nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengintip Suasana Kemerdekaan ke-73 RI di Puncak Tertinggi Jawa Barat

Fathnur Rohman, Jurnalis · Minggu 19 Agustus 2018 16:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 19 406 1938576 mengintip-suasana-kemerdekaan-ke-73-ri-di-puncak-tertinggi-jawa-barat-k17nBHwEZz.JPG Pengibaran bendera di Gunung Ciremai (Foto: Fathnur Rohman/Okezone)

MOMENTUM Hari Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia (RI) membuat para pendaki berdatangan dan memadati puncak tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai. Mereka mayoritas berasal dari daerah perkotaan seperti Bekasi, Jakarta dan sebagainya.

Para pendaki ini memang sengaja datang di tanggal 17 Agustus, karena ingin merayakan hari kemerdekaan di puncak Gunung Ciremai. Puncak ini memang menjadi salah satu destinasi yang populer, khususnya dalam mengadakan upacara pengibaran bendera merah putih di HUT RI. Para pendaki ini akan menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan khidmat serta dibarengi dengan cucuran air mata.

"Saya memang memilih gunung Ciremai karena suasana upacaranya sangat menyentuh hati," kata Wahyu, salah seorang Pendaki asal Cirebon, saat ditemui Okezone di Pos Pendakian Sanghiyang Ropoh, Jalur Palutungan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Jumat, 17 Agustus 2018.

 (Baca Juga:6 Fakta Menarik di Balik Kemeriahan Upacara Pembukaan Asian Games 2018)

Dari data yang berhasil dihimpun dan pantauan langsung Okezone, ada 2400 orang yang datang untuk mendaki Gunung Ciremai pada tanggal 16 - 17 Agustus 2018. Dengan harga tiket sebesar Rp55 ribu per orang.

"Ada 1200 Pendaki yang naik pada tanggal 16, serta 1200 Pendaki yang naik pada tanggal 17 Agustus," kata Barun, penjaga loket masuk jalur pendakian via Palutungan kepada Okezone.

Sejumlah pendaki gunung dari Kuningan dan Majalengka juga meramaikan pos-pos dan jalur pendakian Ciremai lainnya. Seperti di Jalur Linggajati dan Linggasana, di Kabupaten Kuningan, serta di Jalur Apuy, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Dengan jumlah pendaki yang mencapai angka lebih dari seribu, membuat para pendaki harus berjalan dengan tempo lambat. Mereka harus berbagi lajur dengan pendaki yang akan naik atau turun dari puncak.

 (Baca Juga:Ironman 70.3 Jadi Ajang Pariwisata Bintan untuk Sedot Wisman)

Tidak hanya berjalan dengan tempo yang lambat, para pendaki ini harus antre terlebih dahulu jika ingin menuju puncak. Hal itu disebabkan karena medan yang dilaluli sangat terjal serta ditambah dengan jumlah pendaki yang membludak. Kalau tidak hati-hati nyawa pun bisa melayang.

Setiap tahunnya, Gunung Ciremai memang mengalami peningkatan jumlah pendaki, bahkan saking padatnya ada juga yang tidak mendapat tempat untuk mendirikan tenda. Selain itu mereka bahkan harus berebut spot untuk berselfie. Para pendaki ini ada yang turun di tanggal 17, serta ada juga di tanggal 18 Agustus.

Dalam agenda pendakian ke-73 Kemerdekaan RI tahun ini, memang tidak ada pengibaran bendera dengan panjang 1000 meter seperti tahun lalu. Walau begitu, para pendaki masih bisa menikmati sensasi melihat mekarnya bunga abadi Edelwis.

 

Para pendaki cilik pun juga ikut meramaikan pendakian kemerdekaan di Gunung Ciremai. Mereka berusia 6 - 10 tahun dan didampingi oleh orangtua mereka.

Selain itu menurut Wahyu, pendakian ini juga bisa termasuk angker. Ia menjelaskan, bahwa ketika ia turun dari Pos Cigowong menuju basecamp terakhir, ia sempat merasa ada sosok astral yang mengikuti rombongannya, dan mengeluarkan suara yang menyeramkan.

"Pas saya turun dari Cigowong, teman-teman merasa ada yang mengikuti. Mereka juga mendengar suara aneh, mungkin karena kita turun pas waktu Maghrib," sambungnya.

 

Dari sekian banyaknya pendaki yang ada, mereka memiliki tujuan yang sama, yakni ingin menunjukkan rasa nasionalisme mereka dengan mendaki gunung tertinggi di Jawa Barat.

"Saya ingin merasakan seperti apa rasa perjuagan itu. Ini hanya mendaki gunung, beda halnya dengan para pahlawan yang rela mati demi kemerdekaan bangsa ini," pungkas Wahyu.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini