nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Arti di Balik Gelengan Kepala Khas Orang India

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 06 Agustus 2018 22:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 06 406 1932697 ini-arti-di-balik-gelengan-kepala-khas-orang-india-1BYCuZqVHQ.jpg Ilustrasi (Foto: Matadornetwork)

DI kota Thanjavur, di negara bagian Tamil Nadu di India Selatan, pasar jalanan dibanjiri oleh boneka kepala bergoyang. Mainan ini terkenal di Tamil sebagai Thanjavur Thalaiyatti Bommai, yang secara harfiah berarti boneka kepala goyang dari Thanjavur.

Bommai yang terbuat dari tanah liat yang dicat berwarna cerah, biasanya berupa sosok penari klasik atau sepasang lelaki dan perempuan dewasa, terdiri dari dua bagian: badan dan kepala yang yang dikaitkan dengan longgar di bagian leher.

Dengan sedikit sentuhan di kepala, atau bahkan angin yang kuat, dapat menyebabkan kepala bergoyang dari satu sisi ke sisi lain dengan cara yang hampir melingkar. Boneka ini adalah tiruan paling dekat dari gestur orang-orang India yang unik, yang sering membuat pengunjung negara itu bingung.

Satu hal yang paling banyak dibicarakan oleh pelancong di India - terlepas dari Delhi Belly (diare yang muncul saat melancong ke India) yang menakutkan, tentu saja - adalah gelengan kepala orang-orang India yang terkenal.

Gesturnya tidak sepenuhnya mengangguk (gerekan naik dan turun dari leher, dimaksudkan untuk menunjukkan 'ya') - atau menggeleng (dari satu sisi ke sisi lain untuk menyampaikan 'tidak'). Gerakan kepala itu halus dengan memiringkan kepala dari sisi ke sisi secara vertikal, baik dengan lembut atau tegas.

 

(Foto: Rediff)

Gelengan kepala itu juga disebut goyangan, bandulan, kibasan kepala India. Gerakan itu tidak menyentak atau keras, tetapi seimbang dan terus menerus.

Priya Pathiyan, seorang penulis berbasis di Mumbai yang juga memandu tur di kotanya untuk pelancong, menggambarkan gestur ini sebagai "agak seperti lambang infinity (lambang angka tak terhingga di matematika), atau angka delapan berbaring".

Ada berhalaman-halaman tulisan yang dikhususkan untuk itu di internet, belum lagi video-video demonstrasi, untuk menjelaskannya bagi para pelancong. Pencarian di YouTube menunjukkan ada puluhan orang yang antusias - baik orang India maupun orang asing - yang mencoba menjelaskan gelengan kepala orang India itu.

Beberapa tahun yang lalu, satu video semacam itu bahkan menjadi viral, dilihat lebih dari satu juta akun hanya dalam seminggu. Apakah gestur itu berarti mengiyakan? Atau semacam tanda tak setuju? Mengungkapkan kemungkinan? Tanda ketidakpastian? Kejengkelan, mungkin? Sulit untuk menjawabnya tanpa mengetahui konteksnya.

Pathiyan menganggap bahwa gestur itu sebagai tanda 'ya', atau setidaknya menunjukkan persetujuan. "Ada juga unsur bersikap ramah atau bersikap hormat, dan sulit untuk mengatakan dengan tepat yang mana kecuali Anda mengetahui situasinya," tambahnya.

Margot Bigg, seorang penulis perjalanan asal Inggris-Amerika yang tinggal di India selama lebih dari lima tahun dan sudah menulis buku panduan di negara tersebut, berpendapat bahwa berbagai jenis gelengan kepala memiliki arti yang berbeda.

"Seperti gelengan satu sisi bisa berarti 'ya' atau 'ayo pergi', sementara gelengan berulang yang lebih konsisten adalah pengakuan pemahaman."

Dalam pengalaman saya sendiri, semakin cepat gelengan, semakin antusias orang itu bersepakat - terutama ketika digunakan dengan alis terangkat untuk menambah penekanan. Tapi, di sisi lain, itu juga bisa digunakan untuk menyampaikan "Ok... terserah apa kata Anda..." disertai gestur bahu yang acuh tak acuh tanpa benar-benar mengangkat bahu.

Namun, gelengan kepala India lebih dari sekedar budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam penelitian mendalam yang dilakukan budayawan Geert Hofstede tentang norma-norma budaya di berbagai negara, India mencetak skor 77 untuk Power Distance.

Power Distance menunjukkan sejauh mana orang mengharapkan atau menerima ketidaksetaraan kekuasaan dalam masyarakat mereka sendiri. Skor India lebih tinggi ketimbang rata-rata dunia dengan skor 56,5.

Skor tinggi ini menunjukkan rasa hormat yang mendalam untuk hierarki sosial dan ruang lingkup terbatas untuk perselisihan dengan mereka yang dianggap superior dengan cara apa pun.

Lahir dan besar di negara ini, saya dapat memastikan bahwa orang India dibesarkan untuk bersikap luwes dan sopan, terutama untuk tamu dan para tetua, dan tidak suka mengatakan 'tidak' secara langsung. Kami bergumam dengan tidak jelas, kami tersenyum malu-malu, kami mengangguk dengan tidak jelas, semua untuk tidak membuat komitmen yang kuat.

Memang, gelengan kepala adalah isyarat yang dimaksudkan untuk menyampaikan ambiguitas, dan itu efektif berhasil. Pradeep Chakravarthy, seorang penulis dari Chennai dan konsultan perilaku perusahaan, mengatakan bahwa sikap ini adalah cara orang India menangani wilayah abu-abu dan membiarkan kesempatan di semua hubungan yang besar dan kecil.

"Dalam ekonomi agraris tradisional seperti yang ada di India, Anda tidak secara terbuka menyampaikan penolakan atau ketidaksepakatan dengan orang lain di masyarakat," katanya.

"Karena Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan membutuhkan bantuan mereka, dan mengatakan tidak berarti memutuskan hubungan sama sekali."

Chakravarthy menguraikan tentang formalitas mutlak hubungan dan hierarki dalam masyarakat India, yang berarti bahwa orang sering berada dalam situasi di mana tidak mungkin untuk mengatakan 'tidak'.

Ini biasanya berupa interaksi dengan bos di tempat kerja, orang tua dalam keluarga atau pemimpin di masyarakat.

Dalam kasus-kasus ini, gerakan yang tidak jelas ini datang sebagai kompromi yang sempurna, memungkinkan lawan bicara menafsirkan apa yang mereka inginkan, sambil menyediakan ruang untuk yang berbicara.

Seperti yang dikatakan Chakravarthy: "Saya tahu saya tidak bisa melakukannya, tetapi saya juga tidak bisa mengatakan tidak. Jadi daripada langsung menolak, saya mengulur waktu dengan menjadi tidak jelas dengan sengaja."

Secara teori, itu seperti resep untuk kebahagiaan yang utuh, tetapi sering kali menyebabkan kebingungan dan putus asa.

Meskipun hal ini benar terutama untuk interaksi lintas budaya, seperti ketika bos asing berurusan dengan karyawan India mereka atau ketika seorang turis mencoba berunding dengan pedagang kaki lima, ini kadang-kadang memiliki efek yang sama pada orang India, bahkan mereka yang menggunakan tindakan itu sendiri di situasi lain.

Jadi, terlepas dari semua video penjelasan itu, bukan seolah-olah orang India datang dengan kunci yang siap untuk memecahkan kode gelengan itu.

Saya sering menemukan diri saya ingin berteriak, "Apa sebenarnya yang Anda katakan?"

Sitkom Amerika Outsourced - konon berlatar belakang sebuah pusat panggilan (call centre) Mumbai - bahkan membuat sebuah episode khusus untuk membahas tindakan ini.

Suka atau benci, bermain dengannya atau tetap bingung, Anda tidak mungkin mengabaikan gelengan ini saat berada di India.

Kebanyakan orang India bahkan tidak sadar bahwa mereka melakukannya, dan banyak pelancong ke India menemukan diri mereka menirunya setelah beberapa waktu.

Anita Rao Kashi, seorang jurnalis dari Bangalore, berkata kepada saya, "Meski kami sangat ingin menyangkalnya, gerakan ini tertanam di India, diwariskan lewat keturunan."

Bigg juga mengaku menggeleng tanpa menyadarinya, terutama ketika dia berbicara dalam bahasa Hindi.

"Saya mendapati turis dari Barat menyadari saya melakukannya dan menunjukkannya kepada saya, tetapi itu adalah bagian dari kondisi alamiah saya sehingga saya sama sekali tidak menyadarinya," katanya.

Sebagai penduduk India seumur hidup, saya memiliki nasihat bagi mereka yang ingin memecahkan kode budaya India.

Ketika Anda menghadapi gelengan dari orang India, tanggapi dengan gelengan Anda sendiri; Anda mungkin akan memiliki teman seumur hidup.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini