nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Edukasi Seks Sejak Dini Hindarkan Anak dari Hubungan Seksual Tidak Aman

Annisa Aprilia, Jurnalis · Selasa 04 September 2018 16:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 09 04 196 1945841 edukasi-seks-sejak-dini-hindarkan-anak-dari-hubungan-seksual-tidak-aman-RgqtcdXcyY.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

ZAMAN yang kian modern dan mudahnya mendapatkan segala informasi terkait seksualitas menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orangtua. Tapi, jika ditarik benang mundur lebih jauh sebelum akses internet mudah, pembahasan soal seksual memang cukup tabu bagi masyarakat Indonesia, padahal pelaksaannya tidak tabu.

Psikolog Klinis Inez Kristanti mengungkapkan, di Indonesia, seksualitas tidak tabu untuk dilakukan, tapi tabu untuk dibicarakan. Padahal, dampak dari ketabuan tersebut bisa membuat hal yang lebih parah lagi dari sekadar menutupi atau menghindari pembicaraan soal seks. Sepele memang, tapi salah satunya bisa membuat anak mencaritahunya diam-diam hingga melakukan seks dengan cara yang tidak aman dikemudian hari.

“Ada banyak pertanyaan yang masuk di dm (direct message) Instagram saya, menanyakan, ‘Kalau keluarin di luar apakah masih perlu cek kesehatan kelamin?’. Pertanyaan ini menandakan melakukan tapi enggak tahu risikonya, padahal meskipun sperma dikeluarkan tidak di dalam tubuh perempuan, pengecekan kelamin tetap perlu dilakukan. Ada juga yang bertanya, ‘kalau masturbasi keseringan apakah bisa terkena AIDS?’ dan ada pula ‘Pacarku kalau enggak seks katanya pusing dan aku harus bertanggungjawab karena membuat dia pusing,’ ini menandakan tidak punya cara untuk bernegosiasi, padahal pengetahuan soal seks tidak hanya seputar melakukannya saja, tapi juga cara untuk berhubungan secara sehat,” ungkap Inez Kristanti, M. Psi, Adult clinical psychologist, dalam pemaparannya di Konferensi Pers Peluncuran Kampanye Kesehatan Reproduksi Remaja #AkuDewasa, Selasa (4/9/2018), Jakarta.

 

 (Baca Juga:Kenali Phobia Kecoa dan Cara Mengatasinya, Anda Alami Gak?)

Lebih lanjut, menurut Inez pembahasan seks di Indonesia dianggap tabu karena kebanyakan dan keseringan seks dianggap hal yang membahayakan, dosa, dan jorok. Padahal, seksualitas adalah kebutuhan dasar dalam psikologis, tinggal bagaimana kita sebagai manusia yang mengakui nilai-nilai bertanggung jawab tentang yang kita lakukan itu.

Menurut penelitian, cara mengedukasi dengan menakuti-nakuti justru tidak menghalangi untuk tetap melakukan seks, dibandingkan dengan cara yang komprehensif, menjelaskan tentang risiko, alat kontrasepsi, dan pengaman.

"Yang menakuti tidak terlalu efektif, karena kebutuhan seks dalam psikologi adalah kebutuhan dasar, kalau ditakuti tetap dicari tahu apalagi remaja, mereka akan mencari tahu dari internet atau teman sebaya, dan tempat yang salah karena tidak ada wadah nyaman dan aman, serta orang yang kredibel untuk bicarakan seks secara komprehensif dan tidak memberikan ruang untuk remaja tanyakan apa saja,” imbuhnya.

 (Baca Juga:Viral Foto Makanan Mirip Mr P, Bikin Netizen Gagal Fokus)

Akhirnya dengan informasi yang tidak tepat, di kemudian hari saat melakukan hubungan seks, mereka akan menjadi kebanyakan orang yang melakukan seks tapi tidak tahu cara yang baik dan aman, tidak pakai pengaman, dan tidak cek kelamin di klinik secara rutin. Maka, untuk mencegah hal-hal tersebut Inez menyarankan untuk bersikap ramah dan komprehensif, menyampaikan risiko dan alternatif dengan tidak menghakimi, tapi memberi solusi, beri pilihan pada remaja, dan tidak menakut-nakuti.

“Banyak pertanyaan ‘Kalau dikasih tahu, diberi pilihan, dan dikasih tahu soal pengaman mereka malah melakukan, bagaimana?’. Tapi, kalau menakut-takuti tetap saja dilakukan, sebenarnya hal tersebut jadi tanggung jawab masing-masing pribadi, dan orang dewasa punya tanggung jawab untuk memberitahu pengetahuan keputusan untuk remaja terkait seks. Maka berikan pendidikan reproduksi sepanjang hidup, tapi sesuai dengan kategori tertentu menurut umur, misal anak kecil paling tidak mengetahui batas orang lain menyentuh tubuhnya dan berani untuk mengatakan tidak atau melaporkannya pada orangtua atau dewasa lain,” pungkas Inez.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini