nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kurangi Efek Buruk pada Anak, 4 Kementerian Ingin Batasi Penggunaan Ponsel!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 31 Agustus 2018 11:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 08 31 481 1944023 kurangi-efek-buruk-pada-anak-4-kementerian-ingin-batasi-penggunaan-ponsel-d55V4n4ZbU.jpg Sinergi Kementerian (Muhammad Sukardi/Okezone)

ANAK-ANAK sudah semakin dekat dengan sikap adiktif ponsel pintar atau gawai. Mereka sepertinya lebih merasa bahagia ketika bermain sendiri dengan ponselnya.

Ini adalah masalah serius. Fenomena ini tidak bisa dibatasi begitu saja. Sebab, kemajuan teknologi pun harus diperkenalkan kepada anak. Makanya, perlu adanya pembatasan mengenai penggunaan ponsep pada anak.

Menurut data yang dipaparkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, ada 60% anak-anak di Indonesia menggunakan ponsel lebih dari 3 jam. Fakta ini mengkhawatirkan, karena menunjukan bahwa anak-anak sekarang banyak yang sudah tidak bisa lepas dari ponsel. Salah satu contohnya ketika anak Anda sedang asyik bermain ponsel dan Anda ingin mengambil gawainya, si anak menangis.

 Baca juga: Anak Anda Disleksia? Kenali dan Ini Cara Mengatasinya!

Nah, untuk mengatasi masalah ini, 4 kementerian berkomitmen bersama untuk membatasi gawai. Adalah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Agama, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 Sinergi Menteri soal Gawai (Ardi/Okezone)

Pada keterangan resminya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menjelaskan, sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk bisa membatasi gawai pada anak. Alasan utamanya adalah banyaknya masalah yang ditimbulkan dari ketergantungan ponsel pada anak.

"Banyak penelitian menjelaskan bahwa cahaya yang dipaparkan gawai mengakibatkan gangguan otak, kanker, tumor, parkinson, dan banyak masalah lainnya. Efek yang lebih mengkhawatirkan adalah perubahan perilaku dan yang paling mengancam adalah perilaku menyimpang dan paparan seks bebas," ungkap Menteri PPPA saat diwawancarai Okezone di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Jakarta, Jumat (31/8/2018).

 Baca juga: Viral Aksi 'Jangan Bersedih Brader' Seorang Bocah, Ekspresinya Bikin Sakit Perut

Menteri Yohana melanjutkan, dengan adanya statement resmi 4 kementerian ini, diharapkan penggunaan gawai pada anak-anak bisa dibatasi. "Dengan adanya statement ini, maka kedepannya bisa mengimplementasikan di setiap sekolah dan madrasah. Kemudian, diharapkan muncul batasan batasan mengenai penggunaan gawai pada anak-anak. Semoga juga keluar rekomendasi mengenai pengawasan penggunaan gawai ini. Kita juga berharap muncul keputusan menteri untuk bersama-sama mengawasi penggunaan gawai," papar Menteri Yohana.

Kemudian, menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara S.Stat, MBA, pihaknya telah melakukan pembatasan dengan memblokir banyak konten pornografi di internet. "Saya pastikan, sekarang 95% internet steril dari konten pornografi misalnya foto," terang Menteri Rudiantara di momen yang sama. Upaya ini telah dilakukan pada 10 Agustus 2018.

 Sinergi Menteri soal Gawai (Ardi/Okezone)

Jadi, Menteri Rubiantara menegaskan bahwa jika Anda memang pengin menonton atau mengakses pornografi, jangan lakukam itu di Indonesia. "Ketika mereka bilang ini hak saya, maka kita akan bilang kita ingin melindungi anak-anak. Kalau mau menikmati pornografi, keluar negeri saja!" tambahnya.

Di lain sisi, bagaimana dengan upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan?

 Baca juga: Mengenal PV Sindhu, Pebulutangkis Cantik dengan Bayaran Tertinggi ke-7 di Dunia

Diutarakan Chatarina Muliana G, Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sudah ada peraturan mengenai peraturan membawa ponsel ke sekolah. "Di beberapa sekolah memang ada yang diperbolehkan membawa ponsel. Tapi, di kawasan sekolah, ponsel disimpan oleh gurunya. Jadi, kalau memang ada kepentingan mendesak, maka bisa pakai telepon sekolah," ungkapnya.

Namun, di beberapa sekolah juga ada yang melarang membawa ponsel. "Tapi, kalau memang ada kebocoran peraturan, Kemendikbud tidak bisa melakukan tindakan karena terhalang oleh regulasi Kementerian Dalam Negeri yang bisa menindak masalah ini," tambah Chatarina.

Sementara itu, dari pihak Kementerian Agama, Prof. Hj. Abd. Rahman Mas'ud. Ph. D, Kepala Bidang Litbang dan Diklat, Kementerian Agama, menjelaskan bahwa konten yang tidak diperbolehkan dikonsumsi anak-anak sebetulnya bukan hanya pornografi, tapi juga radikalisme dan kalimat kebencian.

"Upaya kami terus berusaha untuk menghindari masyarakat dari paparan negatif ini dan tentunya untuk melindungi anak-anak dari paparan masalah-masalah ini. Pernyataan resmi ini menjadi momen untuk kami semakin serius menjaga penerus bangsa," katanya.

(rzy)

Berita Terkait

Bahaya Gawai

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini