nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kuras Energi Susuri Belahan Hutan Papua dari Manokwari-Teluk Bintuni

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 30 Agustus 2018 21:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 08 30 406 1943814 kuras-energi-susuri-belahan-hutan-papua-dari-manokwari-teluk-bintuni-xeOgLsEHak.jpg Memacu adrenalin berkendara di Papua (Foto:Dewi/Okezone)

KAWASAN Papua sebagian besar terkenal dengan jalur hutannya. Nah, saat ingin melakukan perjalanan antar kabupaten, tidak hanya mudah dijangkau dengan jalur udara. Kalau kamu berani dan punya ekstra energi, lebih seru pakai mobil melintasi jalur darat.

Okezone hendak melintasi Kabupaten Manokwari menuju ke Kabupaten Teluk Bintuni. Jika melewati jalur darat bisa ditempuh sekira 50 menit, untuk menambah pengalaman akan seru dengan mobil SUV sekelas Toyota Hilux. Perjalanannya memakan waktu sekira 7 jam, karena jaraknya jauh dan aksesnya tidak mulus.

Pagi itu sekira pukul 09.00 WIT, mobil siap menjemput di hotel. Rombongan media pun berangkat menyusuri hutan Papua yang penuh misteri. Satu mobil berpenumpang empat orang dan satu juru pengemudi.

Cuaca tengah bersahabat dan tidak berharap hujan di jalan. Kalau tiba-tiba hujan, duh gawat! Jalanan bisa berlumpur, basah, licin dan memakan waktu tempuh lebih lama.

Saatnya berangkat dan tak lupa membaca doa. Kami akan menyusuri jalur Manokwari, Manokwari Selatan dan tiba di Teluk Bintuni.

 

Sepanjang perjalanan disuguhi areal hutan hijau yang luas. Kanan bukit hijau, sebelah kirinya lautan luas. Benar-benar panoramanya memanjakan mata, karena jarang sekali mata melihatnya.

Satu jam melewati perkampungan warga dan ada hamparan kebun cokelat di sepanjang jalan. Lalu, masuklah ke kawasan Gunung Botak yang semakin tak terlihat pemukiman warga.

Jalannya kelok-kelok, menemui tikungan tajam, tetaplah sopir tak melepas setir dan rem. Mobil berjalan kencang dengan kecepatan antara 80-100 km/jam. Wus, tarik gas!

Perjalanan yang memusingkan memang dan siap-siap menguras energi. Bisa-bisa kalau tubuh tidak fit, Anda rentan mengalami mabuk darat.

Lumayan seru perjalanan ini meski baru melewati waktu tiga jam. Di tengah kawasan Gunung Botak, di sebelah kirinya jalan ada pantai yang indah berpasir pink saat dilihat dari atas bukit.

Berhentilah kami di sana untuk rehat sejenak dan memuaskan mata setelah ngebut di jalan. Tak mau ketinggalan, banyak spot cantik untuk foto dan tidak akan berhenti mengucap Masya Allah!

Ternyata belum ada apa-apanya perjalanan itu dan kami akan menghadapi jalanan tanah yang berlumpur. Wus, mobil pun melambung kencang kembali menyusuri bukit dan laut.

Ada tikungan letter S yang cukup memacu adrenalin. Beruntung sopirnya sudah lihai dan melakukan mulus. Tidak lama lagi, kami akan meninggalkan lautan dan masuk ke gerbang pintu angin.

Konon, spot itu penuh misteri, karena beberapa waktu lalu masih banyak kecelakaan setiap tahun. Setiap tahun terjadi 3-4 kali kecelakaan yang menelan nyawa korban.

Ah, sudahlah lupakan, mulai lagi melanjutkan perjalanan dan jam terus berputar. Saatnya melewati jalan tanah berlumpur, tepat di Manokwari Selatan. Lokasi ini benar-benar kami nantikan, meski semakin menguras energi.

Beruntung tidak hujan, maka mobil berjalan lancar. Di beberapa titik ada spot jalan yang berlumpur, mobil benar-benar siap mengambil posisi supaya tidak slip.

Sopirnya pun terus mengambil ancang-ancang supaya penumpang aman. Bersyukur satu tantangan pertama terlewati. Rupanya masih banyak lagi jalan yang rusak.

Sebenarnya jalan yang belum diaspal itu jaraknya hanya dua kilometer. Namun karena melambat, waktu tempuh lumayan lama sekira 1,5 jam.

Di tengah hutan masih ada pemukiman warga yang cukup membuat kami tenang. Semisal mau ke toilet pun bisa berhenti sebentar. Begitu susahnya mencari tempat persinggahan untuk rehat saat melanjutkan perjalanan.

 

Di tengah perjalanan, ada satu jembatan yang hanya dibuat dari kayu tebal. Kondisinya saat kita lewati sedang berlumpur. Lagi-lagi harus tepat tarik gas agar tidak tergelincir.

Tak jauh dari jembatan itu, jalanan kembali mulus. Mobil kembali melintasi jalan aspal untuk tiba di akhir gerbang hutan. Sekira dua jam, akhirnya tiba di perbatasan gerbang masuk Teluk Bintuni.

Tapi jangan bahagia dulu, karena untuk menuju pusat keramaian masih ada waktu sekira 45 menit. Terlepas dari itu, perjalanan panjang ini menyenangkan dan menambah pengalaman baru.

Jika Anda ingin mencoba perjalanan ini bisa menyewa mobil seharga Rp2 juta sekali jalan. Kalau mau per orang bisa membayar Rp500 ribu, tapi harus menunggu penumpang lainnya.

Menariknya, mobil tersebut sudah menjadi angkutan umum yang sering ditumpangi penduduk di Papua Barat. Mobil itu fungsinya tak hanya mengangkut penumpang, tapi juga barang bawaan yang jadi kebutuhan sehari-hari.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini