nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Asyiknya Mencicipi Satai Tuna Ditemani Deburan Ombak dan Langit Senja di Gorontalo

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 30 Agustus 2018 10:17 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 30 298 1943448 asyiknya-mencicipi-satai-tuna-ditemani-deburan-ombak-dan-langit-senja-di-gorontalo-uAcLlnRT3Y.jpg Ilustrasi Sate. (Foto: Gogirl)

BERLIBUR ke suatu tempat tidak lengkap rasanya jika belum mencicipi kuliner khas lokal. Apalagi Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang dianugerahi keragaman budaya. Tak heran jika setiap daerah memiliki berbagai olahan kuliner tradisional dengan keunikannya masing-masing.

Sebut saja Gorontalo. Para pencinta kuliner Nusantara tentu sudah tidak asing lagi dengan sederet kuliner khasnya. Mulai dari binthe billuhuta, ilabulo, hingga olahan satai tuna yang sedang booming di kalangan wisatawan.

Belum lama ini, Okezone berkesempatan mencicipi langsung satai tuna di sebuah rumah makan di Pantai Indah, Gorontalo. Adalah Rumah Makan RATU (Raja Tuna), yang digadang-gadang sebagai pelopor kuliner unik tersebut.

Sore itu, Okezone dan rombongan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), memesan sejumlah menu makanan yang terdiri dari olahan satai tuna, tumis kangkung, sayur paku (pukis), telur tuna goreng, dan sop ikan tuna.

Baca Juga: Google Maps Tangkap Penampakan Hantu Anak Kecil & Orang Berjubah di Pemakaman, Bikin Bulu Kuduk Berdiri!

Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, aroma harum mulai tercium samar-samar dari balik pintu. Benar saja, ibu Wanti Halada selaku pemilik rumah makan, telah datang bersama dua stafnya untuk menyajikan pesanan kami.

Sambil ditemani deburan ombak dan langit senja, kami mulai menyantap satu persatu hidangan tersebut. Untuk olahan satai tuna sendiri rasanya memang terbilang unik. Sensasi manis dan gurih tiba-tiba menyeruak ketika potongan daging tuna masuk ke dalam mulut.

Padahal, menurut penuturan Santi Akhir, selaku jurus masak, bumbu yang digunakan untuk mengolah satai hanya terdiri dari campuran kecap manis, garam, dan air perasan lemon.

"Bumbunya cuman tiga jenis itu, m kami memang menggunakan tuna yang benar-benar masih segar. Tapi kalau untuk proses pengolahannya, saya bakar biasa saja dengan api kecil agar daging matang secara merata," ujar Santi.

Baca Juga: Diabaikan Pelayan, Video Wanita Pesan Nasi Pakai Mikrofon Ini Jadi Viral

Menu lainnya pun tidak kalah lezat. Tumis kangkung bawang putih kala itu menjadi primadona ke dua setelah satai tuna. Selain karena tekstur sayurnya yang masih renyah dan segar, rasa serta aroma makanan ini semakin nikmat karena diolah menggunakan minyak kelapa tradisional.

Beralih ke menu selanjutnya, ada olahan kuah asam yang diolah menggunakn tulang dan ikan tuna, lalu direbus bersama potongan tomat segar, daun jeruk, dan daun kemangi. Sensasi rasa segarnya memang sangat cocok untuk menyegarkan mulut setelah kalap menyantap satai.

Menurut Wanti Halada, selaku pemilik Rumah Makan RATU, menu satai tuna ini pada awalnya tidak dijual untuk umum. Ide itu muncul ketika seorang wartawan kebingungan mencari makanan saat sedang meliput.

"Dulu ibu saya cuman jual nasi kuning. Terus wartawan itu datang dan melihat keluarga kami sedang makan satai tuna. Kami tawari saja. Ternyata dia suka, akhirnya diberitakan, dan mulai banyak pengunjung yamg berdatangan," jelas Wanti.

Semenjak kejadian itu, rumah makan Ratu berhasil meraih omzet bersih sekitar Rp10 juta per hari. Angka tersebut bisa meningkat dua kali lipat di musim liburan. "Hari biasa kaya Sabtu dan Minggu itu bisa sepuluh jutaan lebih. Kalau musim liburan itu bisa berlipat-lipat, karena banyak wisatawan asing juga yang datang," ungkap Wanti.

"Tapi dari sekian banyak orang yang datang, grup band Slank yang rutin mampir ke sini kalau lagi manggung di Gorontalo. Kalau kemarin, pas Ibu Susi (Menteri Perikanan) datang, kami yang mengantar makanan ke hotelnya," tukasnya.

Bagaimana Okezoners? Tertarik untuk mencobanya. Tidak perlu khawatir, harganya cukup terjangkau. Untuk olahan satai tuna Anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp4 ribu per tusuk. Tak mahal bukan?

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini