nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tahun 2020 Vaksin Diharap Tidak Pakai Bahan Hewani

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 15 Agustus 2018 12:43 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 15 481 1936788 tahun-2020-vaksin-diharap-tidak-pakai-bahan-hewani-KbYc9RMJTl.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

KITA tahu bahwa selama ini bahan baku yang dipakai dalam pembuatan vaksin berupa hewani. Hal ini sayangnya memicu polemik masyarakat Indonesia karena mengganggap tidak halal.

Masalah tersebut akhirnya jadi tantangan pemerintah dalam menjalankan program imunisasi nasional. Banyak orangtua menolak anaknya disuntik vaksin karena takut haram.

Direktur Utama PT Bio Farma M Rahman Rustan mengatakan, untuk produk-produk biologi khususnya di bidang farmasi, tantangan sangat tinggi. Saat ini 95% obat impor, maka harus dipastikan aspek halalnya yang jelas.

"Banyak produk obat impor, maka kita yakinkan aspek halalnya seperti apa di luar sana. Ke depan kita ingin produk baru agar tidak ada isu ini (haram-red)," ujar Rahman saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

 (Baca Juga:Sering Anda Lakukan, Ini 5 Cara Minum Obat yang Keliru)

Oleh karenanya, banyak produk obat maupun vaksin jadi kebutuhan masyarakat. Hal ini tidak dapat dipungkiri, sehingga PT Bio Farma sepakat memperhatikan aspek halal dalam memilih bahan baku vaksin.

 

Adapun jenis vaksin baru yang diproduksi, tambah Rahman, kelak memilih menggunakan rekombinan (rekayasa genetik), yang diproduksi di laboratorium.

"Membuat satu produk baru butuh waktu 15-20 tahun. Kita sendiri melakukan di laboratorium, meski bahan hulunya virus dan bakteri. Tapi media pertumbuhan, bahan penambah, zat pembentuk komponen Vaksin ini kita harap bukan dari hewani," terangnya.

 (Baca Juga:Bahaya Beri Bayi Air Putih Sebelum Usianya 6 Bulan, Bisa Keracunan Loh!)

Dalam waktu dekat, produsen farmasi terbesar di Indonesia itu menggandeng lembaga riset nasional. Para periset mulai dikumpulkan untuk berembuk memilih bahan vaksin selain dari hewani.

"Para periset ini berkumpul sama-sama mengumpulkan penelitian untuk percepatan produk baru. Kalau dilakukan sendiri sangat lama, karena target kami uji laboratorium awal selesai tahun 2020," beber Rahman.

Di samping itu, jelasnya, untuk pengembangan satu produk vaksin butuh mikro trial ke hewan uji dan pasien. Waktunya tidak sebentar, apalagi di satu sisi para peneliti berkumpul.

"Kalau berhasil, barulah bisa dikatakan produk vaksin itu terjamin khasiat, kualitas, dan keamanan terjamin," simpulnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini