nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengulik Mitos Orang Jawa Tidak Boleh Menikah dengan Orang Sunda

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Sabtu 25 Agustus 2018 05:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 24 196 1941097 mengulik-mitos-orang-jawa-tidak-boleh-menikah-dengan-orang-sunda-0zP29e2a77.jpg Ilustrasi

PERNIKAHAN adalah momen yang sakral dan sangat dinantikan oleh setiap pasangan. Beberapa di antara mereka bahkan rela menjalani hubungan hingga bertahun-tahun lamanya demi mengenal satu sama lain.

Namun terkadang, hubungan yang sudah lama terjalin dengan baik harus kandas di tengah jalan hanya karena perbedaan tradisi atau kepercayaan yang dianut oleh keluarga pasangan. Salah satunya adalah mitos orang Sunda yang dilarang menikah dengan orang Jawa.

Mitos ini pertama kali berkembang sejak peristiwa Perang Bubat. Perang ini diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citaresmi dari Negeri Sundan.

Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri Dyah karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman bernama Sungging Prabangkara. Namun ada pula yang mengatakan, alasan utama Hayam Wuruk berniat memperistri Dyah Pitaloka karena didorong oleh kepentingan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda.

Namun saat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka, terjadi sebuah kesalahpahaman. Menurut Kidung Sundayana, alih-alih menyambut kedatangan rombongan Kerajaan Sunda, Patih Gajah Mada menganggap kedatangan mereka sebagai bentuk penyerahan diri, karena ia ingin memenuhi Sumpah Palapa.

 

Dalam sumpah tersebut, Gajah Mada berniat ingin menaklukkan semua kerajaan di seluruh Nusantara. Namun ternyata, hanya Kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai oleh Majapahit.

Kemudian terjadilah perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu.

Peristiwa yang dikenal dengan sebutan Perang Bubat ini berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri, dan para pejabat kerajaan beserta segenap keluarga Kerajaan Sunda. Konon katanya, Putri Dyah Pitaloka memutuskan untuk melakukan bela pati (bunuh diri) untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya.

Dari sinilah mitos orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa bermula. Bahkan, jika ada yang nekat melakukannya, konon rumah tangga mereka tidak akan berlangsung lama.

Lantas apakah mitos tersebut masih relevan di zaman modern seperti saat ini?

Menurut penuturan Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), H. Drs. K. Ng. Agus Sunyoto, mitos tersebut memang sangat identik dengan peristiwa Perang Bubat.

"Memang ada pengaruh yang besar dari cerita itu (Perang Bubat). Tapi perlu diketahui bahwa pendiri Majapahit itu adalah Raden Wijaya dari Sunda," tutur Agus Sunyoto saat dihubungi Okezone via telepon, Jumat, 24 Agustus 2018.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, orang Jawa itu sebetulnya terbuka dan bebas menikah dengan siapa saja. Salah satu alasannya karena mereka tidak memiliki identitas etnis.

"Masyarakat Jawa itu sudah tidak memiliki identitas etnis. Tidak ada yang punya marga. Jadi menikah dengan siapa saja boleh. Mungkin berbeda dengan suku-suku lain yang harus menikah dengan marga tertentu," imbuhnya.

Tidak sampai di situ saja, Agus juga sempat memberikan sebuah analogi tentang kedekatan orang Jawa dengan orang Sunda. Menurutnya, contoh yang paling gampang adalah melihat hubungan antara Viking dengan Bonek.

"Selama ini yang memiliki keakraban dengan PERSIB itu cuman PERSEBAYA. Dua supporter klub sepakbola ini selalu bersatu, menunjukkan bahwa daerah mereka tidak memiliki masalah satu sama lain," papar Agus sambil tertawa.

"Coba bandingkan ketika Bonek bertemu dengan Aremania. Yang ada mereka malah bergesekan," tukasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini