Mencicipi 'Memek', Kudapan Khas Simeulue yang Unik dan Melegenda

Windy Phagta, Jurnalis · Senin 13 Agustus 2018 15:49 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 13 298 1935867 mencicipi-memek-kudapan-khas-simeulue-yang-unik-dan-melegenda-rBqzS7i4FN.jpg Memek, kudapan khas Simeulue (Foto: Windy Phagta/Okezone)

BAGI Anda pencinta kuliner Nusantara, inilah saat yang paling tepat untuk berburu berbagai jajanan khas Aceh. Sebab, kuliner dari seluruh Kabupaten dan Kota di Aceh, dihadirkan dalam festival kuliner di Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7.

Salah satu yang menarik perhatian dari festival ini adalah 'memek' (huruf 'e' diucapkan seperti dalam kata 'elang'). Makanan khas dari Kabupaten Simeulue ini terbuat dari campuran beras ketan yang digonseng dan pisang.

Kedua bahan utama tersebut dicampur dengan santan yang sudah dipanaskan, gula dan garam. Proses pembuatannya butuh waktu sekitar satu jam. Setelah masak, memek dapat disantap langsung atau saat sudah dingin.

 (Baca Juga:Alasan Manusia Kuat Makanan Pedas, Kamu Termasuk?)

Di dalam festival kuliner ini, memek dijual di stand Simeuleu di areal Festival Kuliner yang digelar di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Aceh. Memek dimasukkan ke dalam gelas plastik dan dijual seharga Rp5 ribu per porsi.

 

Seorang penjaga stand Simeulue Almawati, mengatakan, sejak hari pertama banyak pengunjung yang datang mencari kudapan memek di stand milik daerahnya. Bahkan, ada beberapa pengunjung PKA yang membeli memek untuk dibawa ke Jakarta.

"Banyak yang cari memek ini bahkan sudah sampai ke Jakarta. Mereka rata-rata penasaran dengan makanan khas Simeulue ini," kata Almawati.

Menurutnya, nama memek berasal dari 'mamemek' yang berarti mengunyah-ngunyah atau menggigit. Namun saat ini masyarakat di Simeulue lebih populer menyebutnya sebagai memek.

 (Baca Juga:Jajal Bikin Sendiri Pie Susu Oleh-Oleh Makanan Khas Bali)

"Jadi ini namanya memek. Enggak boleh diganti karena dari nenek moyang kami namanya yaitu memek," jelas Almawati.

 

Selama ini, memek memang tidak setiap hari bisa dijumpai di pulau yang dikenal dengan penghasil cengkeh dan lobster itu. Karena makanan ini biasanya disajikan sebagai menu berbuka di bulan Ramadan. Pada bulan itu, hampir semua masyarakat membuat memek untuk disantap ketika buka puasa.

 (Baca Juga:Nasi Kuning Bertabur Cakalang, Juara Nikmatnya di Manado)

"Tapi kalau hari-hari biasa kalau dipesan ada juga. Karena ini bahannya santan jadi tidak tahan lama. Kami tidak pakai pengawet sehingga tidak ada efek samping saat dimakan," ujar Almawati.

Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Irmayani mengatakan, Aceh sangat kaya dengan berbagai macam kuliner khasnya. Dari 23 kabupaten/kota di Aceh masing-masing memiliki makanan khas tersendiri.

Melalui PKA-7 ini, semua jenis makanan dan kuliner khas tersebut ditampilkan. Dalam event tersebut juga ada festival kuliner.

“Ini semua tujuannya agar kuliner khas tersebut terus dipertahankan. Jangan sampai tergerus zaman,” kata Irmayani.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini