nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Intip Kehidupan Milenial dari Tempat Lahirnya Bangsa Viking, Tajir-Tajir Loh!

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Rabu 08 Agustus 2018 11:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 08 08 196 1933397 intip-kehidupan-milenial-dari-tempat-lahirnya-bangsa-viking-tajir-tajir-loh-F3CUZ1O6WZ.jpg Milenial (Shutterstock)

DI NEGARA yang terletak di bagian paling utara Eropa, situasinya terang-terangan berbeda dengan Negara lainnya. Sering dikenal dengan lahirnya bangsa Viking, olahraga salju, dan teluk yang terbentuk dari lelehan gletser, Norwegia kini dikenal sebagai satu-satunya negara maju di Eropa yang anak-anak mudanya kaya raya.

Penduduk berusia di 30 tahun awal di Norwegia memiliki pendapatan siap pakai (disposable income) per tahun sekitar USD56.000 atau Rp814 juta.

 Baca juga: Youtuber Ini Beberkan Pentingnya Kebersihan Kulit saat di Depan Kamera

Orang muda di Norwegia tengah menikmati kenaikan 13% pendapatan siap pakai, yang telah dipotong pajak, dibandingkan Generasi X (yang lahir antara 1966 dan 1980) ketika mereka mencapai usia yang sama.

 Orang Norwegia (Daily Mail)

Angka yang mengejutkan itu berasal dari data komperatif persebaran kekayaan terbesar, yaitu pusat data penghasilan Luxemburg. Data itu dianalisis dalam laporan terakhir tentang pendapatan per generasi untuk lembaga riset berbasis di Inggris, The Resolution Fondation.

Bandingkan temuan ini dengan yang dialami generasi muda di negara kuat: pendapatan milenial di AS turun 5% dibandingkan era sebelumnya, sementara di Jerman 9%.

Bagi mereka yang tinggal di Eropa selatan, pendapatan siap pakai bahkan turun hingga 30%. Negara-negara di kawasan itu paling merasakan dampak buruk krisis ekonomi global tahun 2008.

Tingkat pengangguran di kalangan muda-mudi Norwegia yang berusia 15-29 tahun juga terhitung rendah, yakni 9,4%, sementara di para anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) rata-rata berkisar 13,9%.

 Baca juga: Dari David Beckham hingga John Legend Ikut Rasakan Gempa Lombok, Bagaimana Responsnya?

'Situasi mujur'

 

Pada hari terik yang jarang terjadi di ibu kota Norwegia, Oslo, tak sulit menemukan orang muda yang menikmati keberuntungan negaranya.

 Orang Norwegia (Daily Mail)

"Saya tidak begitu memikirkan bagaimana cara saya menghabiskan uang," kata Aleksander Aarnes, sarjana berusia 25 tahun.

"Saya pergi ke teater setidaknya sekali sebulan, menonton film di biskop satu kali dalam sebulan. Saya bisa nongkrong, makan, dan minum di luar bersama teman-teman. Saya juga pergi berlibur."

Aarnes meniti karier sebagai penulis musik teater, namun belum meraih apapun dari perjuangannya. Maka dia membiayai gaya hidupnya dengan cara bekerja satu atau dua giliran di toko serba ada di Korsvoll, kota sepi yang penuh rumah kayu berwarna pastel.

Pemuda itu berbagi apartemen dengan seorang temannya di pinggiran kota, berjarak 20 menit perjalanan bus dari pusat kota.

 Baca juga: Mau Dilirik Wanita? Jangan Cuma Modal Tampang Doang!

"Saya sangat paham atas situasi mujur yang saya jalani. Saya tidak harus mengorbankan diri untuk mengejar karier yang saya dambakan," ujarnya.

Gaji per jam yang didapatkan Aarnes sekitar USD20 atau Rp280 ribu dan meningkat saat akhir pekan atau pada giliran kerja malam hari.

Setelah potongan pajak yang relatif tinggi di wilayah Skandinavia, Aaron mendapatkan sekitar USD1.700 atau Rp24 juta per bulan.

Setengah penghasilan itu digunakannya untuk sewa tempat tinggal, transportasi, dan tagihan lainnya. Sisanya ia gunakan untuk apapun yang disukainya.

Lebih jauh di Korsvoll, analis bisnis berusia 31 tahun, Øystein, memasukkan peralatan barbekyu ke mobil BMW miliknya. Ia tidak ingin menyebut nama lengkapnya dan berkata, "meski Norwegia adalah negara kaya, masyarakatnya tak ingin membicarakan seberapa tajir mereka."

Namun Øystein mengaku, ketika berumur 27 tahun, penghasilannya cukup untuk membeli apartemen dua kamar di kawasan tepi laut. Ia juga rutin plesir ke AS dan Asia.

Apa yang berbeda dengan Norwegia?

Gaya hidup muda-mudi Norwegia yang fantasis didasarkan pada pertumbuhan ekonomi pesat negara mereka.

Setelah mencatatkan kenaikan pendapatan terbesar di antara negara maju antara 1980 dan 2013, Norwegia kini memimpin sejumlah daftar global untuk isu kekayaan dan kesejahteraan. Norwegia mampu bertahan dari resesi global.

 Milenial

Tahun lalu, Norwegia berada di puncak Indeks Kesejahteraan Legatum yang menganalisis 110 negara di seluruh dunia.

 Baca juga: 5 Wanita Cantik Super Pintar, Ada yang IQ-nya Tembus 200!

Sektor minyak dan gas Norwegia jelas merupakan faktor yang mendorong kemajuan ekonomi negara itu selama tiga dekade terakhir, diikuti penemuan besar di North Sea, meski kejatuhan harga energi beberapa tahun terakhir sebenarnya juga berdampak pada mereka.

Namun seperti dijelaskan Hilde Bjørnland, profesor di BI Norwegian Business School, signifikansi itu bukan hanya soal seberapa banyak uang yang dihasilkan negaranya, tapi apa yang diperbuat olehnya.

"Norwegia sukses mengelola uang minyak untuk tabungan dan menggunakan sebagian porsinya untuk kesejahteraan masyarakat."

"Jadi daripada sedikit kelompok merasakan manfaatnya, banyak orang memiliki akses pada kekayaan itu," ujar Bjørnland.

Norwegia mencapai titik ini dengan menempatkan uang mereka di badan finansial yang mengatur dana publik dan menginvestasikannya ke berbagai aset. Secara sederhana, ini adalah periuk besar tabungan yang menghasilkan uang karena diinvestasikan di lebih dari 9000 perusahaan.

 Baca juga: Rahasia Wajah Segar dan Sehat Bambang Pamungkas

Dana itu kini mencapai sekitar US1 triliun

Selain itu, pajak tetap diberlakukan tinggi dan pemerintah Norwegia juga menekan struktur pengupahan, artinya gaji minimum dinegosiasikan oleh serikat pekerja.

"Orang muda dan mereka yang bekerja di industri berupah rendah merasakan kenaikan gaji setiap tahun...dan perbedaan antara mereka yang berpendapatan rendah dan bergaji tinggi tidak begitu lebar seperti di negara lain," kata Bjørnland.

Laporan The Resolution Foundation tentang pendapatan dari generasi ke generasi menyimpulkan, peningkatan ketimpangan merupakan faktor utama penurunan pendapatan siap pakai milenial di negara maju seperti AS, Inggris, dan Jerman.

Di negara-negara ini, di mana terdapat jurang perbedaan gaji yang besar, orang mudalah yang menanggung dampak negatif ketiadaan peningkatan upah dan mobilitas pekerjaan.

 Baca juga: Cara Mudah Atasi Pilek dan Bersin saat Bangun Tidur di Pagi Hari

Sebaliknya, Bjørnland menyebut pendekatan egaliter--distribusi kesejahteraan antargenerasi--berkontribusi pada tingkat kepuasan hidup yang besar dan ketiadaan keresahan sosial di Norwegia.

 Generasi Milenial

Bantuan finansial bagi kelompok tidak mampu dan jaminan kesehatan yang disubsidi pemerintah juga berdampak positif pada masa depan milenial di Norwegia, tak seperti yang terjadi di negara Eropa lain.

Fasilitas bagi pengangguran cukup banyak: mendapat uang sebesar 60% dari pendapatan selama dua tahun terakhir di saat mereka berupaya meraih pekerjaan baru.

Seperti di negara Nordik lainnya, ongkos pengasuhan anak rendah dan sistem cuti orang tua juga memastikan partisipasi tinggi perempuan di lapangan pekerjaan.

Pendidikan gratis di hampir semua sekolah dan universitas negeri serta akses mudah untuk pinjaman (peminjam tidak membayar bunga selagi masa pendidikan), di samping tingkat penerimaan kerja yang tinggi juga berpengaruh pada situasi itu.

 Baca juga: Cara Mudah Cegah Hipertensi, Periksa Tekanan Darah Teratur

"Ini adalah faktor yang signifikan, ketika orang muda menempuh pendidikan, mereka bisa mendapatkan pekerjaan sampingan," kata Bjørnland.

Ia berkata, pekerjaan sederhana kerap memberi pendapatan besar bagi muda-mudi Norwegia, tidak seperti di negara barat lainnya.

Pemikiran Bjørnland itu diutarakan pula oleh gerombolan pelajar yang tengah bersantai di Sungai Akerselva, beberapa meter dari gedung kaca bercahaya yang mendominasi bangunan kampus.

"Tidak sulit mendapatkan pekerjaan di sini dan mereka selalu memberi gaji yang layak. Jadi ini sangat membantu menanggung plesir dan biaya pendidikan anda," kata Gabriella Sanzana, mahasiswa berumur 27 tahun dari Chile.

Sanzana yang tengah mengejar gelar S2 di bidang hak asasi manusia bekerja paruh waktu sebagai pramusaji.

"Saya harus membayar pajak tinggi, tapi saya tidak peduli karena pada saat yang sama pemerintah memberi saya banyak fasilitas," ujar Sanzana.

Masa depan terjamin?

Di luar keberhasilan Norwegia, ada sejumlah perhatian bagaimana negara ini melanjutkan kesuksesannya.

Tingkat penerimaan kerja generasi muda menurun, berdasarkan kajian terakhir OECD bertajuk Investing in Youth: Norway.

 Baca juga: Begini Sosok Mertua Tasya Kamila yang Ternyata Sosialita Tajir, Temannya Kebanyakan Selebriti!

Penelitan itu menyatakan, jumlah peluang kerja untuk warga berusia 15 hingga 29 tahun tidak setara dengan kebtuhan populasi kaum muda yang membengkak, meningkat 18% antar 2007 dan 2016.

Lebih dari 4/5 penyebab situasi itu adalah imigrasi dan tingkat pengangguran di antara populasi yang lahir di luar Norwegia kini sekitar 10%.

Kristian Heggebø, peneliti senior di Pusat Perburuhan dan Penelitian Kesejahteraan di Universitas Metropolitan Oslo, menyebut meski pelajar asing yang berpendidikan baik dan buruh migram dari negara Eropa cenderung sukses di pasar tenaga kerja, terdapat kecenderungan tinggi yang terus-menerus soal diskriminasi etnis minoritas.

 Baca juga: Pasta Gigi Bisa Dipakai untuk Mengencangkan Payudara, Benarkah?

"Dalam beberapa hal barangkali karena kualifikasi yang rendah, tapi tidak dipungkiri bahwa isu diskriminasi ini ada di sisi permintaan tenaga kerja, bukan penawaran," ujarnya.

Heggebø berkata, terdapat bukti empiris kuat yang menunjukkan bahwa meski tingkat imigrasi meningkat selama dua dekade terakhir, banyak orang di negara itu masih skeptis untuk mempekerjakan orang yang tak berlatar belakang Norwegia.

Bahkan generasi kedua imigran yang meraih gelar pendidikan dari negara Nordik susah payah mendapatkan akses ke pasar tenaga kerja, kata Heggebø.

Menurutnya, daftar riwayat hidup tanpa nama pada tahap awal rekrutmen karyawan dapat menjadi solusi krusial dalam situasi itu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini