nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Catatan Kasus Terparah Pelecehan Perempuan dan Anak di Lokasi Gempa Lombok

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 24 Agustus 2018 19:07 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 08 24 196 1941035 catatan-kasus-terparah-pelecehan-perempuan-dan-anak-di-lokasi-gempa-lombok-mAEhRPijMI.jpg Ilustrasi

MESKI tengah berduka pasca-gempa, banyak kasus pelecehan sekaligus kekerasan pada perempuan dan anak-anak di Lombok. Dari catatan pemerintah, terdapat dua kasus terparah sampai menimbulkan trauma.

Kejadian buruk yang menimpa para korbannya tersebut jadi salah satu hal yang tak disangka. Masih banyak oknum memanfaatkan perempuan dan anak untuk demi kepuasan pribadi.

Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan Dalam Situasi Darurat Dan Kondisi Khusus Nyimas Aliyah mengungkapkan, sejak terjadi gempa bumi besar pertama di Lombok hingga sekarang, ada dua catatan kasus pelecehan dan kekerasan terhadap kelompok rentan. Dia membeberkan lewat ulasan berikut ini, yang ditulis Okezone, Jumat (24/8/2018).

 (Baca Juga:Kiat Sukses Terlihat Menarik di Depan Wanita Menurut Survei, Pria Wajib Baca!)

Kekerasan dialami oleh perempuan 20 tahun

Perempuan yang berada di tenda pengungsian jadi kelompok rentan terhadap kasus kekerasan. Telah dilaporkan seorang perempuan berusia 20 tahun yang mengungsi di Dusun Prawira, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Di tengah kondisi darurat, dia diajak pelaku kabur ke Kota Mataram.

Nyimas mengatakan, kasus ini telah dilaporkan ke komisi perlindungan perempuan dan anak di dekat lokasi gempa. Berkaca dari kasus ini juga harus membuat perempuan mawas diri.

"Kita ingin angkat kasus ini jadi peringatan dini untuk perempuan di sana. Terlebih, supaya permasalahan ini jadi kewaspadaan kaum perempuan semua," ujar Nyimas di sela Media Talk di Kantor KPPPA, kawasan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (24/8/2018).

 (Baca Juga:Masalah Tembok hingga Make-up, 5 Hal Konyol yang Sebabkan Perceraian)

Pelecehan dukun terhadap anak perempuan 15 tahun

Tepat dua minggu lalu, terdapat kasus anak 15 tahun di lokasi gempa. Tepatnya tanggal 31 Juli 2018 atau 2 hari setelah gempa. Nyimas menyebutkan, kebiasaan orang Sasak selalu mengatasi trauma dengan pergi ke dukun untuk diobati. Biasanya hanya diberi doa khusus dan dipegang keningnya. Tapi korban dilecehkan, yaitu disuruh buka baju oleh si dukun. Alhasil, anak tersebut lebih mengalami trauma yang berat. Sampai akhirnya dirawat di rumah sakit.

"Dari kasus itu kita sudah mendampingi korban. Pas didatangi anak terlihat murung dan sedih. Pastinya kita masih terus memantau perempuan dan anak dari ancaman kekerasan di lokasi gempa tersebut," pungkas dia.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini