Penyakit Tidak Kunjung Sembuh, Waspadai sebagai Gejala Autoimun

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Selasa 28 Agustus 2018 11:47 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 28 481 1942410 penyakit-tidak-kunjung-sembuh-waspadai-sebagai-gejala-autoimun-2C0yYGdssN.jpg Gejali penyakit autoimun (Foto:Ilustrasi/Thehealthsite)

PENYAKIT seperti demam, flu, diare merupakan penyakit yang umum diderita masyarakat. Tanpa rasa khawatir, banyak masyarakat yang mengandalkan obat-obatan yang dibeli di warung untuk penyakit-penyakit tersebut.

Adapula yang mulai mengonsumsi antibiotik, tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter, khususnya jika penyakit-penyakit itu mulai berulang dalam jangka waktu yang singkat.

Tapi tahukah Anda, bahwa sesungguhnya kita memiliki sistem kekebalan tubuh yang dapat melawan virus atau bakteri penyebab penyakit-penyakit ringan itu ? Tahukah Anda ada pula penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh kita lebih rentan dengan virus dan bakteri penyebab penyakit ringan itu ?

Ya ada penyakit yang bernama Autoimun. Yakni penyakit yang diakibatkan adanya gangguan sistem imun yang ditandai dengan reaktivasi sistem imun, baik sel T maupun sel B (autoantibodi) yang melawan sel tubuh sendiri (autoantigen).

Penyakit autoimun yang paling sering ditemukan adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang umum dikenal dengan penyakit Lupus. Angka kejadian penyakit ini di Indonesia telah mencapai 0,5 persen dari total populasi penduduk.

Konsultan penyakit autoimun, Dr.dr Iris Rengganis, Sp.PD., KAI, FINASIM menyebutkan, penyakit autoimun belum bisa dipastikan penyebabnya. Gejala pun tidak khusus. Akibatnya penyakit autoimun ini tidak mudah dikenali sehingga memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosisnya.

“Jumlah dokter ahli di bidang autoimun ini pun belum banyak, sehingga seringkali ketika dirujuk ke ahlinya, pasien sudah dalam keadaan parah karena tidak dikenali sejak dini,” ujarnya, Selasa (28/8/2018).

(Baca Juga: Lelah dan Stres Bekerja? Atasi dengan Teknik Jin Shin Jyutsu, Cuma Pakai Jari Loh!)

 

(Baca Juga: Mengenal Nenek Kerre Mastanamma, YouTuber Usia 106 Tahun yang Populer karena Cara Memasaknya yang Unik)

(Baca Juga: Coba The Hook Gaya Bercinta Klasik yang Bisa Buat Pria Terjepit)

Dr. Irin menyebutkan, autoimun menjadi penyakit yang belum banyak disadari masyarakat. Penelitian terkait penyakit autoimun juga masih jarang, karena jenis penyakit ini juga cukup banyak mencapai 80 jenis. Oleh karena itu sangat penting bagi para dokter untuk mendapatkan update informasi agar para dokter dapat melakukan tindakan medis yang tepat bagi pasien yang bergejala maupun yang sudah mengalami autoimun.

Dalam kesempatan terpisah, Dr.dr. Blondina Marpaung Sp.PD., KR memaparkan patofisiologi jenis-jenis autoimun, faktor risiko, diagnosis pencegahan dan pengelolaan (termasuk nutrisi) pada penderita autoimun.

Ia menyebut, angka kejadian autoimun cukup banyak, khususnya terhadap wanita. Akan tetapi kesadaran masyarakat, khususnya para wanita, masih sangat kurang akan penyakit tersebut.

“Autoimune paling banyak terjadi karena faktor genetik. Tapi saat ini telah ada penelitian yang menyatakan bahwa defisiensi atau kekurangan kadar vitamin D dalam tubuh, dapat menjadi salah satu faktor risiko seseorang mengalami penyakit autoimun. Karena setelah diteliti ke mereka yang mengalami penyakit autoimun, ditemukan nilai kadar vitamin D yang sangat kecil. Kita juga perlu berhati-hati dengan ini dan para dokter perlu tahu,” paparnya dalam seminar nasional “Good Doctor for Better Autoimmune Treatments” di Gedung Graha Prodia Medan, Sabtu 25 Agustus 2018.

Di Indonesia, kata Blondina, prevalensi defisiensi vitamin D pada wanita berusia 45-55 tahun adalah sekitar 50 persen. Penelitian di Indonesia dan Malaysia, menemukan defisiensi vitamin D sebesar 63 persen terjadi pada wanita berusia 18-40 tahun.

“Sedangkan penelitian pada anak usia 1-12 bulan hingga 9 tahun, ditemukan 45 persen anak mengalami insufisiensi vitamin D. Ini memang agak aneh jika melihat Indonesia sebagai negara tropis, yang dihadiahi sinar matahari sepanjang tahun. Dimana sinar matahari ini merupakan salah satu sumber vitamin D alami,”tukasnya.

Product Spesialis Prodia, Gianni Yosephine menyebutkan, Prodia menyediakan pemeriksaan-pemeriksaan lab yang dapat menunjang diagnosis para dokter terhadap penyakit autoimun ini. Diantaranya pemeriksaan ANA, IF, ANA Profile, ANTI dsDNA, NcX, ProALD, dan AMA M2.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini