Kenapa Bayi Tidak Boleh Konsumsi Madu?

Dinno Baskoro, Jurnalis · Kamis 09 Agustus 2018 15:35 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 09 481 1934041 kenapa-bayi-tidak-boleh-konsumsi-madu-ZK7vbEeJQ0.jpg Bayi makan (Foto: Parentsmagazine)

DIKENAL sebagai panganan sehat, namun madu tidak disarankan dikonsumsi sembarangan, terlebih untuk bayi. Kenapa?

Seperti diberitakan TheJapanTimes belum lama ini, Seorang bocah laki-laki berusia 6 bulan di Adachi Ward, Tokyo meninggal karena menderita botulisme.

Usut punya usut, ia meninggal karena diberi makan madu oleh keluarganya. 2 kali dalam sehari, bayi tersebut selalu mengonsumsi jus yang dicampur madu selama satu bulan.

Seorang anggota keluarga mengatakan, “Kami mencampurkan madu ke dalam jus yang dibeli di toko dan memberikannya kepada bayi kami karena kami pikir itu baik untuk tubuhnya,"

BACA JUGA:

Tanpa Obat, 5 Makanan Ini Ampuh Turunkan Kadar Gula Darah

Sayangnya, bayi itu harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami kejang dan menderita gagal napas. Tes laboratorium menemukan bahwa ia telah menelan madu yang terkontaminasi bakteri penghasil racun atau dikenal sebagai Clostridium botulinum, hingga si bayi menderita penyakit botulisme pada bayi.

Bocah itu meninggal sebulan kemudian dan menjadi kematian pertama yang disebabkan oleh botulisme di Jepang sejak 1986. Lantas apa itu botulisme pada bayi?

Botulisme adalah penyakit yang dapat terjadi ketika bayi mencerna bakteri yang menghasilkan racun di dalam tubuh. Hal ini disebabkan oleh paparan spora Clostridium botulinum (C. botulinum).

Bakteri dari spora dapat tumbuh dan berkembangbiak di usus bayi, menghasilkan racun yang berbahaya. Kondisi ini dapat terjadi pada bayi hingga usia 12 bulan, karena pada rentang usia tersebut sistem pencernaan bayi belum matang sempurna.

Tanda dan Gejala Botulism pada Bayi

Gejala botulisme dimulai antara 3 hingga 30 hari setelah bayi menelan spora. Meskipun botulisme bayi dapat diobati, namun penting bagi orangtua untuk segera menyadari jika si kecil mengalami tanda-tanda seperti bayi mulai tampak lemah, kesulitan dalam menghisap atau menyusui.

Selain itu ada beberapa gejala lain dari botulisme pada bayi:

- Ekspresi wajah yang datar

- Tidak nafsu makan atau cara makan yang lamban

- Menangis dan terlihat lemas

- Malas bergerak

- Kesulitan menelan air liur hingga selalu ngeces

- Kelemahan otot

- Masalah pernapasan

 

 BACA JUGA:

Perjuangan Monika Anggreini Menjadi Seorang Kapten Pilot Perempuan

Mencegah Botulism pada Bayi

Salah satu cara untuk mengurangi risiko botulisme pada bayi adalah tidak memberikan bayi madu atau makanan olahan yang mengandung madu sebelum ulang tahun pertama mereka.

Madu adalah sumber bakteri Clostridium botulinum. Bakteri ini tidak berbahaya bagi anak-anak dan orang dewasa yang lebih tua karena sistem pencernaan mereka lebih matang.

Kemudian masaklah makanan kaleng hingga matang sempurna untuk mengurangi risiko kontaminasi spora C. botulinum. lalu rebus makanan yang hendak dikonsumsi bayi selama 10 menit sebelum menyajikannya.

Selain terdapat pada madu, spora Clostridium botulinum juga tersebar di mana-mana. Mereka ada di debu bahkan di udara. Karena itu jika memiliki bayi, alangkah lebih baik jika rajin membersihkan lingkungan rumah. Demikian seperti dikutip Theasianparent, Kamis (9/8/2018)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini