Kemen PPPA : Anak Korban HIV/AIDS Akan Dilindungi Undang-Undang

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 30 Agustus 2018 18:38 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 30 196 1943749 kemen-pppa-anak-korban-hiv-aids-akan-dilindungi-undang-undang-DzA1pVWgNU.jpg Ilustrasi (Foto: Time)

SELAIN masalah stunting dan vaksin yang sempat heboh beberapa waktu lalu, Indonesia juga dihadapi isu HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus). Isu ini tidak hanya menjadi masalah perorangan, tetapi sudah menjadi masalah nasional bahkan internasional.

Dari tahun ke tahun, jumlah penderita HIV/AIDS selalu bertambah dan tidak hanya dialami oleh orang-orang dewasa, tetapi juga pada usia anak. Pada tahun 2016 saja, di Indonesia tercatat sudah lebih 36,7 juta jiwa penderita HIV/AIDS.

Salah satu faktor penyebabnya adalah hubungan heteroseksual yang menduduki peringkat tertinggi. Jumlah penderita laki-laki bahkan diketahui lebih banyak dibandingkan perempuan dengan perbandingan 65% : 35%. Konsentrasi konsentrasi penderita di kota-kota besar di ibukota Provinsi.

Data dari P2PL Kementerian Kesehatan RI, menunjukkan bahwa pada tahun 2017 penderita terbanyak terdapat di DKI (48.502 orang), diikuti Jatim (35.168 orang), Papua (27.052 orang), Jateng (19.272 orang) dan Bali (15.873). Pengidap terbanyak berada pada usia produktif antara 20 - 30 tahun.

Pasca 2016, situasi menjadi semakin memprihatinkan dan makin mengkhawatirkan karena ditemukan faktor penyebab “Tak Diketahui” yang menjadi lebih dominan, seperti terungkapnya isu degradasi moral kemanusian. Misalnya longgarnya kesetiaan dalam hubungan suami istri, prostitusi yang semakin marak, penggunaan narkotika, dan tak kalah mirisnya juga melibatkan usia anak.

Ini menjadi tantangan yang sangat berat karena di dalam tujuan berkelanjutan (SDGs), salah satu indikator pada poin 3.3 adalah kesehatan yang baik. Hal tersebut tentu akan menjadi cukup berat karena untuk mengakhiri epidemic AIDS sebagai HIV/AIDS pada penderita tidak mudah.

HIV

Padahal, jika melihat mandat SDGs pada tahun 2030, masyarakat dunia seharusnya sudah bebas HIV/AIDS, termasuk untuk kalangan di usia anak-anak. Ketiga target yang dimaksud pada poin tersebuat adalah bebas infeksi HIV baru, bebas diskriminasi dan stigma pada pengidap HIV, serta bebas kasus kematian akibat AIDS.

Permasalahan utama yang sering dihadapi dalam penanganan HIV/AIDS antara lain sulitnya melakukan upaya pencegahan dini karena tidak semua pengidap HIV/AIDS mau, atau berani memeriksakan dirinya ke lembaga layanan.

“Penularan akan terus berlangsung dan makin lama makin menjadi lebih besar, termasuk dikalangan usia anak bahkan sampai bayi dan atau janin yang masih dalam kandungan juga mengalami penularan melalui berbagai media atau vector,” tegas Yohana.

Pada Pasal (59) UU Perlindungan Anak disebutkan bahwa anak korban HIV/AIDS, harus diberikan perlindungan khusus. Pasal (67 C) juga menyebutkan bahwa Perlindungan khusus bagi anak dengan HIV/AIDS dilakukan melalui upaya pengawasan, pencegahan, pengobatan, perawatan dan rehabilitasi.

Untuk melakukan fungsi tersebut, negara harus hadir dalam upaya pencegahan dan penanganan anak korban HIV/AIDS. Selain itu, masyarakat perlu dilibatkan pada setiap tahapan terutama pada aspek pencegahannya.

Dengan adanya rangkaian Kampanye Bersama Lindungi Anak “Kilau Generasi HIV/AIDS sekaligus Peringatan Hari Anak Nasional tingkat Kota Gorontalo, Menteri Yohana berharap dapat menggugah dan meningkatkan kepedulian semua kalangan akan pentingnya peran, tugas dan kewajiban masing-masing dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan hak anak.

“Semoga kampanye ini membukakan mata hati kita, bahwa Anak Korban HIV/AIDS itu memang benar adanya dan perlu dicarikan solusi yang berdasar pada “Kepentingan Terbaik Bagi Anak” dan menghargai hak-hak lainnya yang melekat pada anak,” tukasnya.

(hel)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini