Aksi Buka Baju Jonatan Christie Tuai Beragam Komentar, Sexual Harassment Bukan Ya?

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 28 Agustus 2018 19:46 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 28 196 1942702 aksi-buka-baju-jonatan-christie-tuai-beragam-komentar-sexual-harassment-bukan-ya-p3GksgKSq8.jpg Aksi buka baju Jonatan Christie (Foto: Heru Haryono/Okezone)

NAMA Jonatan Christie atau yang akrab dipanggil Jojo akhir-akhir ini tengah menjadi bahan pembicaraan yang populer. Selain karena perfomanya yang mumpuni di ajang Asian Games 2018, atlet bulutangkis itu juga memiliki tubuh atletis dan wajah yang terbilang tampan. Tak sedikit masyarakat yang mengatakan hal itu di media sosialnya.

Beberapa komentar seperti hamil online, ovarium meledak, roti sobek, dan rahim menghangat bertebaran di media sosial. Kebanyakan yang menulis komentar tersebut adalah kaum Hawa yang terkesima melihat penampilan fisik Jojo. Akan tetapi, ada pula netizen yang berpendapat komentar seperti itu termasuk kekerasan seksual dan mengaitkannya dengan kasus Young Lex.

Seperti yang diketahui, beberapa waktu lalu Young Lex sempat diprotes karena mengatakan foto Lisa Blackpink bisa digunakan sebagai bahan masturbasi. Sekadar informasi, kekerasan seksual memang tidak selamanya berupa tindakan fisik tapi bisa juga melalui ucapan. Lantas apakah komentar netizen tentang Jojo termasuk kekerasan seksual verbal juga?

“Sebenarnya kalau menurut aku itu balik lagi ke persepsi orang untuk mengekspresikan Jojo sebagai pahlawan dan melihatnya membuka baju. Kata-kata seperti rahim menghangat, hamil online, dan sebagainya itu termasuk ekspresi wajar. Tapi kalau kasus Young Lex beda lagi, itu memang sudah sexual harassment,” jelas psikolog klinis dewasa, Arrundina Puspita Dewi, M.Psi saat dihubungi Okezone melalui sambungan telepon, Selasa (28/8/2018).

Arrundina menjelaskan suatu perkataan bisa tergolong kekerasan seksual bila sudah menyangkut atau membawa-bawa alat kelamin yang lebih spesifik secara seksual. “Selain itu, apabila yang diberikan komentar merasa terintimidasi atau terancam dengan komentar terkait fisiknya, bisa masuk kategori sexual harassment. Tapi kalau dia fine-fine saja, tidak masalah,” tambahnya.

Jonatan

(Foto: Heru Haryono/Okezone)

Akan tetapi, komentar terhadap Jojo juga ada yang bisa tergolong kekerasan seksual secara verbal. Contohnya kata-kata seperti ‘main di net aja jago apalagi di bed’. Tak hanya itu, di media sosial juga bertebaran foto Jojo yang hanya bertelanjang dada dimana alat kelaminnya sedikit menyembul dari celana yang digunakan. Banyak netizen yang mengomentari hal itu dan membahasnya lebih lanjut.

“Kalau itu sudah termasuk (kekerasan seksual). Lihat saja penggunaan kata-katanya, apakah menyangkut seksual atau tidak,” ujar Arrundina.

Aksi buka baju

Sementara itu, masyarakat yang menonton pertandingan juga dibuat heboh dengan aksi buka baju Jojo sehabis bertanding. Lantas apakah itu bisa menjadi masalah dan memicu terjadinya kekerasan seksual? Mengenai hal ini Arrundina memiliki pandangannya tersendiri.

Jonatan

(Foto: Heru Haryono/Okezone)

“Jojo sendiri buka baju untuk menunjukkan kesenangan dan ekspresi kemenangannya berhasil membela negara. Tapi mungkin ada motif lain dimana dia suka memamerkan badannya yang bagus. Tapi yang jelas itu adalah ekspresi bangga dengan prestasinya,” tutur Arrundina.

Apabila ada masyarakat yang meluapkan ekspresinya setelah melihat Jojo buka baju, itu adalah hal yang wajar. “Selama Jojo-nya tidak terganggu atau merasa risih, tidak masalah. Asalkan tidak menyangkut seksual yang lebih spesifik seperti alat kelamin,” pungkas Arrundina.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini