Tak Lakukan Vaksin HPV di Usia Remaja Sebabkan Masalah Serius, Ini Bukti Penelitiannya!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 03 September 2018 11:37 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 03 481 1945137 tak-lakukan-vaksin-hpv-di-usia-remaja-sebabkan-masalah-serius-ini-bukti-penelitiannya-Y4SCEHb7h2.jpg Ilustrasi (Foto: Medicaldaily)

HUMAN papillomavirus adalah infeksi menular seksual yang sangat umum, tetapi juga berpotensi mematikan. Di sisi lain, ada fakta yang semakin membuat frustasi bagi mereka di bidang kesehatan, karena selama lebih dari satu dekade, ada cara yang aman dan sederhana untuk mencegahnya, tetapi terlalu banyak orangtua yang tidak mengambil risiko seserius yang seharusnya.

Sekarang, sebuah studi baru menunjukkan fakta bahwa menolak vaksin HPV pada anak perempuan Anda adalah kesalahan yang berbahaya dan ini dapat mengorbankan hidupnya! Ya, tidak melakukan vaksin HPV bisa menyebabkan masalah yang lebih serius pada kesehatan.

Dilansir dari Okezone dari Romper, Senin (3/9/2018), terkait dengan vaksin HPV ini, nyatanya pernah ada kasus penipuan yang mana terjadi pemalsuan penelitian yang mengaitkan vaksin dengan autisme. Penelitian ini menjelaskan bahwa ada segmen dari populasi yang semakin waspada terhadap imunisasi - hal yang menyelamatkan jiwa - dan mereka menolak salah satu kemajuan medis paling berharga dalam sejarah ini.

Alhasil, dampak yang terjadi adalah tingginya angka penundaan vaksin hingga tingginya angka anti-vaksin. Kebanyakan dari mereka merasa takut akan "bahan kimia" yang dianggap salah tempat itu. Tetapi, yang mesti diketahui di sini ialah komposisi vaksin bukan komposisi makanan rumahan. Penemuan ini dikembangkan dengan hati-hati oleh para profesional medis yang terlatih. Jadi, tidak usah khawatir!

Sedikit informasi, menurut Centers for Disease Control HPV adalah infeksi menular seksual yang paling umum di Amerika Serikat. Masalah ini sangat umum, tapi pada kenyataannya, bahwa hampir semua pria dan wanita yang aktif secara seksual berisiko terkena virus ini.

Hal yang perlu diperhatikan juga ialah banyak kasus HPV yang tidak menunjukkan gejala dan tak sedikit juga yang sembuh tanpa intervensi, tetapi yang lain dapat menyebabkan kutil kelamin hingga kanker. Dari 2013 hingga 2014, 42,5 persen orang dewasa AS yang berusia 18 hingga 59 tahun memiliki beberapa jenis infeksi HPV persisten.

vaksin HPV

Pengenalan vaksin HPV telah sangat membantu dalam mengendalikan virus; Prevalensi HPV turun sekitar sepertiga di antara 20 hingga 24 tahun pada 2009 hingga 2012, dibandingkan dengan tingkat selama 2003 hingga 2006, sebelum vaksin itu ada. Di antara usia 14 hingga 19 tahun, prevalensi menurun lebih dari setengah. Tetapi anak-anak berusia 25 hingga 29 tahun tidak melihat penurunan yang berarti sama sekali.

Menurut National Survey of Family Growth, usia rata-rata di mana wanita AS pertama kali berhubungan seks ialah di atas 17 tahun yang berarti bahwa jika putri Anda harus menunggu sampai dia dewasa untuk membuat keputusan sendiri tentang vaksin HPV, secara statistik, mungkin sudah terlambat.

Vaksinasi masih dapat efektif mencegah penyakit pada wanita yang rentan HPV, tetapi usia saat mereka pertama kali menerima vaksin, serta berapa lama mereka menunda vaksinasi setelah pertama kali terlibat dalam aktivitas seksual, memegang peranan penting.

Komite Penasehat CDC tentang Praktik Imunisasi merekomendasikan vaksinasi HPV rutin mulai pada usia 11 atau 12 tahun, meskipun disetujui untuk anak-anak berumur 9 tahun. Dosis kedua dan ketiga harus diberikan dalam 6 bulan ke depan agar perlindungan penuh untuk bisa dipantau efeknya. Tetapi pada 2017, 51 persen anak-anak usia 13 hingga 17 tahun masih belum menyelesaikan seri vaksin HPV lengkap dan 34 persen bahkan belum mendapat dosis pertama. Mereka yang tidak divaksinasi pada usia yang tepat masih didorong untuk memulai seri hingga usia 26 tahun. Namun setiap tahun mereka menunggu (dengan asumsi mereka aktif secara seksual) dan ini bisa meningkatkan risiko tertular virus.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di Lancet membandingkan status vaksinasi HPV, dan usia inokulasi pertama yang dilakukan pada wanita yang didiagnosis dengan neoplasia intraepitel neural atau kanker. Dari 4.357 kasus dan 21.773 subyek kontrol, usia termuda pada saat vaksinasi pertama adalah 14 tahun. Mereka yang telah menerima setidaknya tiga dosis, mulai antara usia 14 dan 20, memiliki perlindungan terbaik, sementara "tidak ada perlindungan signifikan yang ditemukan pada wanita berusia 21 tahun atau lebih pada saat dosis pertama."

Mungkin beberapa tidak mau mengaku pada diri mereka sendiri bahwa anak mereka yang tidak bersalah mungkin akan berhubungan seks suatu hari nanti. Mungkin mereka (salah) berpikir bahwa memberikan anak perempuan mereka vaksin HPV entah bagaimana "mendorong" dia untuk berhubungan seks dan jika mereka tidak melakukannya, dia akan menunggu sampai dia lebih tua. Apa pun alasan mereka, mereka perlu tahu bahwa menolak vaksin HPV akan membahayakan kesehatannya dan itu adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh orang tua!

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini