nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Tradisi Keduk Beji yang Dilestarikan di Ngawi

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Rabu 29 Agustus 2018 20:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 29 406 1943217 mengenal-tradisi-keduk-beji-yang-dilestarikan-di-ngawi-MqrEyVB3IV.jpg Tradisi Keduk Beji (Foto: na_yunna1711/Instagram)

TRADISI Keduk Beji merupakan salah satu upacara adat yang ada di Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Oleh warga desa tersebut, tradisi ini dilakukan baru-baru ini di Taman Wisata Tawun.

Upacara adat ini biasanya digelar setiap hari Selasa Kliwon berdasarkan perhitungan tanggal Jawa Islam.

"Tujuannya adalah untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun sejak zaman dulu," ujar sesepuh Desa Tawun yang juga selaku Juru Silep, Mbah Wo Supomo, dikutip dari Antaranews.com, Selasa (29/8/2018).

Menurut Mbah Wo Supomo, inti dari upacara Keduk Beji adalah penyilepan dan penggantian kendi yang disimpan di pusat sumber air Beji. Pria yang akrab disapa Mbah Pomo ini juga mengatakan bahwa pusat sumber tersebut ada di dalam gua.

 (Baca Juga: Potret Kecantikan Sabina Altynbekova, Atlet Voli Putri Kazakhstan yang Memesona)

"Setiap tahunnya, kendi di dalam sumber air Beji diganti melalui upacara ini. Hal itu dimaksudkan agar sumber air Beji tetap bersih," lanjutnya.

 

(Foto: etiekeka/Instagram)

Sumber air Beji yang berada di Taman Wisata Tawun merupakan sumber air yang sangat penting bagi warga sekitar. Air dari sumber itu digunakan untuk minum, pengairan sawah, dan sumber air di taman Tawun sendiri. Karena itu, kebersihan sumbernya harus terus dijaga agar tidak mati. Terlebih saat musim kemarau seperti ini, keberlangsungan air di sumber Beji sangatlah penting.

Upacara Keduk Beji sendiri dimulai dengan melakukan pengedukan atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Kemudian seluruh warga Desa Tawun yang berjenis kelamin laki-laki dari segala usia turun ke sumber air untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir.

Selama proses pembersihan, para kaum laki-laki yang berada di sumber air Beji menari dan melakukan tradisi saling pukul dengan ranting sambil diiringi tabuhan gendang.

Kemudian, upacara dilanjutkan dengan penyilepan dan penggantian kendi di dalam pusat sumber. Orang yang berhak menyelam dan mengganti kendi di sumber air adalah keturunan dari Eyang Ludro Joyo yakni tokoh sesepuh desa yang dulunya dipercaya jasadnya menghilang di sumber Beji saat bertapa.

(Foto: na_yunna1711/Instagram)

 (Baca Juga: Tato Burung Phoenix Milik Atlet Voli Kristina Karapetyan yang Bikin Pria-Pria Gagal Fokus)

Lalu upacara dilanjutkan dengan penyiraman air legen ke dalam sumber Beji, dan penyeberangan sesaji dari arah timur ke barat sumber. Kemudian, ditutup dengan selamatan dan makan bersama berkat dari Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon yang telah disediakan bagi warga untuk mendapatkan berkah.

Bupati Ngawi Budi Sulistyono mengatakan, selain melestarikan sumber air, upacara Keduk Beji juga merupakan ikon wisata budaya Pemkab Ngawi.

"Keduk Beji telah menjadi salah satu budaya yang khas di Ngawi. Selain itu, agenda Keduk Beji sudah menjadi identitas daerah Ngawi. Kewajiban kita untuk melestarikanya," katanya.

Sementara, setiap tradisi itu digelar, ribuan wisatawan selalu berkunjung ke Taman Tawun, Ngawi, tempat di mana upacara tersebut dilakukan. Mereka berasal dari wilayah Ngawi, Madiun, Magetan dan daerah sekitarnya.

(tam)

Berita Terkait

Tradisi di Indonesia

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini