nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gempa Lombok, Menpar Maklumi China Keluarkan Travel Advisory ke Warganya

Bayu Septianto, Jurnalis · Selasa 07 Agustus 2018 20:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 07 406 1933199 gempa-lombok-menpar-maklumi-china-keluarkan-travel-advisory-ke-warganya-nZCXCMOMbR.jpg Menteri Pariwisata Arief Yahya (Foto: Okezone)

MENTERI Pariwisata Arief Yahya memahami bila ada negara yang menerbitkan travel advisory (anjuran bepergian) pasca terjadinya gempa bumi berkekuatan 7 skala richter (SR) di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Salah satu negara yang telah menerbitkan travel advisory adalah negara China.

"Umumnya akan terjadi, tetapi spesifik. Contohnya China bukan mengeluarkan travel warning tapi travel advisory, itu khusus untuk Lombok. Kita memahami hal seperti itu karena memang kewajiban suatu negara mengingatkan warganya yang berada di daerah yang terkena bencana," ujar Arief di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Arief pun menyampaikan terima kasih atas ucapan duka yang disampaikan sejumlah negara atas bencana yang melanda Lombok dan tidak mengeluarakn travel advisory ataupun travel warning.

 (Baca Juga:Pasca Gempa Lombok, Ini Fokus Kementerian Pariwisata)

(Foto: Bayu/Okezone)

"Dan saya terima kasih terutama Australia, perdana menterinya langsung berbela sungkawa dan tidak mengeluarkan travel advisory ini membuat hati kita, tidak seorang pun menginginkan terjadinya bencana," ucap Arief.

Mengenai jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang terdampak bencana gempa di Lombok paling banyak berasal dari China, disusul Australia, kemudian Singapura, Malaysia, dan terakhir Eropa. "Kira-kira distribusinya sama seperti itu," kata Arief.

 (Baca Juga:4 Kegiatan yang Sering Dilakukan Wisatawan di Gili Trawangan)

Arief menambahkan adanya bencana dapat dipastikan akan mengurangi jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia. Namun, pemulihan akan dilakukan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk menggenjot junlah wisatawan pada tahun ini.

"Kita optimistis recovery yang seperti ini tidak terlalu lama, contohnya Bali itu sekitar tiga bulan sudah selesai. Kalau ini tanggap daruratnya kita tetapkan 3 minggu," pungkasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini