nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Layaknya Udara, Gajah Sumatera Jadi Perhatian Khusus dari Tulus

Annisa Aprilia, Jurnalis · Rabu 15 Agustus 2018 19:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 15 406 1937042 layaknya-udara-gajah-sumatera-jadi-perhatian-khusus-dari-tulus-QkZKPnMYL1.jpg Tulus (Okezone)

TULUS sebagai salah satu publik figur yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Indonesia belakangan ini nampak aktif membagikan informasi terkait kondisi lingkungan hidup dan gajah Sumatera. Tidak hanya itu saja, Tulus pun telah memulai langkahnya demi menyelamatkan lingkungan dan gajah Sumatera yang sudah berada di garis merah kepunahan.

Alasannya melakukan hal tersebut cukup sederhana, ia ingin mengingatkan dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya peran gajah bagi kehidupan. Meskipun habitat gajah cukup jauh dari pemukiman, tapi bagi Tulus gajah dianalogikan seperti udara yang luar biasa manfaatnya walau tidak terlihat.

 Baca juga: Minum Alkohol Perlahan Hancurkan Gigi Anda, Masih Berani?

Tulus (Annisa Aprilia/Okezone)

“Mudah-mudahan dengan analogi seperti itu bisa menyederhanakan pemahaman teman-teman sehingga lebih peduli dan tergerak hatinya untuk peduli sama gajah,” ungkap Tulus dalam Launching Wardah Inspiring Movement, Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Tidak tanggung-tanggung, untuk melakukan aksinya ini Tulus langsung terjun ke hutan sekira empat hingga lima hari, dengan tujuan mengantarkan kalung pendeteksi lokasi yang kemudian dipasangkan ke leher para pemimpin rombongan gajah. Tulus sendiri dalam aksi yang dia lakukan berperan sebagai inisiator, yang bekerjasama dengan banyak pihak walau awal mula gerakannya terbilang kecil.

 Baca juga: Untung Ruginya Jadi Orang Kidal, Sering Diejek Tapi Punya Kreasi Tinggi!

“Di media apapun sebisa mungkin saya ingin menyampaikan kondisi gajah, karena kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan dengan kita bikin kegiatan dan menggalang kepedulian saja populasi sudah turun, apalagi tidak sama sekali. Aksi ini dilakukan di beberapa taman nasional di Indonesia, kalau yang sebelumnya di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, nah yang belum lama ini saya mengunjungi Taman Nasional Teslo Nilo di Riau. Kita concern ke gajah Sumatera otomatis konsenterasinya di Pulau Sumatera,” imbuh Tulus.

 Gajah (okezone)

Tulus mengaku sebelumnya sudah pernah bertemu dengan gajah, tapi pada pertemuan kali kedua ini dia merasa karakternya sedikit berbeda, karena kondisi Taman Nasional Teslo Nilo sendiri menurut pemaparannya merupakan hutan yang ditanam kembali setelah dulu digunakan sebagai lahan pertanian. Sedangkan, karakter gajah yang ia temui tetap hangat, menyenangkan, dan pintar.

 Baca juga: Gaya Tatjana dan Tulus Selamatkan Lingkungan, Cantik dan Hebat Belum Cukup!

“Peran gajah bagi lingkungan adalah penyebaran bibit tertentu. Jadi, ada bibit yang bisa diterbangkan oleh angin, ada yang disebarkan oleh hewan-hewan yang tubuhnya lebih kecil, dan ada juga bibit yang hanya gajah yang bisa menyebarkan bibitnya itu, kalau spesifiknya saya nggak inget, tapi ada tanaman besar yang bibitnya itu efektif dibawa oleh gajah. Gajah kan makan kemudian hasil makannya, pembuangannya untuk pupuk dan itu menyebar di mana-mana,” jelasnya.

Setelah terlibat, terjun langsung, dan berkontribusi sejauh ini, Tulus berharap ingin aksi tersebut dilakukan seluas-luasnya. Kalau pada 2018 ia dan aksinya bisa mendatangkan lima kalung pendeteksi lokasi, selanjutnya Tulus ingin lebih banyak kalung lagi. Harga kalung cukup mahal dan belum diproduksi di Indonesia, untuk kisaran harga kalung yang seberat 50 kg tersebut menurut Tulus harganya sekira Rp40 juta.

Masih dalam penjelasannya, Tulus mengatakan kalung pendeteksi dipasangkan ke pemimpin atau ketua kelompok gajah, lalu datanya secara frekuensi terkumpul ke pusat pengumpulan data gajah yang bemukim di hutan. Yang diawasi pola pergerakan gajah, jangan sampai mendekati kawasan konfilik dan membahayakan bagi dia. Kalau pun mendekati kalung itu bisa digunakan untuk menghalau lagi untuk kembali ke daerah lebih aman.

“Lingkungan ini tempat hidup kita bersama, jadi sudah sangat lumrah lah kita mesti jaga sama-sama. Kalau bukan kita ya siapa lagi, karena kita sekolah belajar, mencoba memperpandai diri tapi menurut saya level kepandaian tertinggi saat kita peduli, kalau belum peduli artinya belum pandai,” tandasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini