Ini Alasan Jatah Cuti Tahunan Tidak Boleh Dibiarkan Hangus

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 30 Agustus 2018 08:00 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 29 196 1943281 ini-alasan-jatah-cuti-tahunan-tidak-boleh-dibiarkan-hangus-9DanO2IK67.jpg Ilustrasi (Foto: Khaleejtimes)

TUNTUTAN pekerjaan terkadang mampu membuat seseorang kurang beristirahat. Jangankan rehat sejenak, untuk mengatur pola makan dan olahraga teratur rasanya juga tidak bisa. Malah sampai ada yang harus merelakan jatah liburnya untuk tetap bekerja. Padahal pola hidup seperti inilah yang membuat seseorang mudah terserang penyakit.

Dalam dunia pekerjaan, kita mengenal yang namanya hari libur dan cuti. Ada sejumlah orang yang terpaksa merelakan jatah cutinya hangus lantaran terus diburu pekerjaan. Bahkan tak sedikit yang memakai hari liburnya untuk segera menyelesaikan pekerjaan. Berkaitan dengan hal ini, tampaknya mesti ada perubahan.

Sebuah penelitian baru menyatakan mengambil hari libur dari pekerjaan dapat membantu seseorang untuk hidup lebih lama. Hari libur itu harus benar-benar digunakan untuk beristirahat dan melepaskan diri dari tugas serta kewajiban. Sebab meskipun orang itu berusaha diet sehat dan olahraga teratur, hal tersebut tidak cukup untuk menggantikan waktu istirahat serta membuat tubuh tetap sehat.

Sebuah penelitian yang berlangsung selama 40 tahun menyimpulkan sepertiga di antara orang yang tidak atau jarang mengambil jatah cuti tahunannya lebih mungkin untuk mati muda daripada mereka yang mengambil cuti lebih banyak. Para peneliti mengatakan waktu istirahat adalah satu-satunya kunci untuk menghilangkan stres dan memperpanjang hidup.

"Jangan berpikir memiliki gaya hidup sehat akan memberi kompensasi untuk bekerja terlalu keras dan tidak mengambil liburan. Liburan bisa menjadi cara yang baik untuk menghilangkan stres, ungkap salah seorang peneliti di University of Helsinki, Finlandia, Profesor Timo Strandberg seperti yang dikutup Okezone dari Independent, Kamis (30/8/2018).

lelah kerja

Penelitian yang dimulai pada 1970-an itu melibatkan 1.222 pria paruh baya dengan tahun lahir antara 1919-1934. Semuanya berisiko terkena penyakit jantung karena faktor-faktor seperti tekanan darah tinggi, merokok atau kelebihan berat badan. Setengah dari peserta penelitian diberi instruksi untuk berolahraga, makan dengan bijaksana, mencapai berat badan yang sehat, dan berhenti merokok. Sementara setengah lainnya tidak diberi saran tambahan.

Penelitian yang dipresentasikan pada konferensi European Society of Cardiology di Munich tersebut menemukan mereka yang diberi nasihat rutin lebih mungkin untuk mati muda. Para ahli juga mengatakan mungkin ada tekanan ekstra pada hidup peserta penelitian. Selain itu, mereka yang tidak memanfaatkan waktu cuti tahunannya memiliki kemungkinan 37% untuk mati muda 30 tahun mendatang.

Profesor Timo menjelaskan,"Kerusakan yang disebabkan oleh rezim gaya hidup intensif terkonsentrasi di subkelompok laki-laki dengan waktu liburan lebih pendek setiap tahunnya. Dalam penelitian kami, pria dengan liburan pendek bekerja lebih banyak dan tidur lebih sedikit daripada mereka yang lebih lama liburan. Gaya hidup yang penuh tekanan ini mungkin telah mengesampingkan setiap manfaat dari intervensi liburan. Kami pikir intervensi itu mungkin memiliki efek psikologis yang merugikan pada orang-orang ini karena menambah tekanan dalam hidup."

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini