nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Korban Pemerkosaan Jambi Dibebaskan, Ini Tanggapan Menteri Yohana Yembise

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 28 Agustus 2018 21:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 28 196 1942754 korban-pemerkosaan-jambi-dibebaskan-ini-tanggapan-menteri-yohana-yembise-fq9KhDA6GZ.jpg Menteri PPPA Yohana Yembise (Foto: Heru/Okezone)

BELUM lama ini, masyarakat Indonesia tengah dikejutkan oleh kasus pemerkosaan yang menimpa seorang anak perempuan berusia 15 tahun. Kasus ini bermula ketika si kakak, 17 tahun, memerkosa adiknya pada September 2017, setelah menonton film porno.

Akibat perkosaan itu, sang adik hamil dan terpaksa menggugurkan janinnya pada usia kandungan baru menginjak 5 bulan. Menurut bukti yang ada di pengadilan, tindakan aborsi ternyata dilakukan atas permintaan ibu kandung mereka. Dengan kata lain, ada 3 tersangka yang terlibat dalam kasus pemerkosaan tersebut.

Pertama, ibu yang diduga memicu terjadinya tindak aborsi. Kedua, anak laki-laki yang melakukan tindak perkosaan. Ketiga, anak perempuan yang menjadi tersangka aborsi janin hasil perkosaan.

 (Baca Juga:Susui Bayi Malnutrisi saat Bertugas, Polwan Ini Banjir Pujian dari Netizen)

Kasus ini sempat menjadi perhatian berbagai kalangan, lantaran sang adik dijatuhi hukuman 6 bulan penjara. Menanggapi vonis tersebut, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) membuat petisi di www.change.org, dan telah ditandangi oleh lebih dari 10.000 orang.

 

Namun, kabar baik baru saja diumumkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Jambi yang memutuskan untuk membebaskan korban permoksaan dari tuntutan hukum yang menimpanya.

Keputusan ini disambut baik oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise. Saat ditemui dalam konferensi pers “Kampanye Stop Diskriminasi Dalam Ketanakerjaan”, wanita yang akrab disapa ‘Mama Yo’ itu mengatakan pihaknya akan terus mendampingi sang korban.

 (Baca Juga:Potret Kecantikan Sabina Altynbekova, Atlet Voli Putri Kazakhstan yang Memesona)

“Setelah mendengar putusan pengadilan, kami langsung menyurati kementerian terkait untuk mem-follow up dan melihat kembali kasus tersebut. Mudah-mudahan segera ada kejelasannya,” tutur Yohana Yembise, di Hotel Training Centre Damphil, Gorontalo, Selasa (28/8/2018).

Meski kasus pemerkosaan ini telah melanggar undang-undang perlindungan anak, Yohana tidak memungkiri bahwa setiap hakim memiliki cara tersendiri untuk memutuskan hukuman.

“Kasus itu jelas melanggar undang-undang perlindungan anak. Tapi kita punya sistem peradilan sendiri. Kita punya sistem pidana anak. Sisi positifnya, kasus ini menunjukkan masyarakat Indonesia mulai sadar dan berani melaporkan kasus pelecehan seksual kepada pihak berwenang,” tukasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini