nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sarat dengan Hal Mistis, Ini Kode Etik yang Harus diingat Para Pendaki

Fathnur Rohman, Jurnalis · Jum'at 24 Agustus 2018 16:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 24 406 1940930 sarat-dengan-hal-mistis-ini-kode-etik-yang-harus-diingat-para-pendaki-olG9kTBzUK.JPG Ilustrasi pendakian gunung (Foto: Fathnur Rohman/Okezone)

MEMANG tak ada kata bosan dalam menaklukkan sebuah gunung. Walaupun kegiatan ini memiliki tantangan dan risiko yang sangat tinggi, nyatanya pendakian gunung sekarang ini sangatlah masif dan menjadi gaya hidup bagi sebagian kalangan, termasuk anak muda.

Tidak hanya keterampilan khusus dan kondisi fisik yang prima, seorang pendaki sejatinya harus bisa menjaga etika ketika hendak mendaki gunung. Hal itu harus dilakukan agar pendakian terasa lebih menyenangkan. Banyak kejadian-kejadian mistis yang dialami pendaki karena tidak mematuhi larangan-larangan yang ada di setiap jalur pendakian.

"Waktu saya mendaki Gunung Ciremai, saya sempat mengalami kejadian mistis. Saya merasa diikuti sosok astral ketika turun dari pos pendakian Cigowong menuju Basecamp. Jalur itu memang terkenal angker, namun bisa juga disebabkan karena saya tidak menjaga ucapan saya," ujar salah seorang pendaki asal Cirebon, Jawa Barat, Teguh Muhammad Prasetyo (20) kepada Okezone baru-baru ini.

 (Baca Juga:Perempuan Asal Bulgaria Ini Menangkan Kontes Payudara Palsu)

Melihat fenomena tersebut, Okezone sudah menyiapkan ulasan tentang etika lingkungan hidup universal bagi seorang pendaki, yang dirangkum dari berbagai sumber, Jumat (24/8/2018).

1. Dilarang mengambil apapun kecuali foto

 

(Foto: Fathnur Rohman/Okezone)

Saat kegiatan pendakian, dalam perjalanan kamu tidak boleh mengambil apapun yang ada di alam selain foto. Jika kamu nekat untuk melakukan itu, tentu saja ekosistem yang ada di area tersebut akan terganggu. Belakangan ini, banyak oknum pendaki nakal yang dengan sengaja memetik bunga Edelwis tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Bunga Edelwis, atau kerap disebut bunga abadi ini hanya bisa dijumpai di ketinggian 2000 Mdpl (Meter di atas permukaan laut). Jika banyak pendaki yang memetiknya, maka keberadaan bunga ini akan terancam. Pelaku yang melakukan tindakan tersebut, akan diancam dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, dengan ancaman hukuman pidana maksimal 5 tahun penjara, dan denda paling besar sebanyak Rp100.000.0000.

 (Baca Juga:Demi Puaskan Hasrat, Pria Ini Nekat Berhubungan Seks dengan Mayat)

(Foto: Fathnur Rohman/Okezone)

2. Dilarang meninggalkan apapun kecuali jejak

Selain tidak boleh mengambil sesuatu yang ada di alam, ketika melakukan pendakian kamu tidak boleh meninggalkan apapun selain jejak. Jejak yang dimaksud di sini adalah bekas langkah kaki yang kamu tinggalkan saat berjalan menuju puncak.

Dalam beberapa kasus, banyak para pendaki yang meninggalkan sampah plastik saat melakukan pendakian. Sampah plastik sendiri hanya bisa terurai dengan waktu ratusan tahun. Selain sampah plastik, ada juga beberapa pendaki yang sengaja meninggalkan botol bekas dengan air kencing di dalamnya. Hal itu tentunya akan membuat pendaki lain merasa tidak nyaman.

 (Baca Juga:Intip 5 Liburan si Spiderman Indonesia Aries Susanti yang Bergaya Sporty)

(Foto: Fathnur Rohman/Okezone)

3. Dilarang membunuh apapun kecuali waktu

Cukup waktu saja yang kamu bunuh ketika pergi mendaki. Seperti yang sudah dijelaskan di poin pertama, megambil apapun saja sudah tidak boleh, apalagi sampai membunuh sesuatu di alam. Bukan hanya merusak ekosistem, jika kamu melakukan tindakan tersebut, ancaman pidana akan menghampirimu.

Tidak membunuh apapun sudah termasuk menghormati hukum adat yang berlaku di gunung tersebut. Hal itu karena setiap gunung yang akan kamu daki memiliki aturan main sendiri. Jadi jika kamu berani melanggar, bisa saja peristiwa-peristiwa mistis yang menyeramkan akan kamu alami.

Sebagai pendaki yang bijak kita seharusnya kamu bisa menerapkan ketiga kode etik tersebut. Kelestarian alam akan dapat terjaga dan bisa kita nikmati bersama anak, cucu kita, jika kita bisa menjaga, mengapa kita harus merusak?.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini