nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bahaya Gizi Buruk, Ini Pentingnya Pantau Perkembangan Anak di 1.000 Hari Pertama

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 15 Agustus 2018 21:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 15 481 1937051 bahaya-gizi-buruk-ini-pentingnya-pantau-perkembangan-anak-di-1-000-hari-pertama-xukOyRml0l.jpg Bayi (Babycenter)

MELIHAT anak tumbuh sehat dan aktif tentu menjadi impian bagi semua orang tua. Oleh karena itu, sangat penting bagi para ibu untuk memantau tumbuh-kembang anak pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Pasalnya, pada periode ini lah pertumbuhan anak sedang pesat-pesatnya. Sebelum membahas lebih lanjut, perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan 1.000 hari pertama kehidupan dimulai saat pembuahan di dalam rahim, sampai anak berusia 2 tahun.

Baca juga: Minum Alkohol Perlahan Hancurkan Gigi Anda, Masih Berani?

Balita

Di usia 2 tahun, anak seharusnya sudah mencapai setengah tinggi badan orang dewasa, dan perkembangan otaknya pun sudah mencapai 80% dari otak dewasa. Tidak hanya secara fisik, perkembangan kemampuan struktur dan fungsi tubuh anak pun akan menjadi lebih kompleks, contohnya kemampuan bayi bertanbah dari berguling menjadi duduk, berdiri, dan berjalan.

Namun sayangnya, angka kejadian gangguan tumbuh kembang anak di Indonesia terbilang tinggi. Riset Kesehatan Dasar 2013 menyebutkan angka kejadian anak pendek akibat masalah gizi di Indonesia mencapai 37,2%. Untuk mencegahnya, orang tua perlu memantau tumbuh kembang anak, terutama di bawah usia 2 tahun.

Baca juga: Tidak Hanya Hasilkan Sperma, Penis Juga Dapat Membersihkan Vagina

Tujuan pemantauan tumbuh kembang anak sendiri adalah untuk deteksi dini apabila terjadi penyimpangan pertumbuhan semisal gizi buruk, penyimpangan perkembangan seperti terlambat bicara, serta penyimpangan mental emosional anak yang menyangkut gangguan konsentrasi dan hiperaktif.

Balita

Menurut penjelasan dokter spesialis anak dr. Margareta Komalasari, Sp.A, masa tumbuh kembang anak itu terbagi menjadi 3 periode yakni, pre natal (280 hari dalam kandungan), pasca-natal (180 hari setelah kelahiran), sampai dengan 540 hari (usia 6 bulan - 2 tahun).

"Di tiga periode inilah orang tua harus aktif memberikan stimulasi dan memantau tumbuh kembang anak," tutur Margareta, dalam diskusi 1.000 Hari Pertama Anak yang diselenggarakan oleh Teman Bumil, di bilangan Jakarta Pusat, Rabu (15/8/2018).

Baca juga: Untung Ruginya Jadi Orang Kidal, Sering Diejek Tapi Punya Kreasi Tinggi!

Lebih lanjut ia menerangkan, ada 3 faktor utama yang memengaruhi tumbuh kembang anak yakni, faktor genetik, lingkungan, dan nutrisi. Idealnya ketiga faktor tersebut harus saling berintegrasi agar si kecil bisa tumbuh sehat dan optimal.

"Sejak dalam kandungan bayi itu sudah bisa mendengar, melihat, dan merasakan. Stimulasi yang kita berikan itu akan disimpan di memori dalam otaknya," tegas Margareta.

"Hasilnya, bayi yang sudah diberi stimulasi dalam kandugan, serta mendapatkan gizi yang baik, dan lingkungannya pun mendukung, akan memicu sang anak memiliki multiple inteligrnce. Oleh karena itu, semua aspek pada anak harus dikembangkan," sambungnya.

Baca juga: Tips Bikin Rumah Tetap Nyaman di Musim Kemarau

Pemberian vaksin pun diperlukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Banyak orang tua yang menyepelekan hal tersebut karena mereka merasa telah memberikan nutrisi yang cukup kepada sang anak.

"Pemberian vaksin atau imunisasi itu penting. Saya banyak mendapati orang tua yang enggan memberikan vaksin karena mereka mengira penyakit-penyakit berbahaya seperi meningitis hanya terjadi di luar negeri. Padahal, dengan memberikan vaksin secara tidak langsung akan mengoptimalkan tumbuh kembangnya," tukas Margareta.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini