Sensitif Terhadap Bunyi? Bisa Jadi Anda Memiliki Misophonia

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 13 Agustus 2018 14:02 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 13 481 1935763 sensitif-terhadap-bunyi-bisa-jadi-anda-memiliki-misophonia-MNfXche1n1.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

ANDA tentu tahu bila saat makan ada etika yang harus dituruti karena alasan kesopanan. Salah satunya adalah berusaha makan setenang mungkin dengan tidak mengeluarkan suara keras saat mengunyah atau menyeruput. Sebab, tindakan ini dapat mengganggu orang lain yang mendengarnya.

Akan tetapi, beberapa orang ada yang memiliki pendengaran sangat sensitif. Suara mengunyah atau menyeruput yang sangat pelan bisa didengarnya dan membuatnya ingin teriak karena merasa terganggu. Hal ini terkait kondisi neurologis yang dikenal dengan istilah misophonia yaitu kepekaan berlebih terhadap suara mengunyah, batuk, menguap, dan banyak lagi.

Bahkan ada yang memiliki kasus misophonia lebih ekstrem dibanding yang lain. Mereka bisa benar-benar terganggu oleh suara-suara dan sampai pada titik membutuhkan terapi perilaku kognitif.

 (Baca Juga:Tak Hanya Menjijikkan, Rambut pada Makanan Bisa Sebabkan Penyakit Berbahaya)

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Current Biology tahun lalu, terungkap bila orang-orang dengan gangguan misophonia memiliki perbedaan di lobus frontal otaknya. Hal ini menyebabkan reaksi keras terhadap suara, dan bahkan dapat menyebabkan detak jantung lebih cepat serta keringat berlebih.

 

Sementara itu, pada Februari lalu penelitian lain menemukan bahwa memiliki misophonia dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk belajar. Menurut peneliti, suara yang halus seperti permen karet cukup untuk memengaruhi kinerja akademis. Hasil penelitian ini kemudian diterbitkan dalam jurnal Applied Cognitive Psychology.

 (Baca Juga:15 Fakta Hipertensi si Pembunuh Senyap, Gejalanya Sulit Dideteksi!)

"Beberapa orang sangat sensitif terhadap suara latar belakang yang relatif halus seperti mengunyah. Kepekaan ini cukup mengganggu untuk merusak pembelajaran," ungkap salah seorang peneliti, Logan Fiorella seperti yang dikutip Okezone dari Health, Senin (13/8/2018).

 

Ia melanjutkan, hasil penelitian ini mungkin sangat penting bagi siswa yang memiliki tingkat sensitivitas misophonia lebih tinggi. Mereka bisa menghindari belajar di tempat-tempat yang memiliki banyak suara seperti suara mengunyah, batuk, mengklik pena, atau kertas bergesekan. Dengan begitu mereka dapat belajar lebih fokus.

"Namun bila hal itu tidak dapat dihindari, penggunaan penutup telinga, fokus pada suara sendiri, atau menggunakan dialog internal yang positif dapat membantu proses pembelajaran," pungkas Logan.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini