nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sampai di Tingkat Mana Penderita Depresi Harus Temui Psikiater?

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 29 Agustus 2018 23:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 08 29 196 1943249 sampai-di-tingkat-mana-penderita-depresi-harus-temui-psikiater-ZNCTbu4mVk.jpg Ilustrasi (Foto: Mirror)

SUKA atau tidak, masalah kesehatan jiwa belum dipandang sebagai masalah kesehatan yang serius seperti halnya masalah kesehatan fisik.

Ketidaksadaran ini akhirnya memicu banyak orang yang mungkin sebenarnya sudah depresi, menjadi tidak sadar kalau dirinya sudah mengalami depresi dan memerlukan penanganan yang profesional dari ahlinya. Ditambah lagi dengan stigma di kalangan masyarakat, yang masih banyak menilai bahwa mendatangi psikiater atau psikolog itu berarti sudah gila alias sakit jiwa.

Prinsip mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, sejatinya juga berlaku pada masalah kesehatan jiwa. Jika ada orang terdekat kita yang terdeteksi sedang mengalami gejala-gejala depresi, sebut saja mulai dari gejala depresi ringan yang digolongkan dengan minimal dua dari tiga gejala ringan yakni mood atau suasana hati yang depresif (selalu murung dan menangis), kehilangan minat, kehilangan energi (lelah, energi menurun, tidak bersemangat melakukan aktivitas ditambah dengan minimal dua gejala tambahan (merasa sulit berkonsentrasi, merasa harga diri rendah, rasa bersalah, pesimis, gagasan bunuh diri, mengalami gangguan tidur, hingga gangguan nafsu makan).

 (Baca Juga: Potret Kecantikan Sabina Altynbekova, Atlet Voli Putri Kazakhstan yang Memesona)

Kemudian, sebagai salah satu orang terdekat sampai di tingkat manakah kita sendiri bisa menyarankan "pasien" untuk berobat ke psikiater?

"Misalnya gini, walau masih depresi ringan pun mau berobat ke psikiater pun ya oke, it's fine. Sebab enggak maslaah, tidak harus jadi depresi sedang bahkan berat dulu. Gini, depresi sedang itu sendiri sudah ada indikasi pengobatan dilakukan dengan pemberian obat juga," ungkap dr.Eva Suryani, Sp, KJ, selaku Kepala Divisi Edukasi dan Training Asosiasi Psikiatri Indonesia Wilayah DKI Jakarta saat ditemui Okezone, Rabu (29/8/2018) di bilangan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

 (Baca Juga: Tato Burung Phoenix Milik Atlet Voli Kristina Karapetyan yang Bikin Pria-Pria Gagal Fokus)

Sebagai dokter, dr.Eva menjelaskan lebih lanjut dalam praktek penanganannya di kehidupan nyata, pasien depresi pun tidak melulu harus ditangani dengan pengobatan menggunakan obat-obatan.

"Dalam praktek sehari-hari pun, apakah saya selalu beri pengobatan dengan obat? Belum tentu, saya bisa saja tidak beri obat, kalau saya lihat cukup nih dengan fentilasi (metode mengemukakan curahan hati secara detail) pasien sudah merasa nyaman dan merasa lebih baik, ya enggak usah diberi obat lagi. Apalagi kalau pasien sudah bilang, 'Oke dok saya mau coba dulu tips-tips yang dokter sarankan. Kalau sudah saya coba lalu saya merasa saya sudah oke, ya saya lakukan itu. Kalau belum berhasil, saya konsultasi lagi', ya oke-oke saja," tandas wanita yang berpraktek di Rumah Sakit Siloam, Karawaci, Tangerang ini sembari tersenyum.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini