Meluruskan Mitos Seputar Ibu Menyusui yang Sering Salah Kaprah

Agregasi Koran Sindo, Jurnalis · Senin 27 Agustus 2018 16:30 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 27 481 1941959 meluruskan-mitos-seputar-ibu-menyusui-yang-sering-salah-kaprah-i9oZZf8DYG.jpg Ilustrasi (Foto: Parents)

PEMBERIAN ASI saja atau ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan pertama dan dilanjutkan hingga 2 (dua) tahun sangat direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Banyak ibu yang berjuang untuk bisa mengikuti rekomendasi ini. Namun, masih banyak mitos seputar menyusui dan mempersiapkan MPASI yang masih dipercaya sebagian orang. Spesialis anak dr. Yoga Devaera, Sp.A(K) mengatakan, pada zaman modern ini ternyata masih banyak orang percaya dengan mitos .“Ketika mendapat nasihat dari orang lain, maka orang tua harus aktif mengonfirmasi dan mencari info yang benar,” ungkap dr Yoga. Mengenai mitos yang banyak beredar, ia memberikan contoh bahwa salah satu pasiennya pernah bertanya apa benar setelah usia 6 (enam) bulan, bayi membutuhkan tambahan jenis susu lainnya dan menurut dr Yoga itu tidak benar.

“Memang setelah 6 (enam) bulan, bayi memerlukan tambahan energi, protein, dan terutama zat besi karena ASI saja tidak mencukupi,” kata dr Yoga.

Menurutnya, yang harus diberikan setelah 6 (enam) bulan bukan susu formula, tetapi makanan padat atau MPASI yang mengandung zat dibutuhkan tadi. Pengenalan tekstur makanan padat juga diperlukan sehingga keterampilan makan bayi terasah. Mitos lain juga sering didengar adalah jika bayi diberikan ASI dengan botol, ia akan menolak payudara ibu.

“Ini juga tidak sepenuhnya benar. Ada banyak bayi menyusui dari payudara dan botol secara bergantian tanpa masalah berarti. Selama botol itu diperkenalkan setelah sang bayi sudah mahir menyusui secara langsung dari payudara ibu, biasanya di sekitar usia 2 (dua) bulan,” kata dr Yoga.

ibu menyusui

Ia menambahkan, setiap ibu hidup dalam situasi dan kondisi berbeda. Selain itu, banyak dari mereka terbantu dengan menyusui bayinya secara langsung dan menggunakan botol bergantian.

“Penggunaan botol juga memungkinkan sang ayah atau anggota keluarga lain membantu ibu memberikan ASI kepada si kecil,” ucap dr Yoga. Mitos lainnya adalah ibu harus berhenti menyusui ketika sedang sakit. dr Yoga menjelaskan, tidak menyusui selama sakit bukan berarti bayi tidak akan tertular penyakit ibu.

Pada saat ibu menyadari bahwa ia tidak sehat, si kecil kemungkinan sudah mulai terpapar dengan virus atau bakteri penyebab infeksi.

“Malahan, menyusui ketika sedang sakit akan memberikan antibodi pelindung yang akan menjaga bayi tetap sehat,” ujarnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini