nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenang Alex dan Frans Mendur, 2 Bersaudara yang Abadikan Momen Kemerdekaan Indonesia 73 Tahun Lalu

Subhan Sabu, Jurnalis · Jum'at 17 Agustus 2018 22:20 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 17 196 1938080 mengenang-alex-dan-frans-mendur-2-bersaudara-yang-abadikan-momen-kemerdekaan-indonesia-73-tahun-lalu-Myr0521FCo.jpg Tugu Pers Mendur di Minasaha (Foto: Subhan Sabu/Okezone)

PADA suatu Jumat dini hari, dua orang pria tampak mengendap-ngendap memasuki sebuah rumah yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini, Jakarta. Jarum jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi, keduanya masuk ke rumah itu di saat penghuninya masih tertidur lelap.

Kedatangan kedua orang yang berprofesi sebagai fotografer ke rumah itu adalah karena mendengar kabar akan ada peristiwa penting yang bakal terjadi di rumah tersebut. Sekitar pukul 09.00 pagi, tuan rumah terbangun. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, pukul 10.00 acara dimulai, kedua kakak beradik itu pun langsung beraksi mengeluarkan kamera untuk mengabadikan momen tersebut.

Usai foto-foto, kedua bersaudara itu langsung bergegas pergi. Sayangnya kedatangan mereka berdua diketahui oleh tentara Jepang, keduanya langsung diburu. Sang kakak, Alexius Impurung Mendur berhasil ditangkap, semua foto-foto yang diabadikan olehnya yang bekerja di kantor berita Jepang Domei sebagai kepala bagian fotografi langsung disita dan dimusnahkan. Sementara sang adik Frans Sumarto Mendur berhasil meloloskan diri dan mengubur negatif fotonya dalam tanah.

 

Peristiwa yang terjadi 73 tahun lalu itu merupakan peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Jumat pagi itu sang tuan rumah, Soekarno bersama dengan Mohammad Hatta menproklamasikan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung sederhana, hanya Mendur bersaudara yang hadir sebagai fotografer dan mengabadikan momen yang sangat penting itu.

Itulah yang membuat tentara Jepang berang sehingga memburu Mendur bersaudara. Jepang sepertinya tidak rela kalau Indonesia merdeka. Meski Jepang telah mengaku kalah pada tentara sekutu beberapa hari sebelumnya namun kabar tersebut belum beredar luas di Indonesia. Radio masih disegel Jepang dan patroli Jepang masih berkeliaran dengan senjata lengkap.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia akhirnya memang diberitakan di harian Asia Raya pada 18 Agustus 1945. Namun, pemberitaan hanya singkat dan tanpa foto, karena telah disensor Jepang. Foto-foto Frans baru dapat dipublikasikan pertama kali pada 20 Februari 1946.

Tanpa Mendur bersaudara, kita tidak akan dapat menyaksikan tonggak penting sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Frans berhasil mengabadikan tiga foto dari tiga frame filmnya yang tersisa. Foto pertama, Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota Pembela Tanah Air (PETA). Foto ketiga, suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.

 

Frans Mendur dan Alex Mendur keduanya merupakan putra asli Minahasa, Sulawesi Utara. Sebagai bentuk penghargaan atas jasa keduanya, dibangunlah Tugu Pers Mendur di tanah kelahiran mereka, Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa.

Patung keduanya yang berdiri di atas kamera jenis Leica terlihat sangat menyolok dengan cat warna keemasan. Tugu ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2012 bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional yang digelar di Manado, Sulawesi Utara.

Di belakang tugu tersebut terdapat sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu, ciri khas rumah adat Minahasa. Bagian bawah dijadikan sebagai tempat tinggal dari pasangan suami istri Pierre Charles Mendur dan Dina Fitrianti Soerahman yang merupakan cucu keponakan dari Alex dan Frans. Sedangkan lantai dua dijadikan museum foto yang memajang hasil-hasil karya keduanya.

Sekitar 130 foto hitam putih, berukuran 10R dipajang dalam museum tersebut. Lima foto Frans yang paling dikenal yakni pembacaan teks proklamasi oleh Bung Karno, upacara pengibaran bendera, teks proklamasi tulisan tangan asli, teks proklamasi ketikan, serta suasana upacara terpajang di dinding kayu yang terlihat mulai rapuh itu.

Sementara hasil karya Alex yang paling dikenal yakni penjemputan Jenderal Sudirman saat perang gerilya, Bandung lautan api, Konferensi Meja Bundar, Konferensi Asia-Afrika, Perjanjian Lingarjati, Supersemar, Bung Tomo saat membakar semangat rakyat pada 10 November 1945 juga dipajang keliling dinding ruangan.

 

Sebenarnya masih banyak lagi karya keduanya yang tidak dipajang bahkan mencapai ribuan foto tentang peristiwa masa-masa perjuangan kemerdekaan, namun karena ruangan yang tidak cukup representatif untuk memajang semua foto tersebut sehingga pihak keluarga lebih memilih untuk menyimpannya.

"Film asli foto-foto ini ada di perpustakaan nasional. Tapi lima foto terkenal karya Frans, yakni suasana detik-detik kemerdekaan ada pada keluarga. Kamera Leica mereka juga masih ada," ujar Pierre Mendur.

Tugu beserta museum kecil ini dibuka untuk umum, setiap hari, dari pukul 07.00 - 17.00 WITA. Berada di sini, pengunjung serasa hanyut dibawa kembali ke masa-masa perjuangan dahulu. Kebanyakan yang berkunjung ke tempat ini berasal dari luar daerah Sulawesi Utara. Pengunjung lokal justru jarang berkunjung ke sini, bahkan anak sekolah pun jarang berkunjung ke museum yang sarat dengan sejarah ini.

 

Sayangnya, museum ini juga seakan luput dari perhatian pemerintah mulai dari pertama kali dibangun sampai dengan sekarang. Rumah panggung ini terlihat mulai rapuh bahkan terlihat sudah mulai miring, meski demikian Pierre bersama Dina tetap iklas merawat museum dan membersihkan foto-foto di dalamnya.

"Biarlah, yang penting kami masih bisa merawat museum," pungkas keduanya.

Akses menuju ke lokasi ini sangat mudah, dari Kota Manado butuh waktu sekitar 1 jam 43 Menit. Letak tugu sendiri berada di pinggiran jalan raya sehingga cukup mudah untuk ditemukan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini