nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Asal Mula Nama Tengger Dibalut Kisah Mistis yang Kental

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 30 Agustus 2018 20:53 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 08 30 196 1943812 asal-mula-nama-tengger-dibalut-kisah-mistis-yang-kental-N3qjNJG7PG.jpg Taman Nasional Bromo (Foto: Malangkab)

SEMUA warga Indonesia pasti mengenal objek wisata Gunung Bromo. Ya, tempat wisata ini memang terkenal karena hamparan pasir yang sangat luas di sekitar gunung. Selain itu pemandangan indah juga tersaji di tempat ini, Anda bisa menikmati sunrise dari atas ketinggian gunung dengan view yang sangat menakjubkan.

Saking indahnya, wisata Gunung Bromo ini bahkan sempat difilmkan dengan judul Pasir Berbisik pada era 2000 an. Anda juga bisa berkuda di daerah ini dan menikmati sensasi hamparan pasir yang seakan berdesis di telinga Anda.

Tak hanya menjadi destinasi wisata yang sangatr bagus, Bromo memiliki kisah yang sangat erat dengan kekuatan magisnya. Masyarakat yang tinggal di dekat Gunung Bromo disebut dengan suku Tengger. Mereka kerap mengadakan ritual persembahan yang dilakukan secara turun-temurun.

Merangkum dari laman resmi pemerintah Pasuruan, sejarah tengger sendiri dimulai kurang lebih pada 1.115 masehi atau 1.037 saka, tepatnya pada masa pemerintahan kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Raja Erlangga. Pada zaman itu hiduplah sebuah resi yang memiliki kesaktian tingkat tinggi bernama Resi Musti Kundawa/Resi Kandang Dewa.

Resi tersebut memiliki empat orang anak yakni Joko Lanang, Dewi Amisani, Joko Senger, dan Dani Saka. Dari keempat putranya, Joko Seger-lah yang mewarisi ilmu dan pusaka Kiai Gliyeng dari sang ayah. Alhasil ia menjadi pendekar terpilih yang sakti mandraguna.

Sementara pada masa kerjaaan Kediri ada sebuah kadipaten yaitu Kadipaten Wengker yang dipimpin oleh Adipati Surogoto. Ia memiliki seorang puteri cantik bernama Dewi Ratna Wulan yang cantik jelita, nahas ia memiliki penyakit dari kecil hingga dewasa dan tidak ada satu orang pun yang bisa menyembuhkannya. Alhasil Adipati mengadakan sayembara untuk menyembuhkan puterinya.

Singkat cerita Joko Senger mendengar hal itu dan memutuskan untuk ikut sayembara. Dengan kesaktiannya Joko Senger bersemedi dan mendapat ilham bawa sang Dewi bisa sembuh dari ramuan yang terbuat dari buah delima. Sang dewi akhirnya sembuh dengan ramuan Joko Senger dan mengubah namanya menjadi Loro Anteng.

Melihat anaknya sembuh, Adipati Surogoto senang dan berencana untuk menikahkan anaknya dengan Joko Senger. Setelah menikah mereka memiliki masalah baru dengan kesulitan memperoleh momongan hingga akhirnya mereka sepakat mengadakan semedi di Sanggar Pamujan.

Dari hasil semedi, ia diberi wangsit untuk pergi menuju Oro –oro Ombo. Setelah melewati perjalanan sulit, mereka pun berhasil mencapai tempat keramat tersebut dan kembali melakukan semedi. Mereka mendapat tanda bahwa akan dikaruniai sebanyak 25 orang anak dalam waktu 44 tahun. Namun syaratnya adalah anak terakhirnya harus rela dibiarkan tinggal di Bromo.

wisata gunung bromo(Foto: Volcanosiedu)

Setelah 16 tahun lamanya, mereka pun dianugerahi sembilan orang anak. Tapi Joko Senger dinilai telah melakukan kesalahan karena tak juga mengunjungi Bromo. Ia pun mendapat titah bahwa harus membawa anak-anaknya yang sudah dewasa. Titah itu pun lantas dilaksanakannya dengan baik.

Sesuai dengan perjanjian sebelumnya, anak ke-25 yang lahir pun langsung terbang oleh api yang membara ke Bromo. Joko Seger pun memberikan pesan kepada ke-24 anaknya bahwa inilah takdir yang harus dilalui karena meminta keturunan. Ia berharap anak-anaknya bisa mengunjungi adik bungsunya ke Gunung Bromo selama bulan Asi dengan membawa sesajen, bekal makanan dan hasil bumi untuk diberikan kepada Kesuma. Inilah yang menjadi cikal bakal adat Kasodo.

taman nasional bromo

Kisah perjalanan Joko Senger dan Roro Anteng ini ditanam di sekitar Oro-oro Ombo yang disebut Jimat Idontong. Kala itu raja Majapahit, Prabu Wijaya yang ingin memperlebar kekuasaanya mendapat wangsit untuk mencari Jimat Idontong.

Melihat hal tersebut Ki dadap Putih selaku penguasa Oro-oro Ombo tak tinggal diam. Ia lantas menyuruh anak buahnya mencari jimat tersebut. dengan susah payah jodhog tersebut bisa diangkat dan ia memerintah timnya untuk menyimpan jimat tersebut ke dua tempat berbeda yang disebut dengan Brang Kulon dan Brang Wetan.

Pada waktu usaha melakukan pencarian jimat kiontong yang ditandai dengan matinya obor sampai tiga kali itulah ki dadap putih mengatakan bahwa itu adalah tetenger/tenger. Kata inilah yang lahir menjadi sebutan Tengger hingga saat ini

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini