Kondisi 4.000 Ibu Hamil Rentan Trauma di Lokasi Pengungsian Pasca-Gempa Lombok

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 24 Agustus 2018 20:42 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 24 481 1941045 kondisi-4-000-ibu-hamil-rentan-trauma-di-lokasi-pengungsian-pasca-gempa-lombok-E2fzTcMHWF.png Ibu hamil (Foto: Wowhealingcenter)

IBU hamil jadi salah satu kelompok yang rentan mengalami trauma psikis pasca-gempa Lombok. Kondisi mereka sangat miris karena sambil menunggu momen kelahiran buah hati, tapi harus menghabiskan waktunya di tenda pengungsian yang tidak nyaman.

Berdasarkan data yang terlapor, ada sekira 4.000 perempuan dari 173.000 korban gempa kaum perempuan. Mereka akan melahirkan di sana dan membutuhkan banyak hal, yang membuatnya tenang jelang persalinan.

Namun sayangnya, sebagian dari mereka mengalami trauma berat akibat gempa. Alih-alih mereka rentan menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual.

 BACA JUGA:

Viral Penampakan Kuntilanak di Warung Makan Kawasan Puncak, Merinding!

Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan Dalam Situasi Darurat Dan Kondisi Khusus dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Nyimas Aliyah mengatakan, kondisi ini hamil di tenda-tenda pengungsian gempa sangat memprihatinkan. Mereka tak hanya mengalami trauma, namun juga rentan mengalami dampak buruk lain.

 

"Ibu hamil banyak yang terdampak di lokasi gempa. Saat ini tercatat 4.000 ibu hamil yang akan melahirkan. Supaya nyaman kita harus melakukan berbagai Cara," ujar Nyimas ditemui di Kantor KPPPA, Jakarta Pusat, Jumat (24/8/2018).

Mereka banyak membutuhkan sandang dan pangan, apalagi ada janin di dalam perutnya yang tumbuh kembangnya harus baik. Tentu perjuangan mereka tidak mudah dalam menaklukkan rasa trauma mendalam akibat kampung halamannya diguncang gempa.

Ini salah satu kendala yang dihadapi pemerintah dalam melindungi mereka dari ancaman dampak negatif. Belum lagi pada ibu yang telah melahirkan, harus merawat bayinya di dalam tenda pengungsian yang panas.

"Selain ibu hamil, ada juga 136.000 bayi lahir di lokasi pengungsian. Kondisinya lebih miris karena mereka tinggal di tenda yang panas, bahkan tidak mendapatkan ASI cukup dari ibunya," bebernya.

Padahal seorang bayi baru lahir hidupnya harus sejahtera untuk menyambung nyawanya di dunia. Sayang, karena gempa jadilah mereka harus mengalami kondisi yang memprihatinkan.

Menanggapi hal itu, Nyimas mengatakan bahwa pemerintah terus melakukan pendamping kepada kelompok orang yang rentan mengalami efek buruk pasca-gempa. Kesiapan tenaga medis seperti dokter atau bidan, serta psikolog bisa membantu mengatasi masalahnya di lokasi gempa tersebut.

 BACA JUGA:

Rebung hingga Singkong, 5 Jenis Makanan Ini Bisa Mematikan Jika Dimakan Mentah

"Banyak kebutuhan yang mendesak untuk korban. Tapi lebih spesifik lagi mereka butuh bantuan barang yang bisa dipakai, seperti popok bayi, baju perempuan dan anak, makanan untuk mereka dan beberapa barang yang lain," pungkasnya.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini