Komunitas Konsumen Indonesia Angkat Suara Perihal Revisi Aturan Iklan SKM

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Kamis 23 Agustus 2018 21:45 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 23 481 1940594 komunitas-konsumen-indonesia-angkat-suara-perihal-revisi-aturan-iklan-skm-vroOT6k08H.jpg Ilustrasi (Foto: Wonderopolis)

BEBERAPA waktu lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berencana merevisi aturan iklan produk susu kental manis (SKM). Komunitas Konsumen Indonesia pun angkat suara.

Mereka meminta BPOM untuk konsisten dalam mengambil kebijakan atau aturan terkait aturan produk olahan, salah satunya susu kental manis. Sebab, aturan yang merinci tentang SKM dianggap sudah banyak. Dua di antaranya baru diterbitkan dua tahun terakhir.

Pertama, Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan, disebutkan bahwa SKM merupakan subkategori susu kental yang merupakan kategori susu. Lalu Peraturan BPOM Nomor 27 Tahun 2017 tentang Pendaftaran Olahan Pangan yang menyebutkan bahwa pada label susu kental manis harus dicantumkan tulisan “Perhatikan! Tidak Cocok Untuk Bayi sampai usia 12 Bulan”.

 (Baca Juga:Gejala Awal Kanker Serviks yang Perlu Diwaspadai, Termasuk Keputihan?)

“Mau direvisi urgensinya apa, kan harus ada urgensinya. Kalau aturan itu lebih baik bagi konsumen tidak menjadi masalah, tapi jika sebaliknya kan kasihan konsumen, bisa bikin bingung,” ujar Ketua Komunitas Konsumen Indonesia David Tobing dalam siaran pers, Kamis (23/8/2018).

Tobing menuturkan, akan menjadi pertanyaan jika aturan yang baru satu atau dua tahun langsung diubah atau direvisi. Mengingat sebelum aturan diterbitkan, telah ada pertimbangan dan memperhitungkan banyak hal.

Oleh karena itu, lanjut David, sebaiknya tidak perlu ada perubahan aturan atau perubahan satu klausul pun, kecuali memang merugikan masyarakat. Justru ia melihat bahwa kesimpangsiuran mengenai produk SKM belakangan ini yang sangat merugikan masyarakat. Karena konsumen pada umumnya masyarakat sudah lama mengonsumsi SKM.

 (Baca Juga:Usai Keluar Fatwa MUI, Kampanye Imunisasi Campak-Rubella di 28 Provinsi Terus Dilanjutkan)

“Bahkan ada konsumen yang menyesal pada dirinya sendiri karena telah lama mengkonsumsi SKM. Karena ia mencerna informasinya dari regulator bahwa SKM itu bukan susu, padahal SKM jelas-jelas disebutkan di aturan adalah susu. Nah itu kan sama saja menyesatkan,” katanya.

Sebagai Komunitas Konsumen Indonesia, pihaknya pun juga telah melakukan penelitian pada produk-produk SKM. Dan hasilnya produk-produk itu mayoritas sudah mengikuti aturan BPOM. Di mana produk tersebut diberi peringatan untuk tidak dikonsumsi bayi.

 

“Dan hasilnya tidak ada yang dilanggar oleh pelaku usaha. Jadi jangan malah membuat konsumen menjadi terombang-ambing. Kalau memang aturannya masih baik, itu saja yang terus diedukasi kepada konsumen,” ujar pria yang berprofesi sebagai pengacara dari kantor hukum Adams & Co David Tobing itu.

 (Baca Juga:Sedang Tren, Yuk Cari Tahu 5 Jenis Diet Telur)

Seperti dketahui, BPOM tengah merampungkan revisi peraturan terhadap iklan produk olahan. Revisi tersebut termasuk untuk produk susu kental manis. Revisi aturan itu akan lebih menegaskan apa saja yang tidak boleh ditampilkan dalam iklan susu kental manis. Salah satunya terkait visualisasi terhadap fungsi atau kegunaan susu kental manis.

Hal senada diungkapkan Komisi VI DPR RI yang membawahi bidang persaingan usaha. Inas Nasrullah Zubir, anggota Komisi VI meminta agar BPOM dan pemerintah lebih bijaksana melihat polemik terkait susu kental manis ini. Menurut dia, perubahan aturan harus dilandaskan pada kajian dan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ia juga mengingatkan agar BPOM tidak terjebak menerbitkan sebuah peraturan yang kurang adil.

“Jangan pemerintah menyesuaikan kebutuhan produsen, tapi harus menyesuaikan apa yang terbaik bagi konsumen,” tandasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini