nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Paru-paru Buatan Berhasil Ditransplantasikan

Agregasi Koran Sindo, Jurnalis · Senin 13 Agustus 2018 13:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 13 481 1935769 paru-paru-buatan-berhasil-ditransplantasikan-AjJvatk93n.jpg Paru paru buatan berhasil ditransplantasikan (Foto:Ilustrasi)

PARA ilmuwan telah mengembangkan paru-paru buatan yang sukses ditransplantasikan pada babi. Paruparu yang diciptakan di laboratorium ini merupakan pengembangan sel babi yang dicangkok.

Setelah ilmuwan mentransplantasi paru-paru yang diolah secara biologis, organ-organ tersebut diisi penuh dengan oksigen. Paruparu yang dicangkok menunjukkan pengembangan pembuluh darahnya sendiri. Pada percobaan sebelumnya, para ilmuwan sering mengalami kegagalan transplantasi.

Darah dan oksigen tidak mengalir secara benar pada paru-paru yang ditanam. Sekarang para ilmuwan dari Un versity of Texas Medical Branch di Galveston berhasil membangun dan mentransplantasikan empat paru-paru babi yang dapat menumbuhkan pembuluh darah mereka sendiri.

Transplantasi paru-paru yang telah diuji pada hewan dapat digunakan untuk menyelamatkan ribuan nyawa dalam satu tahun. Paru-paru yang direkayasa bisa dibuat dari sel pasien sendiri sehingga pasien tidak harus mengambil obat untuk menekan kekebalan sistem tubuh.

 Mengenal Pneumonia, Penyakit Mirip Flu yang Buat Ronaldo Kritis

Pada saat pasien membutuhkan dan menunggu organ donor, kebanyakan pasien akan meninggal dunia karena terlalu lama menahan rasa sakit. Organ donor yang diberikan pun belum tentu cocok dengan pasien. Daftar tunggu organ paling atas juga tidak bisa menjamin akan mendapatkan paru-paru baru.

Ditambah dengan trans plantasi yang akan dilakukan, tidak menjamin keberhasilan. Untuk menyesuaikan dengan tubuh pasien, paru-paru harus dimodifikasi.

Proses modifikasi juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Pasien yang sedang menunggu donor organ membutuhkan obat imunosupresan untuk menjaga tubuh mereka. Akan tetapi, obat yang dikonsumsi dapat menolak paru-paru baru dan menimbulkan bahaya signifikan.

Ada 1.455 orang yang menunggu donor paru-paru dalam daftar United Network for Organ Sharing (UNOS). Sedangkan dalam daftar kebutuhan organ paru dunia, ada 7.000 orang masuk dalam daftar tunggu, dengan 350 orang membutuhkan transplantasi paru-paru untuk kondisi seperti cyctic fibrosis dan emfisema.

“Perkembangan jumlah orang yang mengalami cedera paru-paru parah telah meningkat di seluruh dunia, sementara jumlah organ yang dapat ditransplantasikan mengalami penurunan,” kata Dr Joaquin Cortiella dikutip dari Dailymail. Perbedaan antara paru-paru buatan dan paru-paru donor adalah pembuluh darah.

Paru-paru buatan akan mengembangkan pembuluh darahnya sendiri, sedangkan paru-paru donor sudah dilengkapi dengan pembuluh darah bawaan. Pada saat pemasangan, paru-paru donor memiliki tingkat pemasangan rumit.

Ahli bedah harus memasang secara hati-hati agar setelah ditransplantasikan, paruparu donor bisa bekerja secara normal. “Tujuan utama kami adalah menyediakan opsi baru bagi banyaknya orang yang menunggu transplantasi,” kata Cortiella.

Sementara itu, para ilmuwan mengembangkan organ paru-paru di laboratorium menggunakan sel-sel pasien untuk memastikan kecocokan yang sempurna. Teknologi pun turut berjuang untuk meniru pembuluh darah paru-paru organik yang sangat rumit dan halus.

Walaupun para ilmuwan sering mengalami kegagalan, tetapi pada akhirnya menemukan keberhasilan. Metode yang digunakan mampu mengembangkan pembuluh halus dan bisa diterima oleh tubuh pasien. Bentuk dasar paru-paru sangat penting untuk membangun paru-paru baru dengan seluruh komponen tubuh.

Protein yang dimiliki paru-paru dapat menjadi fungsi utama kelancaran jaringan oksigen. Tetapi, jika ada bekas dari organ dalam hewan, maka organ baru pun tidak bisa menjadi pasangan yang sempurna dan dapat ditolak. Para ilmuwan perlu membersihkan sel scaffold yang ada dengan proses dekellularization .

Artinya, mencucinya dengan kombinasi gula dan deterjen sehingga menyisakan kandungan protein. Setelah itu, ilmuwan menempatkan perancah ini ke dalam tangki dan memandikan bertahap dalam ëkoktailí sel dan nutrisi penerima babi. Para ilmuwan mengikuti detail protokol atau resep pembuatan paru-paru.

Selama 30 hari, para ilmuwan mengawasi setiap pertumbuhan paruparu. Sedikit demi sedikit paru-paru buatan tersebut tumbuh dengan baik hingga pada tahap untuk ditransplantasikan. Kemudian para ilmuwan menunggu selama dua pekan untuk melihat perkembangannya.

Hasilnya sangat mengejutkan, para ilmuwan melihat bahwa benih pembuluh darah yang mereka tanam telah tumbuh pada jaringan kuat untuk membawa darah melalui paru-paru. Dalam waktu satu bulan dan dua bulan, organ yang dikembangkan di laboratorium berfungsi sangat baik dan semakin membaik.

Dr Joaquin Cortiella mengatakan, tidak melihat tanda-tanda edema paru yang biasanya merupakan tanda pembuluh darah kurang matang. “Paru-paru rekayasa genetika terus mengalami per kem bangan (baik) setelah transplantasi tanpa infus pertumbuhan, tubuh menyediakan semua nutrisi yang dibutuhkan paru-paru baru,” katanya.

 Saingi Milenial, Nenek 90 Tahun Tak Mau Kalah Bergaya di Medsos

Pada dasarnya, paru-paru baru bisa jenuh oksigen yang diterima. Pengujian pada babi yang hanya memiliki satu paru-paru, ilmuwan belum bisa melakukan pengujian sepenuhnya.

“Ini telah mengambil banyak hati dan 15 tahun penelitian yang didapatkan sejauh ini, tim kami telah melakukan sesuatu luar biasa dengan anggaran kecil dan sekelompok orang luar biasa sudah berdedikasi,” kata Nichols, rekan satu tim Cortiella.

Mereka berpikir bahwa dengan pendanaan yang tepat, paru-paru seperti yang ditanam pada babi, dapat juga ditanam untuk manusia. Hal ini kemungkinannya dapat diwujudkan dalam waktu 5 hingga 10 tahun dari sekarang.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini