berikutnya akan makmur. Bagi masyarakat Kapuas Hu lu, terutama Suku Dayak yang tinggal di rumah panjang, keberadaan sungai merupakan denyut nadi kehidupan sekaligus akses transportasi yang meng hubungkan mereka dengan dunia luar.

Putussibau sebagai ibu kota Kabupaten Ka - puas Hulu, yang terpisah jarak sekitar 800 km dari Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, menjadi gerbang utama tujuan ekowisata ke TNBKDS. Pintu lainnya bisa diakses lewat Serawak, Malaysia, yang berbatas an langsung dengan Kecamatan Badau, Kapuas Hulu,“ Tugas utama TNI di daerah perbatasan menjaga kedaulatan negara sekaligus meyakinkan masyarakat perbatasan bah wa negara hadir dan memerhatikan mereka,” kata Danyon 320/Badak Putih Letkol Inf Imam Wicaksana. Imam ber sama anggotanya mendapat giliran tugas menjaga pintu per - batasan RI-Serawak, Malaysia, selama 9 bulan ke depan.

 BACA JUGA:

Festival Budaya Dieng 2018, Sebelum Dicukur Anak Gimbal Dijamas

Ditetapkan sebagai Cagar Biosfer

Pada Sidang Ke30 International Coordinating Council (ICC) Man and Biosphere (MAB) Unesco, kawasan TNBKDS secara resmi dikukuhkan menjadi cagar biosfer baru dengan nama Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentrum Kapuas Hulu. Pengukuhan itu ber langsung di Palembang, Sumatera Selatan, pada 25 Juli lalu. Penghargaan ini menjadi bukti komitmen Kabupaten Kapuas Hulu dan TNBKDS dalam menjaga ke les tarian alam, sehingga men da patkan du - kung an dan peng akuan internasional.

“Disepakatinya status cagar biosfer ini antara Pemerintah Daerah Kapuas Hulu, Peme rin - tah Provinsi Kalimantan Barat, serta BBTNBKDS telah melalui proses panjang dan saling me - ya kinkan. Status cagar biosfer merupakan sebuah kebutuhan mengingat komitmen kita ada - lah sama, yakni memadukan anta ra pembangunan dengan ke lestarian kawasan hutan,” kata Kepala Balai Besar TNBKDS Arief Mahmud. Sekadar untuk diketahui, ratusan ribu penduduk di Ka puas Hulu masih sangat ber gantung pada kelestarian hu tan, baik pemanfaatan hasil hu tan bukan kayu (HHBK) seperti gaharu, madu, maupun potensi satwanya seperti ikan, potensi airnya, hingga potensi wisatanya.

Masya rakat adat yang hi dup di dalam kawasan telah diakomodasikan dalam zona tradisional dan zona khusus serta zona peman faatan. Artinya, masyarakat tetap dapat me manfaatkan dan mengelola hutan sesuai kaidah konservasi sehingga tercipta kelestarian. Aktivitas mereka pun terjamin aturan yang berlaku.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini